Posted in motherhood, motivasi, tips keuangan

Tips Mengatur Keuangan Keluarga ala Nyonya Bayuaji

pkyt8l4rt5jbc1qg8fdf
Mengedepankan kebutuhan, mengevaluasi keinginan

Sebagai gadis yang tak lagi melajang (biar anak udah satu, wajah tetap masih gadis kok, heu…  wae) , satu hal yang lazimnya menjadi amanah setiap perempuan bersuami, adalah mengatur keuangan keluarga. Nah, urusan uang ini, memang gampang-gampang susah.  Pasalnya, masalah finansial katanya sering jadi isu sentral penentu keharmonisan rumah tangga (katanya itu juga, katanya.. saya belom ngecek statistiknya juga sih).

Sebelum menikah dulu, saya termasuk orang yang nggak terlalu boros dalam berbelanja, apalagi belanja baju (tapi kalo liat online shop, mata suka ijo juga sih kalo liat blus atau cardigan lucu, hahaha, sama aja dong). Tapi ngga sih, saya anaknya termasuk yang sering mempertanyakan kebutuhan dibanding keinginan ketika akan membeli suatu barang. Walaupun, tidak demikian, kalau untuk urusan makan, hahaha. Prinsip makan untuk bertahan hidup tetap saya pegang sampai sekarang. Seenak dan semahal apapun, pasti saya jabanin (sesekali doang, kalau harganya masih reasonable.. Tapi kalo harganya udah sampe jutaan buat makan shabu-shabu kuah susu di hotel seperti yang pernah saya alami itu, mending ngga deh. Kalo harus bayar sendiri mah mending uangnya buat beli henpon baru, xixixi).

Mayoritas pengeluaran saya ketika masih single dan bergaji, adalah lebih ke pengeluaran gaya hidup. Selain bayar uang kos, gaji saya paling habis buat makan-makan, ngopi bareng temen, nonton bioskop, nraktir keluarga (kadang-kadang doang sih, seringnya ujungnya Papa juga yang bayar :D), nyalon, dan hal-hal berbau gaya hidup lainnya.  Saat itu, masih banyak ruang finansial yang bisa dikaryakan, tentunya setelah menunaikan kewajiban zakat dan shadaqah. Katanya, sesedikit apapun penghasilan kita, tetap harus disisihkan yang 2,5% itu, biar rezekinya manjang dan barokah. Saya sih nurut aja.

Ketika saya menikah, tapi belum punya anak, perubahan peran saya sebagai “Menteri Keuangan Keluarga” ini belum terlalu terasa. Karena saya dan si Mas masih numpang tinggal di rumah Nenek saya. Otomatis makan dan sarapan kan gratis, meskipun terkadang saya juga ikut membeli persediaan tambahan sembako di dapur Nenek jika ada yang habis. Tapi seluruh pengeluaran itu masih bisa diatur tanpa memutar otak telalu dalam. Setelah penghasilan si Mas dan saya digabung, kami pun masih bisa merasakan kenikmatan gaya hidup itu sesekali (yang seringnya adalah kenikmatan makan di luar karena saya dan suami agak sungkan untuk memasak di dapur Nenek yang berbatasan langsung dengan kamar tidurnya. Khawatir Nenek nanti malah kebangun, padahal kami sering pulang larut malam—jangan ditiru ya kebiasaan ini, Mama-mama kece teladan. Kesadaran saya untuk masak sendiri datang terlambat soalnya, hehehe).

Begitulah, sampai akhirnya Allah memberi kami rezeki untuk bisa membeli rumah sendiri, yang jaraknya tak jauh dari rumah Nenek.  Sejak itu, otomatis ruang finansial yang kami miliki semakin kecil, karena ada cicilan KPR yang harus dibayar setiap bulan. Kedatangan Kynan sebagai anggota baru keluarga kecil kami, juga menyadarkan saya, bahwa saya bukan lagi anak gadis yang bisa ongkang-ongkang kaki, masuk keluar kafe, restoran, dan salon setiap bulan, tanpa berpikir panjang untuk kelangsungan hidup keluarga. That was my very moment of truth. I was not only a wife, but I’m already a mother. I run the family. Sayalah yang harus sadar untuk mengatur diri sendiri, agar bisa menahan diri untuk menghabiskan uang dengan bijaksana. Beruntung, saya dan si Mas satu frekuensi. Sejak saat itu, kami pun mulai menahan diri untuk tidak menghabiskan uang tanpa alasan dan urgensi yang jelas. Transparansi menjadi modal utama kami, sejak menikah.

Ada banyak cara mengatur keuangan keluarga. Setiap istri tentu punya cara sendiri. Ada istri yang meminta transfer langsung seluruh gaji suami ke rekeningnya, dan sang istrilah yang akan mengatur laju masuk dan keluar semua dana (alias otoritas murni—cung  siapa yang kaya gini hayooo… 😀 Bersyukurlah ya Ibu-ibu, ini adalah amanah, karena kita dituntut untuk bisa lebih kreatif dan bijak “mengkaryakan” semua dana itu).

Ada juga istri yang membiarkan (atau terpaksa membiarkan) suaminya memiliki otoritas penuh dalam keuangan keluarga (alias otoritas terbatas—saya pompakan semangat juga buat yang menjalani tipe seperti ini. Di satu sisi, enak, kita ga usah mikir panjang, mau apa tinggal minta. Tapi itu kalau uangnya ada. Di sisi lain, kalau suaminya pelit, percayalah ini adalah ujian dan ladang amal dari Allah supaya perempuan-perempuan hebat yang mengalaminya bisa diangkat derajatnya dan “naik kelas” lagi.. 🙂 ).

Ada pula pasangan suami istri yang tetap memiliki rekening gaji terpisah, tapi memiliki visi dan pos peruntukan gaji masing-masing yang tetap transparan dengan pengeluaran yang tercatat dan terbukukan (otoritas bikameral—ini mah saya aja ngarang deng istilahnya hahaha). Kami memilih menjalankan cara yang terakhir. Dan Alhamdulillah, dengan komitmen dan transparansi yang baik, insya Allah penghasilan halal yang diatur dengan cara yang baik, akan menjadi berkah untuk kehidupan keluarga yang baik pula.

Mungkin kiat-kiat berikut bisa bermanfaat menjadi inspirasi dan ide baru untuk mengatur keuangan keluarga anda, dear lovely devoted readers yang matanya masih tahan membaca caprukan saya ini :

1) DAHULUKAN MEMBAYAR HUTANG DAN CICILAN KPR

Ini berlaku untuk semua jenis hutang, dan harusnya dibayar persis setelah kita terima gaji atau dapat rejeki. Mau itu cicilan KPR, mau itu hutang sama orang, dahulukan. Karena kita tidak pernah tahu sampai kapan usia hidup kita hingga cicilan hutang itu lunas. Ingat, yang ditanya di alam kubur, salah satunya adalah hutang lho.

2) DAHULUKAN KEBUTUHAN ANAK

Setiap kali gajian, belanjakan langsung kebutuhan anak anda selama satu bulan ke depan. Apakah itu susu, pampers, bubur bayi, tisu basah, sabun, sampo bayinya, hingga sabun pencuci botol, dan sejumlah printilan anak lainnya. Mengapa? Percayalah, pengeluaran terbesar setelah anda punya anak, adalah segambreng printilannya itu.

12974542_10154223964629113_5261905904568154442_n
Buat Bayuaji Junior inilah, kami rela memberikan segalanya.

Seringkali, banyak orangtua yang mengabaikan dan hanya berbelanja apa yang dibutuhkan anak pada pekan itu saja. Bersyukur, jika rezeki orangtuanya banyak hingga di akhir bulan, belanja pampers, bubur dan susu setiap minggu tentu tidak menjadi masalah. Tapi, jika pengeluaran dan penghasilan orang tua pas-pasan, jangan coba-coba ambil resiko anak tidak minum susu, atau anak tidak makan atau cicilan KPR rumah nggak kebayar hanya karena orang tuanya kehabisan uang karena sibuk hura-hura makan dan ngopi di luar. (Thanks to Mama, yang sudah kenyang makan asam garam mengatur keuangan keluarga selama puluhan tahun, tips ini membuat kami jadi lebih lega mengatur keuangan).

3) DAHULUKAN MENGELUARKAN ZAKAT DAN SHADAQAH

Pos ketiga yang wajib didahulukan setelah menerima gaji, adalah zakat dan shadaqah. Mengapa? Karena pada saat itu, gaji kita masih banyak dan kita biasanya tidak akan berpikir dua kali untuk mengeluarkan uang. Selain itu, di dalam rezeki dari Allah yang kita terima, ingatlah selalu ada hak orang lain yang harus kita keluarkan. Coba kalo udah akhir bulan, keuangan sudah menipis, masukin infak Jumatan Rp10 ribu aja rasanya berat sekali.. (kaya si gue ikut Jumatan aja yak, hahaha, sotoy banget..)

4) DAHULUKAN TABUNGAN DAN INVESTASI

Setelah hutang, kebutuhan anak, dan zakat, tabungan dan investasi ini jadi hal yang harus didahulukan juga sebelum keleluasaan finansial kita menyempit termakan hari demi hari. Bagi mereka yang punya kelebihan penerimaan keuangan, pos ini bisa dimaksimalkan. Tapi kalau gajinya pas-pasan, tetap paksakan untuk bisa punya tabungan atau investasi. Kenapa? KARENA SEKOLAH ANAK MAHAL SEKARANG KAK….(haha, itu salah satu kegunaannya!). Tabungan berencana dan investasi bisa jadi solusi masa depan jikalau sang buah hati sudah masuk usia sekolah yang laju biayanya menyerupai deret ukur sementara laju pertambahan gaji emak bapaknya menyerupai deret hitung… JAUUUUHHH NGEJARNYA!

Bentuknya pun bisa beragam. Sekarang masuk deh ke bank mana aja tanya-tanya pilihan untuk menabung dan investasi, pasti mbak-mbaknya akan nyerocos dengan senang hati :D. Saran saya, tabungan berencana bisa jadi pilihan terbaik, karena biasanya bisa dicairkan sesuka hati ketika perlu, dan tidak ada penalti yang dibayar jika harus mencairkan sebelum batas kontraknya habis (kalaupun ada, sangat sedikiiit sekali). Ada beberapa bank juga yang menawarkan produk tabungan berencana yang layak dicoba, karena minim biaya administrasi dan syarat buka rekeningnya tidak sulit, seperti Bank Danamon, dan Bank Bukopin. Jangka waktu, dan besarnya nominal uang yang ditabungkan tiap bulan pun bisa disesuaikan dengan kemampuan. Kalau mampunya Rp.100.000 per bulan, gapapa, yang penting kita sudah menyiapkan dana untuk masa depan, apapun kebutuhannya. 🙂

5) CATAT SETIAP PEMASUKAN DAN PENGELUARAN

Di era gadget kekinian, kita nggak perlu lagi pakai buku kasbon akuntansi segede bagong (bagong segede apa coba? kasian kan disalahin terus, hiks), untuk mencatat semua pengeluaran dan pemasukan. Sekarang udah banyak sekali aplikasi keuangan tersedia di Google Play. Tinggal pilih mana yang interface dan featurenya mudah dan sesuai kebutuhan. Saya sih pakai Monefy (bukan postingan berbayar lho ya ini, heu). Dari situ, kita bisa terus mengevaluasi, selama sebulan, berapa persentase pengeluaran untuk masing-masing pos. Beberapa aplikasi bahkan bisa menganalisis bagaimana kondisi keuangan anda, dan bagaimana seharusnya anda mengatur pengeluaran. Percayalah, mengatur keuangan itu “hanyalah” sesulit melawan diri sendiri.

160245-1436317904-475997
Monefy, aplikasi keuangan berbasis android (Sumber : Plimbi.com)

 

6) TRANSPARANSI, JUJUR PADA PASANGAN

Ini jadi poin penting, karena tanpa transparansi, pengelolaan keuangan jenis apapun, pasti punya potensi penyelewengan. Ibaratnya, kalau APBN-nya sudah diketok, tapi eksekusinya ada penyimpangan, tetap bocor juga anggarannya. Terkecuali, kalau ada komunikasi tentang potensi penyimpangan disertai alasan dan urgensi yang jelas. Disitulah fungsi adanya RAPBN-Perubahan, yang sudah sama-sama diketok Suami sebagai Fungsi Legislatif, dan Istri sebagai Fungsi Eksekutif (eaaa, jadi kangen liputan rapat proses buat undang-undang). Maksudnya, misal kasusnya si Pak Suami kepengen beli sesuatu yang di luar budget, semua harus dikomunikasikan kepada Istri. Kalaupun di acc, jadi setiap sen pengeluaran yang dilakukan, diketahui dan berada dalam pengawasan Istri.

7) MASAK DAN BAWA BEKAL SENDIRI

Percayalah, ketika anda hidup di kota berbiaya hidup besar, salah satu pos pengeluaran terbesar selain transportasi dan keperluan anak, adalah dari MAKAN DI LUAR! Dengan masak sendiri, belanja sayur mayur dan lauk paling banyak 100 ribu perak (tapi jangan beli daging sekilo juga sih ya), itu udah bisa buat makan sekeluarga dua kepala selama lebih dari seminggu! Bayangkan, kalo kita makan diluar terus tiap hari, sekali makan aja kalo di Jakarta paling nggak udah Rp20 ribu sama minum. PENGHEMATANNYA JAUH LEBIH GILA-GILAAN. Saya dan si Mas emang anaknya ngga terlalu suka makan ayam dan daging. Jadilah saya menyiasatinya dengan mencari inspirasi memasak dari banyak situs resep atau aplikasi android. Saya sih pakainya Cookpad (lagi-lagi bukan postingan berbayar). Karena disana kita bisa lihat banyak resep untuk satu jenis bahan, yang bisa dipilih sesuai selera..

screenshot_desktop-4aa172c2d2a3c700e34bac77434b1f3332cc034752c735876e48618f568b00d2
Aplikasi Cookpad, bisa sharing resep, dan banyak resep Indonesianya  (Sumber : Cookpad.com)

Intinya sih, semua pengeluaran harus benar-benar dipikirkan, bahkan kalau perlu dibuat skala prioritasnyaDiskusi dengan suami sebagai partner selalu menjadi solusi dalam hal apapun, karena dompetmu, dompetku, adalah dompet kita kan :).

Jikalau di akhir bulan terpaksa harus puasa karena kantong udah kempes, seenggaknya kita tenang, karena hal-hal krusial sudah dibayar. Mau puasa berdua kek, yang penting anak ga ikutan puasa.. Malah bagus kan, jadi kurus 😀

Advertisements
Posted in catatan seorang jurnalis, dari kacamata njul.., njul cerita-cerita..

CHALLENGE ACCEPTED — another story of my journo life #1

Hare geneeee, siapa coba sebagian besar generasi bekerja masa kini yang ngga melakukan runtutan berikut ini : bangun pagi, pergi ke kantor, sampai habis hari, pulang, dan tidur. Repetisi dari Senin sampai Jumat, 5 dari 7 hari dalam seminggu.

Mungkin saya harus bersyukur. Rutinitas yang saya jalani setiap hari, agak berbeda dari generasi bekerja pada umumnya.

Well, saya juga pergi ke kantor kok setiap pagi. Tapi hanya untuk baca koran, diskusi sebentar sama bos, dan ambil surat jalan.

Kalau anda-anda menghabiskan sisa hari di kantor, saya menghabiskan hari di jalan. Buat saya—dan mungkin sebagian besar teman-teman jurnalis lainnya, ya jalanan itulah kantornya. Bedanya, saya ngga punya komputer, meja, atau kubikel sendiri. “Fasilitas” bekerja saya, adalah mobil—beserta pilotnya, kameramen, dan gadget apapun yang bisa dipake internetan sambil berjalan.
Kalau anda-anda cuma bisa lihat pemandangan dari balik jendela gedung puluhan lantai, beruntungnya, mungkin apa yang bisa saya lihat dan temui, jauh lebih beragam dari itu. 😀

Saya pikir semua sepakat, kalau rutinitas itu berpotensi besar mengakibatkan kejenuhan.

Tapi bukan, bukan itu yang mau saya ceritakan.

“Kantor” baru saya..

Jadi gini. Kurang lebih beberapa bulan ke belakang ini, saya menjajal rasa rutinitas yang berbeda, yang kadang bikin saya kangen berkantor di jalan lagi seperti dulu.

Gimana ngga, kantor saya sekarang “pindah” ke Senayan.
Ya, pindah gedung wakil rakyat kita yang terhormat, yang bentuknya ada yang sebagian bilang mirip kura-kura, ada juga yang dengan kemampuan imajinatif lebih tinggi bilang mirip pantat Hulk, karena atap kembar hijaunya itu—cik coba, tilik sendiri, mirip apa cing? heu..

Bukan sebagai anggota DPR boo’, pastinya. Apalagi jadi staf ahlinya. Ngga, ngga, ngga merasa cukup cantik saya untuk jadi staf ahli atau asisten pribadi anggota dewan yang mostly berkaki jenjang, mulus, cantik-cantik tapi menurut saya agak meragukan isi otaknya itu. Bukan.

Kalo kata abang-abang mantan bos saya—yang sekarang sudah jadi produser—, istilah gayanya saya sekarang adalah : WARTAWAN UTAMA DPR.

Pertama kali saya tahu kalo saya yang ditunjuk menggantikan posisi orang yang sekarang jadi bos saya—abang-abang yang lainnya, karena abang mantan bos saya itu sudah jadi produser—yang notabene sangat cerdas, dan kemampuan penetrasi narasumbernya—menurut saya—paling numero uno se-redaksi RCTI itu, rasanya saya seperti kena petir di siang bolong.

I was like, “Duuuude, bisa apa gueeeee?”

Proudly admit, I’m absolutely a moron compared to him in politics..

Kenapa gue yang ahli genetik ini yang malah disuruh ngurusin politik?
Seumur-umur masuk RCTI, sudah bidang inilah yang paling saya takuti—dan jujur, hampir saya benci. Gimana ngga? Cing, gue adalah generasi yang tumbuh besar dengan infotainment, how can i ever have any adequate knowledge about politics?

Okelah.
Berbekal keyakinan pada surat Al-Baqarah ayat 286¹ ..

 fine,  CHALLENGE ACCEPTED.

Berpindah “kantor”, buat saya berubah pula tantangannya. Kalo di jalanan, bisa bertemu segala macam lapisan orang, eh, orang dari segala lapisan masyarakat maksudnya. Sekarang, jadi cuma bisa ketemu lapisan crémé dé la crémé nya doang. Menteri dan anggota DPR, segala macam bentuk, tingkah, dan variasi, jadi makanan sehari-hari.

Ada tuntutan besar yang selalu menghantui, ketika keberhasilan liputan setiap hari tidak lagi bertumpu pada gambar yang bagus, indah, dan berstandar National Geographic Channel. Kenapa? Di DPR itu, semua orang bisa ditanya. Semua orang mau masuk dalam media publikasi manapun—kecuali sedang bermasalah, kaya Angelina Sondakh, atau Anas Urbaningrum, lain lagi ceritanya.

Dalam berita politik, senjatanya adalah kutipan asli, alias kata-kata yang keluar dari congor mereka. Selain harus cerdas memilih dan memilah —baca : meramalkan jawaban orang berdasarkan posisinya dalam konstelasi politik, siapa orangnya siapa— congor mana yang dipilih sebagai corong informasi, pertanyaan yang bagus juga menjadi senjata yang nggak kalah penting lainnya. Seperti kata bos saya sekarang..

Pengetahuanmu, amunisimu.

Dulu mungkin saya nggak begitu paham bagaimana implementasinya di lapangan. Sekarang, without sufficient knowledge, you are nothing. Jangan harap bisa dapat quotation yang bagus. Dan, buat saya haram hukumnya pergi ke DPR ga pake nyisir headline semua koran dan online portal.

Ada satu hal yang bikin saya agak geli ya, ketika masuk ke dunia baru ini. Berkaitan dengan gender, dan cukup membantu ketika saya butuh bantuan atau informasi tertentu, but I’ll save it for my next post.

Intinya, apapun yang kita hadapi dalam hidup ini, selalu terselip pelajaran-Nya. Ibarat sekolah, mungkin ini adalah waktunya saya ujian, untuk naik ke kelas berikutnya, yang tantangannya lebih sulit lagi. Tapi, satu hal yang saya syukuri sekarang, adalah kepercayaan yang sudah diberikan untuk bisa menjalani ujian ini. Buat saya, selain jadi ajang pembuktian diri, ini bisa jadi cerita baru untuk adik-adik kelas saya sesama pemegang ijazah Gajah Duduk sejati lainnya. Men, jangan mau lah dijuluki Institut Teknologi Bank…  *heu*

——————————————–

Notes : ¹) “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” – QS Al Baqarah : 286

Posted in aateulan.., catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita.., sebenarnya..

wanita masa kini (dari sudut pandangnya..)

Inspirasi..

Hmm, memang bisa datang dari mana saja.. Jalan yang ramai, titik-titik hujan yang menetes, putaran kipas angin, sampai obrolan ibu-ibu di gang depan koskosan —tapi ini mah ngga seekstrim itu ketang, tingkat tinggi pisan, heu— meskipun, cerita saya berikut ini, mungkin bukan secara harfiah berasal dari mana saja, melainkan dari seseorang yang saya temui hari ini…

Namanya Windu Triastuti —saya manggilnya Mbak Windu—, seorang wanita matang dan dewasa, yang sedang hamil anak kedua di usia 38 tahun, dalam sebuah perkawinan yang baru saja berlangsung di usianya yang ke-35..

Dalam usia kehamilannya yang sudah mencapai 7 bulan ini, beliau tetap menjalankan tanggungjawab profesinya, yang sama seperti saya, menjadi kuli tinta media elektronik ternama. Padahal, jurnalis sekaliber dirinya, di kantor saya mungkin harusnya sudah menjadi produser senior, tapi ia memilih untuk tetap berkarya bebas di lapangan..

oke, skip that part, bukan disitu bagian inspirasinya—

Mbak Windu pun bercerita tentang pemikirannya…

Wanita masa kini, memang sebagian besar punya kemampuan, mereka tekun dan punya ambisi yang besar untuk bekerja dan sukses di bidang yang mereka geluti. Belum lagi, sekarang sudah jamannya emansipasi, wadah berkarya untuk wanita, ada hampir dimana-mana.. —sepakat—

Untuk wanita-wanita seperti itu, di usia menjelang 30, uang dan kemapanan, mungkin sudah ada di tangan.. Rumah dan pembantu tersedia,  bisa menikmati kesendirian dan bersenang-senang tanpa harus merasa terancam akan status belum berkeluarga, karena banyak teman dan kolega mereka yang memiliki gaya hidup yang sama. —kekhawatiran saya ini, atut jadi gini nanti

Tapi wanita masa kini juga harus merenungi, bahwa seiring dengan kemapanan itu, waktu juga berjalan dan usia terus bertambah.. Belum lagi, seiring dengan tingkat kedewasaan, pemikiran, dan kemapanan yang terus naik, sadar atau tidak, standar untuk menentukan calon pendamping hidup yang tepat, juga otomatis akan meningkat, sehingga tanpa sadar, mungkin wanita masa kini akan cenderung lebih picky dan berhati-hati karena mereka pasti tidak mau salah pilih.. Pernikahan itu seumur hidup, dan pastinya tidak ada yang mau mengorbankan sisa hidupnya hanya untuk menderita bersama orang yang salah..

Wanita itu, seharusnya menikah diatas 25 tapi tidak diatas 30.. Yang celakanya adalah, untuk jurnalis wanita —seperti kami— tanpa sadar standar pilihan itu bisa jadi lebih naik lagi, karena bertemu orang-orang berpemikiran maju dan pandai sudah jadi makanan sehari-hari. Pastinya, sedikit banyak, ada harapan ingin memiliki pasangan hidup yang sepintar dan sedewasa para narasumber itu, tetapi ingin yang usianya sepantaran kita. Padahal mereka juga berproses pada usianya, dan agak mustahil menemukan yang pola pikirnya sematang itu, kecuali memang mencari yang jauh lebih tua.. —harus cari yang lebih tua jauh gitu ini teh Mbak?—

Urusan pilih memilih ini, —nah ini diaaa..— ada 2 hal yang penting :

1. Tampang bukanlah hal yang utama, yang penting, orangnya memang punya “bibit” jadi orang baik.

Untuk apa kita menyiksa diri mencari yang good-looking tapi harus sakit hati karena dia doyan selingkuh?  —oke Mbak, i’m with you..—

2. Cari yang memang ingin dan bisa berkomitmen dengan dirimu.

Dengan keinginan berkomitmen itu, maka seorang pria akan mulai berusaha untuk membangun masa depannya bersama kamu, dan menerimamu apa adanya, satu paket. Dia harus bisa menerima dirimu, keluargamu, pekerjaanmu, keadaanmu, semuanya.. Kalau hanya sebatas, “Sudah makan belum?” atau “Mau dijemput dimana, jam berapa?” sih, anak ABG juga bisa.. —oh, see how you can read me, Mbak..

Jika ada pria yang tiba-tiba datang dalam kehidupan kamu dan dia banyak mengaturmu —yang notabene jam kerjanya tidak teratur dan sering begadang, pergi kemana saja, dan dengan siapa saja—, dan dia tidak suka kamu begitu, bilang aja, “Hey, siapa kamu, dateng-dateng belum jadi siapa-siapa udah berani ngatur-ngatur hidup saya!“.. Dan sudahlah, yang begitu lebih baik ditinggalin aja daripada jadi masalah di kemudian hari….

Apa yang ada di pikiran Mbak Windu mungkin memang betul adanya..  Sepanjang jalan pulang dari Ma’arif Institute tadi siang, membuat saya jadi berpikir.. Apakah betul, standar saya sebegitu tingginya? Atau kah saya yang (belum) masuk hitungan standar siapapun?