Posted in dedicate this for..., impian jiwa.., njul cerita-cerita.., sebenarnya..

one day.. one day. in the shortest future..

..that bond on their fingers.

I took the photo myself, not in a very long past. Dua minggu lalu, ketika rasa kangen dengan sejumlah sahabat sekaligus penasaran terhadap cafe paling happening di Bandung itu akhirnya terbayar.

Well. Ada rasa bahagia terselip tiap kali melihat foto ini.

“Boo, temen-temen gue, yang dulu nongkrong nyontek jurnal bareng, nyalin Tugas Pendahuluan Praktikum bareng, arisan bareng, udah nikah, dan bahkan udah mau jadi ibu juga dua-duanya…”

Tujuh bulan lagi, saya akan punya ponakan baru. Bukan satu, tapi dua—kalo masuk sekolah bareng pasti seangkatan.. 😀

Rasanya baru kemarin, masuk kuliah bareng. Jajan kebab terus nungguin jam kuliah yang ngangkang ke KBL—Kantin Barat Laut, red— bareng. Nungguin praktikum sambil kebut-kebutan bikin laporan di Comlabs bareng—jaman belom pada leptopan. Bagi-bagi tugas cari Teori Dasar bareng—padahal beda kelompok..  Miss those times, really. 

Time does flies, and the only thing you have in the end, is the memory attached within.

Hanya dalam beberapa tahun, dan kami bertujuh  sekarang sudah menempuh jalan masing-masing yang berbeda. Melompati batu nasib yang berlainan. Bereksperimen dengan reagen dan variabel hidup yang menghasilkan kesimpulan yang berlainan juga.

..at one of our golden moments : Edisi Baluran..

Kalo diliat dari urutan di foto, ternyata yang nikah duluan itu berurutan 2 orang sebelah kanan saya. Kenapaaa si gue kelewat yaa? 😀

Awe, ahli penyu, juga diver sekaligus driver cantik kita, sekarang sudah tinggal di Kep. Anambas, Riau. Awe ikut suaminya, Aip, yang lagi jadi dokter residen, demi gelar spesialis dan masa depan cerah keluarga mereka.

Achai, ahli lalat dan pestisida kita, sekarang malah asyik menekuni peluang resiko dan analisis  kredit di Bank Mega cabang Sukabumi. Achai juga akhirnya hidup merantau bersama Kang Firda, teman se-lab yang akhirnya jadi teman hidupnya juga.  Salah satu pasangan yang membuat saya yakin akan kebenaran pepatah jawa :

“Witing tresno, jalaran soko kulino.¹”

Well. Kalo kata temen saya yg lain, kadang kala ada beberapa kasus juga, yang justru malah berangkat mengarungi biduk rumah tangga bermodal :

“Witing tresno, jalaran soko ora ono sing lio.²” 

Yang mana yang bakal jadi cerita saya nanti, semoga barokahnya tetep sepanjang hidup dan nggak kemana-mana, heu, aamiinn…

Beruntungmm, beruntung apa ngga yah.. 😛 —gelar eligible bachelorette itu ngga cuma saya sandang sendiri. Masih ada sisa 4 orang lagi, yang masih kepentok trial-and-error mencari jati diri. Those four.. my ring-less buddies.

Icca, ahli Pasak Bumitanaman ya, tanaman beneran— yang juga ahli kultur jaringan kita, memilih untuk tetap setia pada jalur akademisnya—yang biasanya seringkali dikhianati anak Gajah Duduk lainnya, menekuni S2 dan (mudah-mudahan) akan mendapat gelar M. Si nya tahun 2014.  Wanita asli Rock-in-line alias Batujajar ini, selain serbabisa, juga encer otaknya untuk urusan mencari (tidak hanya jodoh, sampai  belanja kebutuhan rumah tangga), sekaligus, mencari sampingan dari selisipan mana saja. 😀

Wanti, si chubby yang ahli akuakultur ini, sekarang malah menekuni bidang persawitan. Dari satu proyek, ke proyek yang lain, wanita kuat lahir batin yang berdarah Bangka, tapi seringnya malah pulang ke Cianjur ini, pergi menimba ilmu dan mencari segenggam berlian.

Gita, mungkin jadi yang paling beruntung dari kita sisa-sisa yang berempat ini. Seengganya, si cantik yang ahli utak-atik gen udangkalo saya kan pisang ini, insya Allah sudah kebayang sama siapa bakal menggenapkan agamanya, ya cuma tinggal eksekusinya aja.. Aamiinn  🙂  Bareng-bareng Icca, Gita juga termasuk yang setia dengan gelarnya, dari S1 sampe S2 tetep aja ngulibek di lab yang sama.. 😀

Babay, kecil-kecil cabe rawit, yang paling kecil, tapi kadang suka paling dewasa diantara kami bertujuh ini, sekarang malah merantau ke Palembang. Ahli kultur jaringan dan embriogenik (calon) tanaman, sekarang malah berkutat di kebun karet sama sawit, ga jauh-jauh kaya Wanti. Sayang, sesi reuni terakhir kita kemarin, Babay ngga bisa hadir, karena nasibnya agak mirip saya tahun lalu, dimana tanggal merah tidak berarti apa-apa, karena kehidupan berjalan seperti biasa.

dan…. saya. Keahlian utak-atik gen dan skill membuat mutan—berasa Abraham Erskine, yang bikin serum buat Captain Americadari bakteri Escherichia coli  ini akhirnya tidak pernah saya pakai lagi. Ingin hati sekolah lagi, tapi sedang beradu nasib dan kesempatan.. Dulu dosen pembimbing saya selalu mengingatkan, kesempatan dan kemampuan yang saya punya ini, termasuk yang jarang, karena sebagian besar geneticist bekerja dengan DNA, dan tidak banyak yang biasa berkutat dengan RNA. Hehe, maaf ya Bu, mungkin nanti saya akan mengamalkan ilmu saya lagi.. entah kapan dan bagaimana caranya.. 🙂

Ibarat mencit yang ada dalam labirin percobaan pengamatan perilaku kognisi dan kecerdasannya ini, me and my ring-less friends, mungkin masih belum bisa menemukan di belokan mana, keju kami berada. Tapi, satu pelajaran yang bisa diambil dari Multiple T-Maze Test ini,  hampir sama dengan pelajaran yang diambil Robin Scherbatsky dan Barney Stinson—kebanyakan nonton “How I Met Your Mother”-detected—.

“The future is scary. But you can’t just run back to the past because it’s familiar. Yes, it’s tempting… But it’s a mistake.”

..Maze untuk tes kognisi dan perilaku mencit..

We’re gonna find our cheese. One day, one day.. 🙂

==================================================

¹ Pepatah Jawa, yang artinya : Cinta tumbuh karena sering bertemu.. Eh, iya gitu ya? Kurang lebih gitulah, heu.. 😛

² Kalo ini, ini bukan pepatah, tapi ini memang bahasa Jawa juga, yang artinya : Cinta tumbuh karena ngga punya pilihan yang lain , haha 😀

Advertisements
Posted in catatan seorang jurnalis, dari kacamata njul.., njul cerita-cerita..

CHALLENGE ACCEPTED — another story of my journo life #1

Hare geneeee, siapa coba sebagian besar generasi bekerja masa kini yang ngga melakukan runtutan berikut ini : bangun pagi, pergi ke kantor, sampai habis hari, pulang, dan tidur. Repetisi dari Senin sampai Jumat, 5 dari 7 hari dalam seminggu.

Mungkin saya harus bersyukur. Rutinitas yang saya jalani setiap hari, agak berbeda dari generasi bekerja pada umumnya.

Well, saya juga pergi ke kantor kok setiap pagi. Tapi hanya untuk baca koran, diskusi sebentar sama bos, dan ambil surat jalan.

Kalau anda-anda menghabiskan sisa hari di kantor, saya menghabiskan hari di jalan. Buat saya—dan mungkin sebagian besar teman-teman jurnalis lainnya, ya jalanan itulah kantornya. Bedanya, saya ngga punya komputer, meja, atau kubikel sendiri. “Fasilitas” bekerja saya, adalah mobil—beserta pilotnya, kameramen, dan gadget apapun yang bisa dipake internetan sambil berjalan.
Kalau anda-anda cuma bisa lihat pemandangan dari balik jendela gedung puluhan lantai, beruntungnya, mungkin apa yang bisa saya lihat dan temui, jauh lebih beragam dari itu. 😀

Saya pikir semua sepakat, kalau rutinitas itu berpotensi besar mengakibatkan kejenuhan.

Tapi bukan, bukan itu yang mau saya ceritakan.

“Kantor” baru saya..

Jadi gini. Kurang lebih beberapa bulan ke belakang ini, saya menjajal rasa rutinitas yang berbeda, yang kadang bikin saya kangen berkantor di jalan lagi seperti dulu.

Gimana ngga, kantor saya sekarang “pindah” ke Senayan.
Ya, pindah gedung wakil rakyat kita yang terhormat, yang bentuknya ada yang sebagian bilang mirip kura-kura, ada juga yang dengan kemampuan imajinatif lebih tinggi bilang mirip pantat Hulk, karena atap kembar hijaunya itu—cik coba, tilik sendiri, mirip apa cing? heu..

Bukan sebagai anggota DPR boo’, pastinya. Apalagi jadi staf ahlinya. Ngga, ngga, ngga merasa cukup cantik saya untuk jadi staf ahli atau asisten pribadi anggota dewan yang mostly berkaki jenjang, mulus, cantik-cantik tapi menurut saya agak meragukan isi otaknya itu. Bukan.

Kalo kata abang-abang mantan bos saya—yang sekarang sudah jadi produser—, istilah gayanya saya sekarang adalah : WARTAWAN UTAMA DPR.

Pertama kali saya tahu kalo saya yang ditunjuk menggantikan posisi orang yang sekarang jadi bos saya—abang-abang yang lainnya, karena abang mantan bos saya itu sudah jadi produser—yang notabene sangat cerdas, dan kemampuan penetrasi narasumbernya—menurut saya—paling numero uno se-redaksi RCTI itu, rasanya saya seperti kena petir di siang bolong.

I was like, “Duuuude, bisa apa gueeeee?”

Proudly admit, I’m absolutely a moron compared to him in politics..

Kenapa gue yang ahli genetik ini yang malah disuruh ngurusin politik?
Seumur-umur masuk RCTI, sudah bidang inilah yang paling saya takuti—dan jujur, hampir saya benci. Gimana ngga? Cing, gue adalah generasi yang tumbuh besar dengan infotainment, how can i ever have any adequate knowledge about politics?

Okelah.
Berbekal keyakinan pada surat Al-Baqarah ayat 286¹ ..

 fine,  CHALLENGE ACCEPTED.

Berpindah “kantor”, buat saya berubah pula tantangannya. Kalo di jalanan, bisa bertemu segala macam lapisan orang, eh, orang dari segala lapisan masyarakat maksudnya. Sekarang, jadi cuma bisa ketemu lapisan crémé dé la crémé nya doang. Menteri dan anggota DPR, segala macam bentuk, tingkah, dan variasi, jadi makanan sehari-hari.

Ada tuntutan besar yang selalu menghantui, ketika keberhasilan liputan setiap hari tidak lagi bertumpu pada gambar yang bagus, indah, dan berstandar National Geographic Channel. Kenapa? Di DPR itu, semua orang bisa ditanya. Semua orang mau masuk dalam media publikasi manapun—kecuali sedang bermasalah, kaya Angelina Sondakh, atau Anas Urbaningrum, lain lagi ceritanya.

Dalam berita politik, senjatanya adalah kutipan asli, alias kata-kata yang keluar dari congor mereka. Selain harus cerdas memilih dan memilah —baca : meramalkan jawaban orang berdasarkan posisinya dalam konstelasi politik, siapa orangnya siapa— congor mana yang dipilih sebagai corong informasi, pertanyaan yang bagus juga menjadi senjata yang nggak kalah penting lainnya. Seperti kata bos saya sekarang..

Pengetahuanmu, amunisimu.

Dulu mungkin saya nggak begitu paham bagaimana implementasinya di lapangan. Sekarang, without sufficient knowledge, you are nothing. Jangan harap bisa dapat quotation yang bagus. Dan, buat saya haram hukumnya pergi ke DPR ga pake nyisir headline semua koran dan online portal.

Ada satu hal yang bikin saya agak geli ya, ketika masuk ke dunia baru ini. Berkaitan dengan gender, dan cukup membantu ketika saya butuh bantuan atau informasi tertentu, but I’ll save it for my next post.

Intinya, apapun yang kita hadapi dalam hidup ini, selalu terselip pelajaran-Nya. Ibarat sekolah, mungkin ini adalah waktunya saya ujian, untuk naik ke kelas berikutnya, yang tantangannya lebih sulit lagi. Tapi, satu hal yang saya syukuri sekarang, adalah kepercayaan yang sudah diberikan untuk bisa menjalani ujian ini. Buat saya, selain jadi ajang pembuktian diri, ini bisa jadi cerita baru untuk adik-adik kelas saya sesama pemegang ijazah Gajah Duduk sejati lainnya. Men, jangan mau lah dijuluki Institut Teknologi Bank…  *heu*

——————————————–

Notes : ¹) “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” – QS Al Baqarah : 286

Posted in dari kacamata njul.., dedicate this for..., njul cerita-cerita..

good bye, Whitney.. a lesson you taught me..

Seperti biasa, begitu melek, hal pertama yang saya lakukan setelah baca doa baru bangun tidur, adalah ngecek jam, (dan kalo belum subuh), ngecek TL Twitter.

Something deeply shocking, not only for me, but for mostly for everyone, is CNN’s timeline saying :

“Singer Whitney Houston has died at the age of 48. CNN has the latest on air now and at http://CNN.com.”

Saya kira saya salah liat. WHITNEY HOUSTON gituuuuu.. Mungkin nyawa saya yang belum ngumpul.

Belum puas, saya nyalain TV. Masih jam 8 pagi.

Breaking News MetroTV : WHITNEY HOUSTON MENINGGAL DUNIA

Oke. Berarti ngga ada yang salah sama mata dan telinga saya.This is really happeningAfter Michael Jackson, now herShe was definitely in my list of dream concerts. No one will ever sing like her, and everyone will miss her golden voice.

Sebab kematiannya masih misteri, tapi Breaking News nya MetroTV ngaitin isu bahwa Whitney didiagnosa menderita emphysema. (Hal yang sama juga saya baca disini.)

Penasaran, apa itu emphysema? I consulted my Martini.

Emphysema (em-fi-ZÉ-ma) is a chronic, progressive condition characterized by shortness of breath and inability to tolerate physical exertion. The underlying problem is the destruction of alveolar surfaces and inadequate surface area for oxygen and carbon dioxide exchange. Emphysema has been linked to the inhalation of air that contains fine particulate matter of toxic vapors, such as those in cigarettes smoke, genetic factors, and also aging. An estimated 66% of adult males and 25% of adult females have detectable areas of emphysema in their lungs (Martini, 7th edition, 2006).

Well, yes, people grow old, and die. Memang, umur siapa yang tahu. Kata teman saya (yang perokok berat), orang yang nggak merokok pun bisa meninggal. Bener. Nggak ada yang salah dengan itu. Orang dagang baso di pinggir jalan aja bisa tiba-tiba diseruduk bis dengan rem blong kokjadi nyambung ke kecelakaan bis Karunia Bakti, Jumat malemnya di Cisarua yang makan 15 korban jiwa deh .

Cuma, kalaupun benar, Whitney Houston meninggal karena gaya hidupnya yang party-goers dan  nggak bisa lepas dari rokok, then she should really taught me (and everyone) something.  Men, dia meninggalnya masih umur 48 gitu! 😦  

It’s pretty hard to say, but I can’t help it. IT IS such a waste, for someone as gifted, and talented as she is, to die of  an addiction to cigarettes smokes (and drugs). Frankly speaking, itulah kenapa, saya ngga mau nanti punya suami perokok meskipun ngga tau ya, nanti dapet rejekinya kaya gimana—.

Bukan apa-apa, saya cuma ngga mau ditinggal mati muda. Itu aja. 😉

So long, Whitney.. You are such a legend, and you’ll surely be missed..

I don’t really need to look very much further
I don’t want to have to go where you don’t follow
I won’t hold it back again, this passion inside
I Can’t run from myself
There’s nowhere to hide
Your love I’ll remember, forever

Don’t make me close one more door
I don’t wanna hurt anymore
Stay in my arms if you dare
Or must I imagine you there
Don’t walk away from me…
I have nothing, nothing, nothing…

If I don’t have you…

Whitney Houston – I Have Nothing (OST Bodyguard)

—one of my favorite. 

Posted in dari dalam news room.., njul cerita-cerita..

..kemana harus mencari?..

Patah tumbuh hilang berganti. Hilang satu tumbuh seribu..

Hampir semua orang, pasti pernah kehilangan sesuatu.. Entah itu kunci, kacamata, gunting, pulpen, uang, ponsel, hingga hati —hadaaah— pasti semua pernah mengalami..

Teringatnya, minggu lalu, ada sebuah kejadian kehilangan yang cukup menggegerkan seantero News Room —News Room = Ruang Redaksi, ruangan utama kantor kami,  yang selalu banjir informasi, dimana semua rekaman gambar, naskah berita, berseliweran di dalamnya, dan diracik menjadi tayangan Seputar Indonesia— which was, uang senilai jutaan rupiah untuk siaran live, raib tak bersisa dari meja bendahara redaksi..

Heboh? Ya jelaaaassss..

Sebelum kejadian ini, ada satu kejadian lagi, yang sukses membuat saya trauma, meskipun saya belajar sesuatu yang sangat penting dari situ..

Korbannya, MP3 Simbadda Deo-2 dan earphone Sennheiser MX-660 yang sudah sekian tahun ini menemani perjalanan hidup saya dan dahulu saya beli dengan memeras keringat berjibaku dengan jas leb —maksudnya, dibeli dari hasil nabung gaji asisten gitu, heu— yang raib hanya dalam hitungan menit, karena ditinggal ke toilet..

Menyesal? Pasti.. Tak ada lagi kesempatan untuk mendapatkannya lagi..

Bukan karena barangnya sebetulnya, tapi yang jelas, banyak sekali kenangan yang saya alami bersama dua barang itu..

Pagi-pagi kuliah Biokimia bersama Pak Zaini yang selalu saya rekam, malam-malam saat saya harus transformasi dan bergumul dengan E. coli sendiri di Lab Genetika, setiap saat —terutama saat galau dan emosi— ketika berada diatas Vito —nama motor saya— yang dulu sering saya pacu diatas 90 km/jam saat melintas di Pasopati, saat-saat di perjalanan mulai dari musim kulap Ekologi, sampai dalam travel Bandung-Jakarta tiap hari libur kerja, semua saya lalui bersama dua barang ini..

Meskipun isi playlistnya selalu berganti menuruti zaman dan lagu terbaru di 100 Billboard Chart, serta tak lupa Dahsyat, dan Inbox —dikit doang ko, heu— dan bentukannya sudah tak secantik saat barunya, tapi.. tapi… ahh.. sudahlah.. Sakit hati ini mengenang yang sudah hilang.. —eeaaa—

Sekarang memang sudah ada gantinya.. Tapi tetap saja, rasanya tidak seafdhol yang pertama..

Satu hal yang jelas, dari kejadian itu, saya belajar untuk tidak meninggalkan barang sembarangan dimana saja.. Seperti kata Bang Napi di setiap sesi acara “Sergap” …

“Kejahatan terjadi bukan karena ada niat pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah!”

Posted in catatan seorang jurnalis, dari dalam news room.., naon sih njul..., njul cerita-cerita..

..rejeki Allah mah dari mana aja..

Adaaa aja jalannya Allah ngasi rejeki teh..

Pas lagi ngga ada duit, eeeh, nemu uang di saku..

Pas lagi lupa ambil duit di ATM, eeeh, makan siang ditraktir sama mas-mas kameramen, hihihi.. —mungkin tau kalo udah diatas tanggal 10, udah agak susah buat menyambung hidup, haha—

dan kayak hari ini…

Pas duit lagi cekak buat pulang ke Bandung, eeeh, dapet kesempatan untuk pergi liputan ke Pulau Sepa, dan mencicipi Kapal Pesiar , dan itu 2 hari aja gitu —dan yang paling penting pastinya dapet SPD doong, heu, insya Allah selamat lah sampai tanggal 25—

dan saya hanya bisa berucap…

Alhamdulillah…

berulang kali.. 🙂

Entah seperti apa petualangan saya disana hari ini, semua misteri, mana pake diving-divingan segala lagi —secara terakhir diving teh jaman firaun dagang jengkol tea, masih keneh bau formalin jang nyieun Pitfall Trap, hahaha—

seandainya jalan mendapatkan rezeki ini, sama mudahnya dengan mendapatkan jodoh yaa.. —dan mengucap ‘AAMMIIIINNN‘  berulang kali, heu