Posted in dedicate this for..., njul cerita-cerita.., obrolan-obrolin..

..and he popped out the question.

Tepat pertengahan bulan September. Sabtu siang yang terik dan cerah di luar sana.

Sambil berjalan, pandangan seorang pemuda berkacamata tertuju pada mobil Audi keluaran terbaru, dalam sebuah showroom di lantai dasar Pacific Place, Jakarta. Tidak di pinggir, ia justru memilih untuk berjalan di tengah, dengan leher yang ikut kemana jauh matanya memandang. Paham hobi otomotif si pemuda, perempuan yang berjalan di sebelahnya, tak sabar.

X : “Kalo pengen liat ya deketin aja Mas, diliat. Kan katanya ustadz siapa itu, yang suka ceramah soal sedekah, kan katanya kalo kepengen sesuatu, berdiri di depannya, terus berdoa, minta sama Allah.”

Tiba-tiba pemuda berkacamata itu terkekeh. Berhenti sejenak, dan langsung berdiri di hadapan si perempuan.

Y : “Kalo gitu, sekarang Mas minta deh.”

Bingung, tapi bisa mencium arah pembicaraan ini, si perempuan lalu bertanya.

X : “Hehe, minta apa?”

Memasang wajah polos dan senyum seribu makna, masih di depan mobil Audi terbaru, si pemuda lalu menjawab.

Y : “Minta kawin.”
X : *tertawa* “Mintanya sama Allah hey, bukan sama (nama si perempuan)”
“Terus, gw harus bilang ‘WOW’ gitu?”
Y : “Lho, ini kok malah diajak bercanda terus to?”

——————————————————————————————-

dan perempuan itu pun, hanya bisa cengengesan, sambil tenggelam dalam kebingungan, bagaimana menyampaikan sebuah persetujuan, dalam bahasa yang sederhana. 🙂

Advertisements
Posted in dedicate this for..., impian jiwa.., njul cerita-cerita.., sebenarnya..

one day.. one day. in the shortest future..

..that bond on their fingers.

I took the photo myself, not in a very long past. Dua minggu lalu, ketika rasa kangen dengan sejumlah sahabat sekaligus penasaran terhadap cafe paling happening di Bandung itu akhirnya terbayar.

Well. Ada rasa bahagia terselip tiap kali melihat foto ini.

“Boo, temen-temen gue, yang dulu nongkrong nyontek jurnal bareng, nyalin Tugas Pendahuluan Praktikum bareng, arisan bareng, udah nikah, dan bahkan udah mau jadi ibu juga dua-duanya…”

Tujuh bulan lagi, saya akan punya ponakan baru. Bukan satu, tapi dua—kalo masuk sekolah bareng pasti seangkatan.. 😀

Rasanya baru kemarin, masuk kuliah bareng. Jajan kebab terus nungguin jam kuliah yang ngangkang ke KBL—Kantin Barat Laut, red— bareng. Nungguin praktikum sambil kebut-kebutan bikin laporan di Comlabs bareng—jaman belom pada leptopan. Bagi-bagi tugas cari Teori Dasar bareng—padahal beda kelompok..  Miss those times, really. 

Time does flies, and the only thing you have in the end, is the memory attached within.

Hanya dalam beberapa tahun, dan kami bertujuh  sekarang sudah menempuh jalan masing-masing yang berbeda. Melompati batu nasib yang berlainan. Bereksperimen dengan reagen dan variabel hidup yang menghasilkan kesimpulan yang berlainan juga.

..at one of our golden moments : Edisi Baluran..

Kalo diliat dari urutan di foto, ternyata yang nikah duluan itu berurutan 2 orang sebelah kanan saya. Kenapaaa si gue kelewat yaa? 😀

Awe, ahli penyu, juga diver sekaligus driver cantik kita, sekarang sudah tinggal di Kep. Anambas, Riau. Awe ikut suaminya, Aip, yang lagi jadi dokter residen, demi gelar spesialis dan masa depan cerah keluarga mereka.

Achai, ahli lalat dan pestisida kita, sekarang malah asyik menekuni peluang resiko dan analisis  kredit di Bank Mega cabang Sukabumi. Achai juga akhirnya hidup merantau bersama Kang Firda, teman se-lab yang akhirnya jadi teman hidupnya juga.  Salah satu pasangan yang membuat saya yakin akan kebenaran pepatah jawa :

“Witing tresno, jalaran soko kulino.¹”

Well. Kalo kata temen saya yg lain, kadang kala ada beberapa kasus juga, yang justru malah berangkat mengarungi biduk rumah tangga bermodal :

“Witing tresno, jalaran soko ora ono sing lio.²” 

Yang mana yang bakal jadi cerita saya nanti, semoga barokahnya tetep sepanjang hidup dan nggak kemana-mana, heu, aamiinn…

Beruntungmm, beruntung apa ngga yah.. 😛 —gelar eligible bachelorette itu ngga cuma saya sandang sendiri. Masih ada sisa 4 orang lagi, yang masih kepentok trial-and-error mencari jati diri. Those four.. my ring-less buddies.

Icca, ahli Pasak Bumitanaman ya, tanaman beneran— yang juga ahli kultur jaringan kita, memilih untuk tetap setia pada jalur akademisnya—yang biasanya seringkali dikhianati anak Gajah Duduk lainnya, menekuni S2 dan (mudah-mudahan) akan mendapat gelar M. Si nya tahun 2014.  Wanita asli Rock-in-line alias Batujajar ini, selain serbabisa, juga encer otaknya untuk urusan mencari (tidak hanya jodoh, sampai  belanja kebutuhan rumah tangga), sekaligus, mencari sampingan dari selisipan mana saja. 😀

Wanti, si chubby yang ahli akuakultur ini, sekarang malah menekuni bidang persawitan. Dari satu proyek, ke proyek yang lain, wanita kuat lahir batin yang berdarah Bangka, tapi seringnya malah pulang ke Cianjur ini, pergi menimba ilmu dan mencari segenggam berlian.

Gita, mungkin jadi yang paling beruntung dari kita sisa-sisa yang berempat ini. Seengganya, si cantik yang ahli utak-atik gen udangkalo saya kan pisang ini, insya Allah sudah kebayang sama siapa bakal menggenapkan agamanya, ya cuma tinggal eksekusinya aja.. Aamiinn  🙂  Bareng-bareng Icca, Gita juga termasuk yang setia dengan gelarnya, dari S1 sampe S2 tetep aja ngulibek di lab yang sama.. 😀

Babay, kecil-kecil cabe rawit, yang paling kecil, tapi kadang suka paling dewasa diantara kami bertujuh ini, sekarang malah merantau ke Palembang. Ahli kultur jaringan dan embriogenik (calon) tanaman, sekarang malah berkutat di kebun karet sama sawit, ga jauh-jauh kaya Wanti. Sayang, sesi reuni terakhir kita kemarin, Babay ngga bisa hadir, karena nasibnya agak mirip saya tahun lalu, dimana tanggal merah tidak berarti apa-apa, karena kehidupan berjalan seperti biasa.

dan…. saya. Keahlian utak-atik gen dan skill membuat mutan—berasa Abraham Erskine, yang bikin serum buat Captain Americadari bakteri Escherichia coli  ini akhirnya tidak pernah saya pakai lagi. Ingin hati sekolah lagi, tapi sedang beradu nasib dan kesempatan.. Dulu dosen pembimbing saya selalu mengingatkan, kesempatan dan kemampuan yang saya punya ini, termasuk yang jarang, karena sebagian besar geneticist bekerja dengan DNA, dan tidak banyak yang biasa berkutat dengan RNA. Hehe, maaf ya Bu, mungkin nanti saya akan mengamalkan ilmu saya lagi.. entah kapan dan bagaimana caranya.. 🙂

Ibarat mencit yang ada dalam labirin percobaan pengamatan perilaku kognisi dan kecerdasannya ini, me and my ring-less friends, mungkin masih belum bisa menemukan di belokan mana, keju kami berada. Tapi, satu pelajaran yang bisa diambil dari Multiple T-Maze Test ini,  hampir sama dengan pelajaran yang diambil Robin Scherbatsky dan Barney Stinson—kebanyakan nonton “How I Met Your Mother”-detected—.

“The future is scary. But you can’t just run back to the past because it’s familiar. Yes, it’s tempting… But it’s a mistake.”

..Maze untuk tes kognisi dan perilaku mencit..

We’re gonna find our cheese. One day, one day.. 🙂

==================================================

¹ Pepatah Jawa, yang artinya : Cinta tumbuh karena sering bertemu.. Eh, iya gitu ya? Kurang lebih gitulah, heu.. 😛

² Kalo ini, ini bukan pepatah, tapi ini memang bahasa Jawa juga, yang artinya : Cinta tumbuh karena ngga punya pilihan yang lain , haha 😀

Posted in dari kacamata njul.., dedicate this for..., njul cerita-cerita..

good bye, Whitney.. a lesson you taught me..

Seperti biasa, begitu melek, hal pertama yang saya lakukan setelah baca doa baru bangun tidur, adalah ngecek jam, (dan kalo belum subuh), ngecek TL Twitter.

Something deeply shocking, not only for me, but for mostly for everyone, is CNN’s timeline saying :

“Singer Whitney Houston has died at the age of 48. CNN has the latest on air now and at http://CNN.com.”

Saya kira saya salah liat. WHITNEY HOUSTON gituuuuu.. Mungkin nyawa saya yang belum ngumpul.

Belum puas, saya nyalain TV. Masih jam 8 pagi.

Breaking News MetroTV : WHITNEY HOUSTON MENINGGAL DUNIA

Oke. Berarti ngga ada yang salah sama mata dan telinga saya.This is really happeningAfter Michael Jackson, now herShe was definitely in my list of dream concerts. No one will ever sing like her, and everyone will miss her golden voice.

Sebab kematiannya masih misteri, tapi Breaking News nya MetroTV ngaitin isu bahwa Whitney didiagnosa menderita emphysema. (Hal yang sama juga saya baca disini.)

Penasaran, apa itu emphysema? I consulted my Martini.

Emphysema (em-fi-ZÉ-ma) is a chronic, progressive condition characterized by shortness of breath and inability to tolerate physical exertion. The underlying problem is the destruction of alveolar surfaces and inadequate surface area for oxygen and carbon dioxide exchange. Emphysema has been linked to the inhalation of air that contains fine particulate matter of toxic vapors, such as those in cigarettes smoke, genetic factors, and also aging. An estimated 66% of adult males and 25% of adult females have detectable areas of emphysema in their lungs (Martini, 7th edition, 2006).

Well, yes, people grow old, and die. Memang, umur siapa yang tahu. Kata teman saya (yang perokok berat), orang yang nggak merokok pun bisa meninggal. Bener. Nggak ada yang salah dengan itu. Orang dagang baso di pinggir jalan aja bisa tiba-tiba diseruduk bis dengan rem blong kokjadi nyambung ke kecelakaan bis Karunia Bakti, Jumat malemnya di Cisarua yang makan 15 korban jiwa deh .

Cuma, kalaupun benar, Whitney Houston meninggal karena gaya hidupnya yang party-goers dan  nggak bisa lepas dari rokok, then she should really taught me (and everyone) something.  Men, dia meninggalnya masih umur 48 gitu! 😦  

It’s pretty hard to say, but I can’t help it. IT IS such a waste, for someone as gifted, and talented as she is, to die of  an addiction to cigarettes smokes (and drugs). Frankly speaking, itulah kenapa, saya ngga mau nanti punya suami perokok meskipun ngga tau ya, nanti dapet rejekinya kaya gimana—.

Bukan apa-apa, saya cuma ngga mau ditinggal mati muda. Itu aja. 😉

So long, Whitney.. You are such a legend, and you’ll surely be missed..

I don’t really need to look very much further
I don’t want to have to go where you don’t follow
I won’t hold it back again, this passion inside
I Can’t run from myself
There’s nowhere to hide
Your love I’ll remember, forever

Don’t make me close one more door
I don’t wanna hurt anymore
Stay in my arms if you dare
Or must I imagine you there
Don’t walk away from me…
I have nothing, nothing, nothing…

If I don’t have you…

Whitney Houston – I Have Nothing (OST Bodyguard)

—one of my favorite. 

Posted in aateulan.., catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita.., sebenarnya..

wanita masa kini (dari sudut pandangnya..)

Inspirasi..

Hmm, memang bisa datang dari mana saja.. Jalan yang ramai, titik-titik hujan yang menetes, putaran kipas angin, sampai obrolan ibu-ibu di gang depan koskosan —tapi ini mah ngga seekstrim itu ketang, tingkat tinggi pisan, heu— meskipun, cerita saya berikut ini, mungkin bukan secara harfiah berasal dari mana saja, melainkan dari seseorang yang saya temui hari ini…

Namanya Windu Triastuti —saya manggilnya Mbak Windu—, seorang wanita matang dan dewasa, yang sedang hamil anak kedua di usia 38 tahun, dalam sebuah perkawinan yang baru saja berlangsung di usianya yang ke-35..

Dalam usia kehamilannya yang sudah mencapai 7 bulan ini, beliau tetap menjalankan tanggungjawab profesinya, yang sama seperti saya, menjadi kuli tinta media elektronik ternama. Padahal, jurnalis sekaliber dirinya, di kantor saya mungkin harusnya sudah menjadi produser senior, tapi ia memilih untuk tetap berkarya bebas di lapangan..

oke, skip that part, bukan disitu bagian inspirasinya—

Mbak Windu pun bercerita tentang pemikirannya…

Wanita masa kini, memang sebagian besar punya kemampuan, mereka tekun dan punya ambisi yang besar untuk bekerja dan sukses di bidang yang mereka geluti. Belum lagi, sekarang sudah jamannya emansipasi, wadah berkarya untuk wanita, ada hampir dimana-mana.. —sepakat—

Untuk wanita-wanita seperti itu, di usia menjelang 30, uang dan kemapanan, mungkin sudah ada di tangan.. Rumah dan pembantu tersedia,  bisa menikmati kesendirian dan bersenang-senang tanpa harus merasa terancam akan status belum berkeluarga, karena banyak teman dan kolega mereka yang memiliki gaya hidup yang sama. —kekhawatiran saya ini, atut jadi gini nanti

Tapi wanita masa kini juga harus merenungi, bahwa seiring dengan kemapanan itu, waktu juga berjalan dan usia terus bertambah.. Belum lagi, seiring dengan tingkat kedewasaan, pemikiran, dan kemapanan yang terus naik, sadar atau tidak, standar untuk menentukan calon pendamping hidup yang tepat, juga otomatis akan meningkat, sehingga tanpa sadar, mungkin wanita masa kini akan cenderung lebih picky dan berhati-hati karena mereka pasti tidak mau salah pilih.. Pernikahan itu seumur hidup, dan pastinya tidak ada yang mau mengorbankan sisa hidupnya hanya untuk menderita bersama orang yang salah..

Wanita itu, seharusnya menikah diatas 25 tapi tidak diatas 30.. Yang celakanya adalah, untuk jurnalis wanita —seperti kami— tanpa sadar standar pilihan itu bisa jadi lebih naik lagi, karena bertemu orang-orang berpemikiran maju dan pandai sudah jadi makanan sehari-hari. Pastinya, sedikit banyak, ada harapan ingin memiliki pasangan hidup yang sepintar dan sedewasa para narasumber itu, tetapi ingin yang usianya sepantaran kita. Padahal mereka juga berproses pada usianya, dan agak mustahil menemukan yang pola pikirnya sematang itu, kecuali memang mencari yang jauh lebih tua.. —harus cari yang lebih tua jauh gitu ini teh Mbak?—

Urusan pilih memilih ini, —nah ini diaaa..— ada 2 hal yang penting :

1. Tampang bukanlah hal yang utama, yang penting, orangnya memang punya “bibit” jadi orang baik.

Untuk apa kita menyiksa diri mencari yang good-looking tapi harus sakit hati karena dia doyan selingkuh?  —oke Mbak, i’m with you..—

2. Cari yang memang ingin dan bisa berkomitmen dengan dirimu.

Dengan keinginan berkomitmen itu, maka seorang pria akan mulai berusaha untuk membangun masa depannya bersama kamu, dan menerimamu apa adanya, satu paket. Dia harus bisa menerima dirimu, keluargamu, pekerjaanmu, keadaanmu, semuanya.. Kalau hanya sebatas, “Sudah makan belum?” atau “Mau dijemput dimana, jam berapa?” sih, anak ABG juga bisa.. —oh, see how you can read me, Mbak..

Jika ada pria yang tiba-tiba datang dalam kehidupan kamu dan dia banyak mengaturmu —yang notabene jam kerjanya tidak teratur dan sering begadang, pergi kemana saja, dan dengan siapa saja—, dan dia tidak suka kamu begitu, bilang aja, “Hey, siapa kamu, dateng-dateng belum jadi siapa-siapa udah berani ngatur-ngatur hidup saya!“.. Dan sudahlah, yang begitu lebih baik ditinggalin aja daripada jadi masalah di kemudian hari….

Apa yang ada di pikiran Mbak Windu mungkin memang betul adanya..  Sepanjang jalan pulang dari Ma’arif Institute tadi siang, membuat saya jadi berpikir.. Apakah betul, standar saya sebegitu tingginya? Atau kah saya yang (belum) masuk hitungan standar siapapun?