Posted in dedicate this for..., njul cerita-cerita.., sebenarnya..

..was and then..

"Masa lalu, oh, oh.. Hanya bayangan..
Melukis seribu tanya yang tak terjawab."
~ Zen - Hanya Bayangan

Masa lalu. The past. Kalau kata Concise Oxford English Dictionary (11th Edition),

past : 1) gone by time and no longer existing ; 2) a past period or the events in it, a person’s or thing’s history or earlier life.

Sesuatu yang sudah lewat.

Saya, kamu, semua orang pasti punya masa lalu. Lucunya, meskipun semua orang punya, dan itu sesuatu yang sudah lewat, masa lalu itu tidak pernah bisa diulang, atau diubah. Yang sudah lewat, ya biarkan lewat.

Tapi kadang, untuk beberapa kasus tertentu, masa lalu justru bisa mempengaruhi masa depan. Urusan capres-capresan misalnya, bagi seorang Prabowo, dugaan keterlibatannya dalam tragedi Trisakti Mei ’98, bisa menjadi senjata ampuh buat lawan politiknya di Pilpres 2014—lah, why so serioush? Bukan, saya bukan mau cerita urusan Prabowo sebenarnya.

Apa yang terjadi malam ini—hang on, we’re going to that part—benar-benar membuat saya sadar akan sesuatu. Oke. Skip dulu ya, itu bisa belakangan.

Kurang dari setahun terakhir, saya pernah mendengar dari seorang kakak, kisah penggalan masa lalu seseorang kepada seorang gadis. Saya tidak tahu, dan tidak paham, seberapa besar dan seberapa dalam perasaan seseorang itu, kepada sang gadis. Yang saya tahu,  saking seringnya si gadis menghiasi hari-hari seseorang itu, namanya terngiang dan terabadikan.

Hampir tiga tahun tak pernah bertemu—atau setidaknya, itu yang saya tahu, kalau lebih, atau kurang, ngga ngerti lagi—, seseorang dan si gadis dari masa lalunya itu, malam ini, bertemu lagi dalam sebuah kebetulan, dalam ruang tunggu bioskop di sebuah mal besar di pusat kota Jakarta—yang eu, eu, ya ini,  yang membuat saya sadar akan dua hal itu tadi. 

Well. Gadis dari masa lalu itupun menyalami saya—dan sukses mencetak penilaian kalau kami punya perbandingan 10-0, dimana saya 0-nya, dia 10-nya dan membuat saya sadar kalau saya ini.. such a good pretender.  Never in my life, I’ve ever felt how much pain in useless jealousy be covered up by powerlessness of laughter.  Antara pengen ketawa, tapi bete sendiri, tapi sadar, kalo betenya itu ngga penting, dan ngga perlu, dan lagunya Zen itu jadi terngiang-ngiang di kepala, jadi cuma bisa ketawa-ketiwi ga jelas—pasti bingung yah bacanya, heu, sama, saya juga. 😛 

Buah naga warnanya merah, lebih manis buah anggur, 
Mau gimana ga bisa marah, yaudah yuk, mending tidur.. 😀
 
Advertisements
Posted in aateulan.., dari kacamata njul.., impian jiwa.., naon sih njul..., njul cerita-cerita.., sebenarnya..

yang mana?

Hidup itu pilihan..

Well, sadar atau nggak, mungkin memang ada betulnya..

Jam weker nyala jam 2 pagi —bangun atau nggak, pilihan—, keluar kamar, masuk kamar mandi —sekalian wudlu atau sekedar cuci muka saja, pilihan—, sehabis subuh —tidur lagi atau nggak, pilihan—, sebelum berangkat ke kantor —comot pisang goreng ibu kos atau strict pada diet anti gorengan, pilihan—, dan segudang pilihan lain, yang selalu membutuhkan pertimbangan, sekecil apapun itu, yang jelas pasti punya konsekuensi tersendiri..

Jadi inget buku cerita Goosebumps Edisi “Pilih Sendiri Ceritamu” jaman SD tea, heu

Untuk beberapa hal, terkadang keharusan memilih ini  memang membutuhkan pertimbangan yang lebih dalam.. Memilih sekolah, jurusan kuliah, kelompok keahlian —ojol-ojol kana skripsi weh ieu mah, hahaha, pekerjaan, dan jodoh, mungkin cuma sebagian kecil dari sekian banyak pilihan yang harus disertai pertimbangan mendalam itu…

Ragu? Tentu semua orang pernah mengalaminya.. Ingin memilih yang ini, tapi kok rasanya begitu, ingin memilih yang itu, tapi kok rasanya begini, inginnya sama yang itu, tapi euu.. euu.. —hadaaah, ujung-ujungnya ngebahas jodo, heu—

Takut salah pilih, takut salah jalan, dan takut menghadapi konsekuensi pilihan itu , mungkin jadi alasannya.. Tapi saya yakin, mengapa Allah memberikan perasaan ragu tiap kita dihadapkan pada sebuah —mungkin beberapa, haha, pede banget guweh— pilihan, pasti ada artinya..

Bicara soal perasaan memang nggak akan pernah ada habisnya.. Seperti bicara cinta,  mungkin ngga akan pernah tamat dibahas puluhan SKS juga..

Mentok? Mungkin..

Dan akhirnya, saya selalu teringat pada ayat pamungkas yang luar biasa ini..

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al Baqarah 2: 216).

dan satu lagi —janji Allah yang selalu sukses membuat saya jadi merenung sendiri—, mungkin karena ini juga, sampai saat ini Allah masih memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki diri, supaya bisa mendapatkan yang terbaik.. 🙂

“...Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. an-Nuur 24: 26).

dan segalanya, akan indah pada waktunya…..