Posted in dedicate this for..., njul cerita-cerita..

you killed a cow.

“Once you kill a cow, you gotta make a burger.”

— Lady Gaga ~ Telephone

Kalo kata orang Sunda :

“Kagok edan.”

Nanggung. Keadaan yang menggantung dan tidak banyak orang menyukai keadaan demikian. Bisa terjadi multidimensi, dalam hal buat janji, deal-deal bisnis, dan sangat mungkin dalam hal cintaoke, yang terakhir ini saya aja ngarang.

Kadang orang kalau sudah berada dalam keadaan nanggung gitu, suka unbelievable jalan pikirannya. Kalo kita kira dia mau bikin A, ngga taunya dia muncul dengan B. Awalnya kita pikir orang seperti A akan melakukan B, ternyata dia (dengan teu kabeungeutan-nyah) melakukan C.

Kata teman saya, untuk urusan percintaan, ketika orang sudah merasa terpojok dalam posisi ke-nanggung-annya, cinta menjadi one-way-ticket-journeydimana perempuan dan laki-laki yang asalnya berteman, lalu salah satunya punya keinginan lebih dari sekedar berteman, disitulah potensi kehancuran hubungan pertemanan (bahkan silaturahmi) itu mulai munculmakanya jadi one-way-ticket juga.

Terus apa hubungannya sama ngebunuh sapi?

Untuk bisa buat burger dari daging sapi, butuh pengetahuan dan skill yang cukup, bukan?

Ketika keinginan tidak sesuai dengan kenyataan, orang butuh kedewasaan yang lebih untuk menyikapi kegagalanhaha, capruk aeng. Cuma, kadangkala usia tidak berbanding lurus dengan kedewasaanbukan bermaksud nyepet sih, tapi ya kalo ngerasa mah, heu, wayahna weh. 😛

Oke. Buat yang sudah membunuh sapi, tapi sayangnya ngga begitu pintar buat daging burger, hey, dapet salam dari one-way-ticket tuh…

Advertisements
Posted in aateulan.., dedicate this for..., impian jiwa.., njul cerita-cerita..

a song to remember #1 – KAHITNA

Sudah lama sekali nggak denger lagu ini. Yah, memang nggak selama blog ini ditinggalkan sampe bulukan sih, hehe..

my new mp3 player..

Tadi sore, sepulang dari kantor, Philips Go Gear Spark—MP3 player umur sebulan saya, heu— yang sengaja saya puter dengan default shuffle on ini tiba-tiba membawa pikiran saya kepada seorang sahabat. —sahabat loh yaa, bukan lebih.. pernah berharap lebih sih, tapi eu..eu.. yaudalahyaa, hahaha—  *ehkojadicurcol* *tepokjidat* 😛

Dialah yang pertama kali memperkenalkan saya sama lagu ini, dari Sony-Ericsson W800-nya. Jadi ngga heran, yang ada di kepala saya tiap kali lagu ini muncul di kuping, pasti dia.

Buat mereka yang ngefans harga mati sama Kahitna, mungkin apal mati lagu ini luar kepala, meskipun memang, ngga sepopuler lagu-lagu mereka yang lain, macem ‘Cantik’, atau ‘Andai Dia Tahu’. Keluarnya pun kalo ngga salah tahun 2003 —jaman saya masih pake rok biru dan jerawatan semukaeun amit-amit toktoktok dah—. 

Tapi meskipun ngga populer, lagu ini punya potensi penggalauan yang luar biasa, ngga kalah dari lagu-lagu Kahitna pada umumnya.

*yak angkat tangannya semuanyaaa, kita nyanyi sama-samaaa..*

*emang konser Rhoma Irama, heu*

Menantimu hingga saat cintaku temukan dirimu
Usai sudah sampai disini
Berdiri melabuhkan asmara

Menikah denganku, menempatkan cinta
Melintasi perjalanan usia
Menikah denganmu, menetapkan jiwa
Bertahtakan kesetiaan cinta
Selamanya..

Kahitna – Menikahimu

Not much I can say, how I was being mesmerized and made myself a mental movie that someday someone will propose to me with this song. Funny, that movie just didn’t have a normal scenario to show any of when, where, and mostly, who would ever done that.

Well, let the mystery reveals itself, take a sit back, and grab your popcorn.

 

NB :  yang dulu pake Sony-Ericsson W800… Heu.. Hai, hawayu? 😀

Posted in aateulan.., dedicate this for..., sebenarnya..

..(sharply) random..

I can’t make you love me, if you don’t..

You can’t make your heart feel something that it won’t..

Here in the dark, in these final hours,

I will lay down my heart ’till I feel the power..

But you won’t, no you won’t..

‘Cause I can’t make you love me if you don’t…..

Boyz II Men – I Can’t Make You Love Me

=======================================================

got this song randomly played on my Kube. and I suddenly felt just am. dem.

Posted in dedicate this for..., sebenarnya..

(silence) hello.

.. it only needs..

numbers of spontaneous rendezvous,

series of (almost) daily (silly) text messages,

a late phonecall in an overtime working shift,

a proper  pick-up-and-drive-home session,

and a dish of (imported) tenderloin steak and a (moodbooster) chocolate pudding,

to make me see..

You. Yes, you.

Hello, how are you?

Posted in naon sih njul..., njul cerita-cerita.., sebenarnya..

(a potential means of remedy i) accidentally found.

 
LETTING GO : A 12-Week Personal Action Program to Overcome a Broken Heart

This is what I am currently reading.

Not to brag or exaggerating, just got this book when I wandered alone —a.k.a. meng-geje, jalan-jalan sendirian ga jelas juntrungan, redlast week in one of the biggest (or maybe the biggest, it is, CMIIW¹) bookstore in Bandung.

Never really intended to buy this cheap imported secondhand book —neither ever thought that I (might) need it too—, just a simple spontaneity, (plus a thought about a friend —whom i blind-guessed, might need to read it, too— that crossed my mind),  successfully made me went home with this book, in my handbag.

Here’s the funny thing I read behind the book :

“Devastated by breakup or divorce? Shocked, depressed, humiliated, haunted by painful memories? Don’t wait for time to heal the hurt and restore your self-confidence. “

Me got broke up or divorce? Hell, NO. Same answers go to the following adjectives behind that sentence.

It has 318 pages, have it bookmarked on page 47, and keep going.

But till now, I just don’t know the answer, why I keep reading this stupid book.

=====================================================

¹ CMIIW : Correct Me If I’m Wrong, tolong benerin kalo salah.. heuheu..

Posted in aateulan.., naon sih njul..., sebenarnya..

WIBG..

Adakah ku singgah di hatimu, mungkinkah kau rindukan adaku?
Adakah ku sedikit di hatimu?
Bila kah ku mengganggu harimu, mungkin kau tak inginkan adaku..
Akankah ku sedikit di hatimu?

Bila memang, ku yang harus mengerti
Mengapa cintamu tak dapat ku miliki
Salahkah ku bila
Kau lah yang ada di hatiku..

# Maliq & D’Essentials ~ Untitled

Ternyata benar, WIBG —Waktu Indonesia Bagian Galau— itu bisa kapan aja.. Tergantung mood shuffle playlistnya… 😛

 

 

Posted in aateulan.., catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita.., sebenarnya..

wanita masa kini (dari sudut pandangnya..)

Inspirasi..

Hmm, memang bisa datang dari mana saja.. Jalan yang ramai, titik-titik hujan yang menetes, putaran kipas angin, sampai obrolan ibu-ibu di gang depan koskosan —tapi ini mah ngga seekstrim itu ketang, tingkat tinggi pisan, heu— meskipun, cerita saya berikut ini, mungkin bukan secara harfiah berasal dari mana saja, melainkan dari seseorang yang saya temui hari ini…

Namanya Windu Triastuti —saya manggilnya Mbak Windu—, seorang wanita matang dan dewasa, yang sedang hamil anak kedua di usia 38 tahun, dalam sebuah perkawinan yang baru saja berlangsung di usianya yang ke-35..

Dalam usia kehamilannya yang sudah mencapai 7 bulan ini, beliau tetap menjalankan tanggungjawab profesinya, yang sama seperti saya, menjadi kuli tinta media elektronik ternama. Padahal, jurnalis sekaliber dirinya, di kantor saya mungkin harusnya sudah menjadi produser senior, tapi ia memilih untuk tetap berkarya bebas di lapangan..

oke, skip that part, bukan disitu bagian inspirasinya—

Mbak Windu pun bercerita tentang pemikirannya…

Wanita masa kini, memang sebagian besar punya kemampuan, mereka tekun dan punya ambisi yang besar untuk bekerja dan sukses di bidang yang mereka geluti. Belum lagi, sekarang sudah jamannya emansipasi, wadah berkarya untuk wanita, ada hampir dimana-mana.. —sepakat—

Untuk wanita-wanita seperti itu, di usia menjelang 30, uang dan kemapanan, mungkin sudah ada di tangan.. Rumah dan pembantu tersedia,  bisa menikmati kesendirian dan bersenang-senang tanpa harus merasa terancam akan status belum berkeluarga, karena banyak teman dan kolega mereka yang memiliki gaya hidup yang sama. —kekhawatiran saya ini, atut jadi gini nanti

Tapi wanita masa kini juga harus merenungi, bahwa seiring dengan kemapanan itu, waktu juga berjalan dan usia terus bertambah.. Belum lagi, seiring dengan tingkat kedewasaan, pemikiran, dan kemapanan yang terus naik, sadar atau tidak, standar untuk menentukan calon pendamping hidup yang tepat, juga otomatis akan meningkat, sehingga tanpa sadar, mungkin wanita masa kini akan cenderung lebih picky dan berhati-hati karena mereka pasti tidak mau salah pilih.. Pernikahan itu seumur hidup, dan pastinya tidak ada yang mau mengorbankan sisa hidupnya hanya untuk menderita bersama orang yang salah..

Wanita itu, seharusnya menikah diatas 25 tapi tidak diatas 30.. Yang celakanya adalah, untuk jurnalis wanita —seperti kami— tanpa sadar standar pilihan itu bisa jadi lebih naik lagi, karena bertemu orang-orang berpemikiran maju dan pandai sudah jadi makanan sehari-hari. Pastinya, sedikit banyak, ada harapan ingin memiliki pasangan hidup yang sepintar dan sedewasa para narasumber itu, tetapi ingin yang usianya sepantaran kita. Padahal mereka juga berproses pada usianya, dan agak mustahil menemukan yang pola pikirnya sematang itu, kecuali memang mencari yang jauh lebih tua.. —harus cari yang lebih tua jauh gitu ini teh Mbak?—

Urusan pilih memilih ini, —nah ini diaaa..— ada 2 hal yang penting :

1. Tampang bukanlah hal yang utama, yang penting, orangnya memang punya “bibit” jadi orang baik.

Untuk apa kita menyiksa diri mencari yang good-looking tapi harus sakit hati karena dia doyan selingkuh?  —oke Mbak, i’m with you..—

2. Cari yang memang ingin dan bisa berkomitmen dengan dirimu.

Dengan keinginan berkomitmen itu, maka seorang pria akan mulai berusaha untuk membangun masa depannya bersama kamu, dan menerimamu apa adanya, satu paket. Dia harus bisa menerima dirimu, keluargamu, pekerjaanmu, keadaanmu, semuanya.. Kalau hanya sebatas, “Sudah makan belum?” atau “Mau dijemput dimana, jam berapa?” sih, anak ABG juga bisa.. —oh, see how you can read me, Mbak..

Jika ada pria yang tiba-tiba datang dalam kehidupan kamu dan dia banyak mengaturmu —yang notabene jam kerjanya tidak teratur dan sering begadang, pergi kemana saja, dan dengan siapa saja—, dan dia tidak suka kamu begitu, bilang aja, “Hey, siapa kamu, dateng-dateng belum jadi siapa-siapa udah berani ngatur-ngatur hidup saya!“.. Dan sudahlah, yang begitu lebih baik ditinggalin aja daripada jadi masalah di kemudian hari….

Apa yang ada di pikiran Mbak Windu mungkin memang betul adanya..  Sepanjang jalan pulang dari Ma’arif Institute tadi siang, membuat saya jadi berpikir.. Apakah betul, standar saya sebegitu tingginya? Atau kah saya yang (belum) masuk hitungan standar siapapun?