Posted in dari kacamata njul.., dedicate this for..., naon sih njul...

relativitas khusus itu.

Tanpa buah kata kau curi hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda saat bersamanya
Aku jatuh cinta....
~ Dia - Maliq & D'Essentials

 Teori relativitas Einstein¹, ternyata tidak hanya bisa diterapkan pada dimensi waktu, ruang, maupun, jarak.

Ada semacam relativitas yang seharusnya bisa diukur, bukan atas perbedaan waktu, atau cara pandang terhadap ruang, tetapi jarak antara orang pertama dan kedua, dimana ruang, waktu, jarak, menjadi suatu besaran yang juga relatif.

Mungkin Einstein juga lupa merumuskan ini dalam teori relativitas khususnya. Padahal bentuk relativitas khusus ini, bisa berubah menjadi energi. Relativitas ini, juga sangat dekat dengan interaksi antar atom. Entah apa gaya-gaya yang bisa mempengaruhi cara antar-atom ini bereaksi satu dengan yang lainnya, tapi relativitas ini tidak selalu bisa terjadi antara 2 orang yang berbeda.

Relativitas yang bisa menjelma menjadi energi ini, namanya CINTA. 🙂

Di dekat orang yang dicintai, waktu terasa lebih singkat. Jarak terasa lebih dekat. Tapi, ngga selalu gitu juga sih. Dalam beberapa kasus, jarak riil dengan orang yang dicintai memang dekat, tapi terasa lebih jauh. Waktu juga bahkan bisa terasa lebih lama. Ada yang betah, ada yang ingin segera pindah. Relativitas ini…. benar-benar relatif.

Saya selalu bilang,

“Chemistry itu bukan sesuatu yang bisa dibeli di warung. “

Proved.

Dulu mungkin saya cuma omdo. Tapi saya yakin, setiap orang akan bertemu waktunya sendiri untuk membuktikannya. Itupun, juga sesuatu yang relatif. Mungkin saya sudah, mungkin kamu belum.

dan kalau kamu, baca caprukan saya ini sampai habis, dan memikirkan seseorang, mungkin kamu sedang merasakan relativitas khusus yang saya maksud. Tentunya, ini adalah capruk. Relatif. Heu. 😛

—————————————- NOTES :

1) E = m C², dimana E = Energi, m = massa, dan C = besar kecepatan cahaya

Advertisements
Posted in dedicate this for..., njul cerita-cerita..

you killed a cow.

“Once you kill a cow, you gotta make a burger.”

— Lady Gaga ~ Telephone

Kalo kata orang Sunda :

“Kagok edan.”

Nanggung. Keadaan yang menggantung dan tidak banyak orang menyukai keadaan demikian. Bisa terjadi multidimensi, dalam hal buat janji, deal-deal bisnis, dan sangat mungkin dalam hal cintaoke, yang terakhir ini saya aja ngarang.

Kadang orang kalau sudah berada dalam keadaan nanggung gitu, suka unbelievable jalan pikirannya. Kalo kita kira dia mau bikin A, ngga taunya dia muncul dengan B. Awalnya kita pikir orang seperti A akan melakukan B, ternyata dia (dengan teu kabeungeutan-nyah) melakukan C.

Kata teman saya, untuk urusan percintaan, ketika orang sudah merasa terpojok dalam posisi ke-nanggung-annya, cinta menjadi one-way-ticket-journeydimana perempuan dan laki-laki yang asalnya berteman, lalu salah satunya punya keinginan lebih dari sekedar berteman, disitulah potensi kehancuran hubungan pertemanan (bahkan silaturahmi) itu mulai munculmakanya jadi one-way-ticket juga.

Terus apa hubungannya sama ngebunuh sapi?

Untuk bisa buat burger dari daging sapi, butuh pengetahuan dan skill yang cukup, bukan?

Ketika keinginan tidak sesuai dengan kenyataan, orang butuh kedewasaan yang lebih untuk menyikapi kegagalanhaha, capruk aeng. Cuma, kadangkala usia tidak berbanding lurus dengan kedewasaanbukan bermaksud nyepet sih, tapi ya kalo ngerasa mah, heu, wayahna weh. 😛

Oke. Buat yang sudah membunuh sapi, tapi sayangnya ngga begitu pintar buat daging burger, hey, dapet salam dari one-way-ticket tuh…

Posted in dedicate this for..., impian jiwa.., njul cerita-cerita.., sebenarnya..

one day.. one day. in the shortest future..

..that bond on their fingers.

I took the photo myself, not in a very long past. Dua minggu lalu, ketika rasa kangen dengan sejumlah sahabat sekaligus penasaran terhadap cafe paling happening di Bandung itu akhirnya terbayar.

Well. Ada rasa bahagia terselip tiap kali melihat foto ini.

“Boo, temen-temen gue, yang dulu nongkrong nyontek jurnal bareng, nyalin Tugas Pendahuluan Praktikum bareng, arisan bareng, udah nikah, dan bahkan udah mau jadi ibu juga dua-duanya…”

Tujuh bulan lagi, saya akan punya ponakan baru. Bukan satu, tapi dua—kalo masuk sekolah bareng pasti seangkatan.. 😀

Rasanya baru kemarin, masuk kuliah bareng. Jajan kebab terus nungguin jam kuliah yang ngangkang ke KBL—Kantin Barat Laut, red— bareng. Nungguin praktikum sambil kebut-kebutan bikin laporan di Comlabs bareng—jaman belom pada leptopan. Bagi-bagi tugas cari Teori Dasar bareng—padahal beda kelompok..  Miss those times, really. 

Time does flies, and the only thing you have in the end, is the memory attached within.

Hanya dalam beberapa tahun, dan kami bertujuh  sekarang sudah menempuh jalan masing-masing yang berbeda. Melompati batu nasib yang berlainan. Bereksperimen dengan reagen dan variabel hidup yang menghasilkan kesimpulan yang berlainan juga.

..at one of our golden moments : Edisi Baluran..

Kalo diliat dari urutan di foto, ternyata yang nikah duluan itu berurutan 2 orang sebelah kanan saya. Kenapaaa si gue kelewat yaa? 😀

Awe, ahli penyu, juga diver sekaligus driver cantik kita, sekarang sudah tinggal di Kep. Anambas, Riau. Awe ikut suaminya, Aip, yang lagi jadi dokter residen, demi gelar spesialis dan masa depan cerah keluarga mereka.

Achai, ahli lalat dan pestisida kita, sekarang malah asyik menekuni peluang resiko dan analisis  kredit di Bank Mega cabang Sukabumi. Achai juga akhirnya hidup merantau bersama Kang Firda, teman se-lab yang akhirnya jadi teman hidupnya juga.  Salah satu pasangan yang membuat saya yakin akan kebenaran pepatah jawa :

“Witing tresno, jalaran soko kulino.¹”

Well. Kalo kata temen saya yg lain, kadang kala ada beberapa kasus juga, yang justru malah berangkat mengarungi biduk rumah tangga bermodal :

“Witing tresno, jalaran soko ora ono sing lio.²” 

Yang mana yang bakal jadi cerita saya nanti, semoga barokahnya tetep sepanjang hidup dan nggak kemana-mana, heu, aamiinn…

Beruntungmm, beruntung apa ngga yah.. 😛 —gelar eligible bachelorette itu ngga cuma saya sandang sendiri. Masih ada sisa 4 orang lagi, yang masih kepentok trial-and-error mencari jati diri. Those four.. my ring-less buddies.

Icca, ahli Pasak Bumitanaman ya, tanaman beneran— yang juga ahli kultur jaringan kita, memilih untuk tetap setia pada jalur akademisnya—yang biasanya seringkali dikhianati anak Gajah Duduk lainnya, menekuni S2 dan (mudah-mudahan) akan mendapat gelar M. Si nya tahun 2014.  Wanita asli Rock-in-line alias Batujajar ini, selain serbabisa, juga encer otaknya untuk urusan mencari (tidak hanya jodoh, sampai  belanja kebutuhan rumah tangga), sekaligus, mencari sampingan dari selisipan mana saja. 😀

Wanti, si chubby yang ahli akuakultur ini, sekarang malah menekuni bidang persawitan. Dari satu proyek, ke proyek yang lain, wanita kuat lahir batin yang berdarah Bangka, tapi seringnya malah pulang ke Cianjur ini, pergi menimba ilmu dan mencari segenggam berlian.

Gita, mungkin jadi yang paling beruntung dari kita sisa-sisa yang berempat ini. Seengganya, si cantik yang ahli utak-atik gen udangkalo saya kan pisang ini, insya Allah sudah kebayang sama siapa bakal menggenapkan agamanya, ya cuma tinggal eksekusinya aja.. Aamiinn  🙂  Bareng-bareng Icca, Gita juga termasuk yang setia dengan gelarnya, dari S1 sampe S2 tetep aja ngulibek di lab yang sama.. 😀

Babay, kecil-kecil cabe rawit, yang paling kecil, tapi kadang suka paling dewasa diantara kami bertujuh ini, sekarang malah merantau ke Palembang. Ahli kultur jaringan dan embriogenik (calon) tanaman, sekarang malah berkutat di kebun karet sama sawit, ga jauh-jauh kaya Wanti. Sayang, sesi reuni terakhir kita kemarin, Babay ngga bisa hadir, karena nasibnya agak mirip saya tahun lalu, dimana tanggal merah tidak berarti apa-apa, karena kehidupan berjalan seperti biasa.

dan…. saya. Keahlian utak-atik gen dan skill membuat mutan—berasa Abraham Erskine, yang bikin serum buat Captain Americadari bakteri Escherichia coli  ini akhirnya tidak pernah saya pakai lagi. Ingin hati sekolah lagi, tapi sedang beradu nasib dan kesempatan.. Dulu dosen pembimbing saya selalu mengingatkan, kesempatan dan kemampuan yang saya punya ini, termasuk yang jarang, karena sebagian besar geneticist bekerja dengan DNA, dan tidak banyak yang biasa berkutat dengan RNA. Hehe, maaf ya Bu, mungkin nanti saya akan mengamalkan ilmu saya lagi.. entah kapan dan bagaimana caranya.. 🙂

Ibarat mencit yang ada dalam labirin percobaan pengamatan perilaku kognisi dan kecerdasannya ini, me and my ring-less friends, mungkin masih belum bisa menemukan di belokan mana, keju kami berada. Tapi, satu pelajaran yang bisa diambil dari Multiple T-Maze Test ini,  hampir sama dengan pelajaran yang diambil Robin Scherbatsky dan Barney Stinson—kebanyakan nonton “How I Met Your Mother”-detected—.

“The future is scary. But you can’t just run back to the past because it’s familiar. Yes, it’s tempting… But it’s a mistake.”

..Maze untuk tes kognisi dan perilaku mencit..

We’re gonna find our cheese. One day, one day.. 🙂

==================================================

¹ Pepatah Jawa, yang artinya : Cinta tumbuh karena sering bertemu.. Eh, iya gitu ya? Kurang lebih gitulah, heu.. 😛

² Kalo ini, ini bukan pepatah, tapi ini memang bahasa Jawa juga, yang artinya : Cinta tumbuh karena ngga punya pilihan yang lain , haha 😀

Posted in dedicate this for..., sebenarnya..

(silence) hello.

.. it only needs..

numbers of spontaneous rendezvous,

series of (almost) daily (silly) text messages,

a late phonecall in an overtime working shift,

a proper  pick-up-and-drive-home session,

and a dish of (imported) tenderloin steak and a (moodbooster) chocolate pudding,

to make me see..

You. Yes, you.

Hello, how are you?

Posted in aateulan.., catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita.., sebenarnya..

wanita masa kini (dari sudut pandangnya..)

Inspirasi..

Hmm, memang bisa datang dari mana saja.. Jalan yang ramai, titik-titik hujan yang menetes, putaran kipas angin, sampai obrolan ibu-ibu di gang depan koskosan —tapi ini mah ngga seekstrim itu ketang, tingkat tinggi pisan, heu— meskipun, cerita saya berikut ini, mungkin bukan secara harfiah berasal dari mana saja, melainkan dari seseorang yang saya temui hari ini…

Namanya Windu Triastuti —saya manggilnya Mbak Windu—, seorang wanita matang dan dewasa, yang sedang hamil anak kedua di usia 38 tahun, dalam sebuah perkawinan yang baru saja berlangsung di usianya yang ke-35..

Dalam usia kehamilannya yang sudah mencapai 7 bulan ini, beliau tetap menjalankan tanggungjawab profesinya, yang sama seperti saya, menjadi kuli tinta media elektronik ternama. Padahal, jurnalis sekaliber dirinya, di kantor saya mungkin harusnya sudah menjadi produser senior, tapi ia memilih untuk tetap berkarya bebas di lapangan..

oke, skip that part, bukan disitu bagian inspirasinya—

Mbak Windu pun bercerita tentang pemikirannya…

Wanita masa kini, memang sebagian besar punya kemampuan, mereka tekun dan punya ambisi yang besar untuk bekerja dan sukses di bidang yang mereka geluti. Belum lagi, sekarang sudah jamannya emansipasi, wadah berkarya untuk wanita, ada hampir dimana-mana.. —sepakat—

Untuk wanita-wanita seperti itu, di usia menjelang 30, uang dan kemapanan, mungkin sudah ada di tangan.. Rumah dan pembantu tersedia,  bisa menikmati kesendirian dan bersenang-senang tanpa harus merasa terancam akan status belum berkeluarga, karena banyak teman dan kolega mereka yang memiliki gaya hidup yang sama. —kekhawatiran saya ini, atut jadi gini nanti

Tapi wanita masa kini juga harus merenungi, bahwa seiring dengan kemapanan itu, waktu juga berjalan dan usia terus bertambah.. Belum lagi, seiring dengan tingkat kedewasaan, pemikiran, dan kemapanan yang terus naik, sadar atau tidak, standar untuk menentukan calon pendamping hidup yang tepat, juga otomatis akan meningkat, sehingga tanpa sadar, mungkin wanita masa kini akan cenderung lebih picky dan berhati-hati karena mereka pasti tidak mau salah pilih.. Pernikahan itu seumur hidup, dan pastinya tidak ada yang mau mengorbankan sisa hidupnya hanya untuk menderita bersama orang yang salah..

Wanita itu, seharusnya menikah diatas 25 tapi tidak diatas 30.. Yang celakanya adalah, untuk jurnalis wanita —seperti kami— tanpa sadar standar pilihan itu bisa jadi lebih naik lagi, karena bertemu orang-orang berpemikiran maju dan pandai sudah jadi makanan sehari-hari. Pastinya, sedikit banyak, ada harapan ingin memiliki pasangan hidup yang sepintar dan sedewasa para narasumber itu, tetapi ingin yang usianya sepantaran kita. Padahal mereka juga berproses pada usianya, dan agak mustahil menemukan yang pola pikirnya sematang itu, kecuali memang mencari yang jauh lebih tua.. —harus cari yang lebih tua jauh gitu ini teh Mbak?—

Urusan pilih memilih ini, —nah ini diaaa..— ada 2 hal yang penting :

1. Tampang bukanlah hal yang utama, yang penting, orangnya memang punya “bibit” jadi orang baik.

Untuk apa kita menyiksa diri mencari yang good-looking tapi harus sakit hati karena dia doyan selingkuh?  —oke Mbak, i’m with you..—

2. Cari yang memang ingin dan bisa berkomitmen dengan dirimu.

Dengan keinginan berkomitmen itu, maka seorang pria akan mulai berusaha untuk membangun masa depannya bersama kamu, dan menerimamu apa adanya, satu paket. Dia harus bisa menerima dirimu, keluargamu, pekerjaanmu, keadaanmu, semuanya.. Kalau hanya sebatas, “Sudah makan belum?” atau “Mau dijemput dimana, jam berapa?” sih, anak ABG juga bisa.. —oh, see how you can read me, Mbak..

Jika ada pria yang tiba-tiba datang dalam kehidupan kamu dan dia banyak mengaturmu —yang notabene jam kerjanya tidak teratur dan sering begadang, pergi kemana saja, dan dengan siapa saja—, dan dia tidak suka kamu begitu, bilang aja, “Hey, siapa kamu, dateng-dateng belum jadi siapa-siapa udah berani ngatur-ngatur hidup saya!“.. Dan sudahlah, yang begitu lebih baik ditinggalin aja daripada jadi masalah di kemudian hari….

Apa yang ada di pikiran Mbak Windu mungkin memang betul adanya..  Sepanjang jalan pulang dari Ma’arif Institute tadi siang, membuat saya jadi berpikir.. Apakah betul, standar saya sebegitu tingginya? Atau kah saya yang (belum) masuk hitungan standar siapapun?

Posted in aateulan.., dari kacamata njul.., impian jiwa.., naon sih njul..., njul cerita-cerita.., sebenarnya..

yang mana?

Hidup itu pilihan..

Well, sadar atau nggak, mungkin memang ada betulnya..

Jam weker nyala jam 2 pagi —bangun atau nggak, pilihan—, keluar kamar, masuk kamar mandi —sekalian wudlu atau sekedar cuci muka saja, pilihan—, sehabis subuh —tidur lagi atau nggak, pilihan—, sebelum berangkat ke kantor —comot pisang goreng ibu kos atau strict pada diet anti gorengan, pilihan—, dan segudang pilihan lain, yang selalu membutuhkan pertimbangan, sekecil apapun itu, yang jelas pasti punya konsekuensi tersendiri..

Jadi inget buku cerita Goosebumps Edisi “Pilih Sendiri Ceritamu” jaman SD tea, heu

Untuk beberapa hal, terkadang keharusan memilih ini  memang membutuhkan pertimbangan yang lebih dalam.. Memilih sekolah, jurusan kuliah, kelompok keahlian —ojol-ojol kana skripsi weh ieu mah, hahaha, pekerjaan, dan jodoh, mungkin cuma sebagian kecil dari sekian banyak pilihan yang harus disertai pertimbangan mendalam itu…

Ragu? Tentu semua orang pernah mengalaminya.. Ingin memilih yang ini, tapi kok rasanya begitu, ingin memilih yang itu, tapi kok rasanya begini, inginnya sama yang itu, tapi euu.. euu.. —hadaaah, ujung-ujungnya ngebahas jodo, heu—

Takut salah pilih, takut salah jalan, dan takut menghadapi konsekuensi pilihan itu , mungkin jadi alasannya.. Tapi saya yakin, mengapa Allah memberikan perasaan ragu tiap kita dihadapkan pada sebuah —mungkin beberapa, haha, pede banget guweh— pilihan, pasti ada artinya..

Bicara soal perasaan memang nggak akan pernah ada habisnya.. Seperti bicara cinta,  mungkin ngga akan pernah tamat dibahas puluhan SKS juga..

Mentok? Mungkin..

Dan akhirnya, saya selalu teringat pada ayat pamungkas yang luar biasa ini..

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al Baqarah 2: 216).

dan satu lagi —janji Allah yang selalu sukses membuat saya jadi merenung sendiri—, mungkin karena ini juga, sampai saat ini Allah masih memberikan saya kesempatan untuk memperbaiki diri, supaya bisa mendapatkan yang terbaik.. 🙂

“...Wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…” (QS. an-Nuur 24: 26).

dan segalanya, akan indah pada waktunya…..

Posted in re-post aja ini mah..

..fisika cinta..

*bismillahirrahmaanirrahim*
emang aneh ya rasanya kalo kita udah suka sama orang..
hal-hal yang rasanya gak masuk akal pun berasa sah-sah aja dilakukan..
dan njul baru sadar kalo itu yg lg terjadi sama njul skarang..

mukul tembok karena suka sama orang..
*lah,,katanya suka kok malah mukul” tembok? knapa eyke gk beli samsak aja skalian yak?*

sngaja lama” nongkrong” di dpn tpt nitip spatu di salman abis dzuhur, secara kuliah tu mulainya jam 1.. [karna biasanya selalu ketemu sama BANYAK ‘summer breeze’ yang bisa membangkitkan smangat njul buat kuliah..*alaahhh*]

ngirim” message antar client lwt komputer kalo lg di comlabs,, asal tau nomer komputer yg dia pake aja, dengan bebas merdeka njul ngirim” message gk penting yang isinya paling juga kyk,”<Client XX> Hai.. kamu anak XX kan?? sendirian aja..”
[dan bodohnya, hal gila ini paling sering njul kerjain.. emangnya yg dikirimin message tu gk bisa liat siapa yang ngirim?? it’s OBVIOUSLY SEEN in the NUMBER of the computer..*ya iyyalah pastinya klo pake komputer di comlabs sll sendirian, atw bdua,, y masak mu kroyokan..si eyke ni aneh juga..*
tapi sampe skarang njul teteup hepi hepi 2000 aj ngelakuinnya.. njul gk ngerti jg kadang” knp bisa gitu..]

titip” salam sama temennya yg sejurusan, bilangnya,”eh,eh, salamin bwt dia ya..bilang dari anak SITH gt..” Herannya, njul tiap hari ketemu sama anaknya, padahal dia beda jurusan, apa emang jodoh kali ya, makanya ktemu terus,,heheu..*alahh*

ah,, jadinya malu sendiri kalo diinget-inget…
secara gt, orang yang njul suka itu banyak dan kayaknya njul pernah “menggilai” (melakukan hal-hal gila loh, bukan menggilai yang itu..heu.. naoon deui..) hampir semuanya…

mungkin byk tmn”njul yg heran, njul tu kok bisa”nya suka sama banyak orang kayak gitu, dan tipe orangnya pun macem” lagi, gk ada kriteria khusus yang bisa disamain dari semuanya..
mulai dari yang botak smpe yang gondrong, yang kurus kering smpe yg bureteu, yang putih smpe yang gelap (gk tega njul nyebut item..), yang diem smpe yang anaknya pecicilan kayak cacing kepanasan, dari yang seger smpe yang dekil, dari anak LSS yg gila” smpe anak Gamais yg,,yah tau sndiri lah.. dari anak sipil (ujung depan), sampe anak tambang (ujung blakang), tiap jurusan ada tea koleksinya minimal satu..*alahh*
ah, macem” lah..

justru buat njul,ya itu seninya suka sama orang..
memperbesar spektrum jangkauan..*alahh*

hwaaah,, cinta itu emang aneh..
selain cinta itu emang inkompresibel dan gk dipengaruhi gaya gravitasi,

kita harus ngerti bahwa gk sll ada gaya aksi-reaksi di dalamnya..

kita gk pernah bisa ngukur frekuensi getarannya..

lazimnya si, cinta itu sifatnya sama dengan gas ideal karna tekanannya berbanding trbalik sama volumenya, tp teteup aja kadang kita jg gk bisa ngerti karna ada juga fenomena anomali dimana biarpun tekanannya makin gede, tp volumenya jg membesar..

klo cinta itu fasanya liquid, tiap-tiap orang punya titik uapnya sendiri..

kita gk pernah bisa ngukur percepatannya yg nilainya kdg positif kdg negatif…

kita gk pernah bisa ngira ke mana arah lajunya..

kita sendiri juga gk bisa ngontrol waktunya.. [klo emang tiba” ‘rasa’nya ilang gitu aja, bukan salah kita kan?? pngalaman njul banget ni ttg yg satu ini..]

kadang kita sendiri bingung, cinta itu benda tegar ato sekedar partikel..

biarpun kita pake katrol berapa banyak pun, rasanya kita gk pernah tau berapa banyak usaha yg harus dilakukan untuk membuat dia setimbang..

bahkan kita juga heran dengan fenomena keelastisitasannya, dengan harga modulus Youngnya yg semakin tinggi, semakin banyak yang sakit hati..
mmm,, emang subhanallah sekali..
njul bersyukur atas 8 tahun terakhir ini, dimana njul bisa ngeliat segalanya lebih jelas karna njul berada di luar sistem..
njul bersyukur karna njul jd bs belajar dr tmn” njul klo cinta itu gk selamanya rasanya manis..

sperti kata Agus di Jomblo,”Maaf Lan..Kita gk bs lg kayak gini..Saya….pilih dia…Klo sekarang saya milih kamu dengan alasan kmu lebih baik dr dia, suatu saat jg saya bakal ninggalin kmu karna saya ktemu org yg lebih baik lg..”
Well, he’s got the point..

njul jd ngerti klo cinta itu intinya komitmen, karna kita harus bisa menerima dia apa adanya dan bgitu jg sebaliknya..
itu dia, knpa buat njul memperluas spektrum jangkauan itu penting..
karna dgn suka sama orang dengan macem” tipe dan merk, kita jd bisa bljr utk mengenal dan menerima sifat” orang..

haduh, pwanjang beneeer..
gk tau knapa jd ngebahas ini,,abis hari ini njul dikejutkan sm kabar yg bner” bqn njul shock yg njul gk tau hrs sedih atw seneng..
sut akh,
lagi ngerjain laporan kok malah ngepost blog..