Posted in dari kacamata njul..

Tetap semangat, Rio!

image
Tweet official F1 (Twitter @F1)

Seperti petir di siang bolong (lebayatun, tapi da emang race nya siang bolong sih) saat lagi nongkrongin timeline Twitter officialnya F1 (karena di kantor ga bisa nonton Global TV terestrial – Indovision semuaternyata diacak), tiba-tiba muncul twit ini.

Hati serasa diacak-acak (eaaa).

Twit-twit bertema dukungan untuk Rio, dan yang membahas kegagalannya banjir di timeline dan jadi trending topic selama beberapa jam. Saya rasa sebagian besar orang Indonesia yang nonton sampe lupa siapa yang menang GP Australia saking males nonton begitu Rio nggak keluar paddock lagi.

Ratusan juta pasang mata hari ini tertuju pada layar Fox Sport (selain Global TV dan INews TV). Hampir bisa dipastikan, Indonesia turut menyumbang perolehan rating dan share, atas jutaan penonton dadakan yang rela meluangkan waktunya untuk menyaksikan langsung (lewat tipilah pastinya) debut perdana Formula 1 Rio Haryanto di Sirkuit Albert Park, Melbourne, Australia.

Jujur, saya bukan penggemar Formula 1. Apal nama pembalap ge udah syukur. Dari dulu, saya juga ngga ngerti da peraturan balapnya kayak apa. Buat saya (dulu mah), balap mobil atau motor itu ngga rame kaya bulutangkis atau sepakbola. Ngga ada deg-degannya acan. Nungguin orang balapan puluhan lap sampe berjam-jam, apa asiknya coba?
Tapi, thanks to Rio – yang saya yakin banyak orang lain juga merasakan hal yang sama – saya jadi tergerak untuk mengikuti dan mencari tahu lebih dalam tentang balapan jet darat ini. Beruntung, suami saya, si Ayah, hobi sama F1, jadi bisa ditatanya kalo saya ngga ngerti. Setelah tahu lebih banyak, ternyata, F1 itu seru juga yak (ndeso ih si Njul, hahaha).

image
si kasep soleh Rio Haryanto (foto : motorsport.com)

Anyway, saya ngga bakalan berpanjang lebar sok menganalisis seperti orang-orang setimeline twitter, yang ngebahas udah kaya paling ngerti, kenapa mobil Manor Rio mogokan gini lah, kenapa Rio ngemis 15 juta Euro buat mobil mogokan gitu lah, kenapa Rio begini dan begitu blablabla.. Nggak.

Indonesia boleh bangga punya Rio Haryanto sebagai pembalap Indonesia pertama di Formula 1. Walau bagaimanapun, hari ini Rio sudah menorehkan sejarah baru. Tapi, kita juga harus realistis. Rio bukan pembalap yang dikontrak tim besar banyak duit yang mobilnya keren-keren. Dia udah bisa finish pun udah alhamdulillah. Pembalap sekelas Kimi Raikonnen aja juga ngga finish kok, heu.
Saya cuma kasihan aja sama Rio. Gimana coba jadi dia, bayangin. Setiap dia masuk kokpit mobil F1, kebayang jutaan rakyat Indonesia berharap dia menang. Beban loh itu.
Masih ada GP Bahrain, GP Shanghai, dan seterusnya. Tiap balap kebayang terus. Kalo saya pasti belum masup kokpit, udah sakit perut duluan, berharap bisa ngilang masuk lobang.

Walaupun berat, Rio udah bisa jadi teladan buat banyak orang. Senyumnya tetep menawan (eh), meskipun kemaren kena penalti, terus mobilnya mogokan. Tetap semangat, Rio! Still a long way to go! We’re watching.💋💋

Advertisements
Posted in catatan seorang jurnalis, dari kacamata njul..

cerita bangsa dari semangkok Shabu-shabu kuah susu.

Banyak orang berpikir, menjadi wartawan itu enak.

Well, ngga sepenuhnya salah sih.. Harus saya syukuri, karena apa yang saya alami selama hampir 2 tahun ini, sudah banyak sekali menyumbang pelajaran hidup—jika dibandingkan dengan kehidupan seandainya saya tidak memilih jalan ini, dan tetap memegang mikropipet atau RNA Isolation Kit.

Setiap hari, ada aja pelajaran yang bisa dibawa pulang. Setiap orang yang saya temui, bisa jadi sumber inspirasi. Apapun kisah atau kasus yang saya dalami, ada hikmah yang bisa dibagi.

Gimana ngga? Setiap hari, selalu ada kejutan baru. Pagi ketemu tukang sampah, sorenya ketemu Menteri, itu sangat bisa, bahkan pernah saya alami. SEKONTRAS ITU.

Bukan berarti kehidupan sebagai peneliti itu membosankan loh. Jadi scientist itu menurut saya perjuangannya juga ngga kalah beratnya. Berbeda dengan ilmu sosial, tantangan ilmu sains itu,  lebih abstrak. —apa yang dicari dan apa yang harus dibuktikan, mirip kaya lagunya Utopia gitu deh.. “Antara Ada dan Tiada”.

Tanpa kesabaran dan mental yang ngga gampang menyerah, you’re nothing! —hanya mereka yang pernah merasakan, mengulang seluruh rangkaian eksperimen TA demi mendapatkan hasil sesuai hipotesis yang memenuhi kaidah statistik, yang paham betapa beratnya perjuangan itu.

Hanya saja… Ketika masuk dunia jurnalistik, buat saya dunia yang asalnya bisa dideterminasi menggunakan B/W Contrast, sekarang keliatannya jadi Greyscale semua. Batas antara benar dan salah, yang sejelas monokrom, hitam dan putih, sekarang tak lagi sejelas itu. Semuanya abu-abu. Inilah yang kadang membuat saya ingin kembali lagi ke bangku kuliah, dimana hidup ini terasa lebih simpel, sesimpel memikirkan “Hari ini gue ke kampus ngerjain apa ya di Lab?” dan mau download film atau serial apa dari 167.205.30.69 —maaf, konten internal Kampus Gajah Duduk, heu..

Menjadi jurnalis, menuntut saya untuk bersinggungan langsung dengan permasalahan nyata yang terjadi di negeri ini. Menyadari betapa carut-marutnya sistem negara ini, rasanya kepengen pindah aja keluar negeri. Suram.

Tapi, beberapa hari yang lalu, seseorang mengubah cara pandang saya, di suatu sesi makan Shabu-shabu kuah susu kedelai, dan es krim rasa kacang merah di restoran Jepang kelas premium hotel ternama ibukota. Seorang anggota dewan, pimpinan Komisi, menjabat rangkap sebagai Ketua Fraksi, yang dibesarkan dalam kampus yang sama. ITB. Beliau pun berbagi hasil kontemplasinya kepada kami…..

Bangsa ini sudah telanjur bermental kerdil.  Padahal negara ini berpotensi besar. Kita harus bersyukur, di mata dunia, ekonomi makro kita justru sedang menuju fase puncak sinusoidal. Dibandingkan bangsa Eropa, Italia dan Yunani misalnya, kondisi ekonomi kita saat ini jauh lebih baik. Disana, yang dulunya kelas menengah, sekarang melarat.

Karena apa?

Utang mereka besar. Rasio utang terhadap PDB mereka mencapai 150%, sementara rasio utang terhadap PDB Indonesia masih dalam kisaran 24,9 %. yang artinya, masih jauh lebih bagus, karena biarpun utang, tapi utangnya mendorong  pertumbuhan ekonomi. Ironisnya, dengan “rejeki”  ini kita justru semakin sulit berpikir besar. 

Dengan sepak terjang media berhaluan industri, masyarakatnya  telanjur dididik untuk menjadi generasi yang skeptis dan  pesimistis terhadap bangsanya sendiri. Stigma buruk terhadap pemerintahan, lembaga hukum, dan legislatif sudah kepalang melekat.

—hard to admit, tapi ini nyata, dan saya tidak sendiri.

Dengan demokrasi yang dibangun di atas kemiskinan, dan kebodohan, tanpa sokongan upaya pencerdasan dari media, masyarakatnya tumbuh menjadi masyarakat yang labil, dan mudah bergeser  tata nilainya, sebagai imbas dari pemberitaan yang selaluuuu buruk terhadap segala sesuatu.

Contoh : Kasus Korupsi Wisma Atlet. Itu cuma sejumput kecil dari kerugian negara yang dibesar-besarkan media. Bukan berarti salah mengangkat itu, tapi  masih banyak kasus lain yang  jauh lebih besar, justru tidak mendapat perhatian sama sekali.  Dibalik kasus Wisma Atlet, Century, Hambalang, dll, yang ruginya sampai trilyunan rupiah, masih banyak kasus lain yang merugikan negara, bahkan sampai RIBUAN TRILYUN, tapi tak ada yang membukanya sama sekali.    

Selain itu, meskipun dasar negara Indonesia adalah campuran dari fondasi keagamaan  dan nilai-nilai budaya lokal, tapi sayangnya fondasi hukumnya justru dibangun dari hasil adopsi bangsa penjajah.

Ini adalah bunyi cita-cita bangsa kita : 

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

Adil, artinya  seimbang, adil secara hukum. Makmur, tak lain dan tak bukan merujuk pada  kemakmuran ekonomi bangsa.

Tapi, bagaimana bisa, fondasi hukum NEGARA PENJAJAH, bisa mengutamakan keadilan untuk negara jajahannya? Dengan fondasi hukum demikian, pencurian sandal jepit, diganjar 5 tahun, tapi  kasus suap cek pelawat hanya diganjar 1,5 tahun. Dimana letak keadilannya? 

Memang, bangsa ini sudah kepalang nggak punya arah. Berjalan tanpa GBHN. Tak punya REPELITA. Dengan Presiden yang lembek  bak boneka, dan sangat antek Amerika. 

Tapi, pertanyaannya : BAGAIMANA BANGSA INI MAU BESAR, KALAU SEMUA ORANG HANYA BISA MENGKRITIK TANPA MAU MENJADI BAGIAN DARI PROSES SOLUTIFNYA?

Well

Mungkin pertanyaan ini dulu cuma jadi caprukan mereka-mereka calon-calon Presiden Keluarga Mahasiswa, atau calon-calon Ketua BEM dimana-mana.

Tapi percayalah, ibarat korban kecelakaan Xenia Maut-nya Afriyani Susanti di Tugu Tani, Minggu siang kelabu tanggal 22 Januari 2012 itu, negara ini sedang terkapar berdarah-darah, dan harus segera masuk ICU untuk ditangani. 

Dokter-dokter ahlinya itu KITA. Kalo bukan kita, SIAPA LAGI??

Menulis : Bangkit dari kubur.

Menulis blog lagi, adalah suatu tantangan yang cukup menantang-naoon deui. Tapi, thanks to sahabat karib saya sejak kecil yang selalu tertarik dengan dunia tulis menulis, dan kini terpisah ribuan mil-doi di Belanda, sekolah-tapi tetap istiqomah mengisi blog nya dengan tulisan-tulisan yang sederhana tapi tetap inspiratif, sukses membuat saya kembali tergerak menulis blog lagi. Yes, makasih Monik, meskipun jauh, Njul tetap mengintip setiap postingan kamu, jadi silent reader. Heheheh.

Gara-gara buka-buka blog doi lah, saya baru tahu-setelah bertahun-tahun, I left this blog neglected– ternyata sekarang WordPress punya tampilan yang cukup user-friendly meskipun dibuka dari smartphone. Hare gene buka-buka laptop, cuma buat ngeblog doang. Ribet bok. Haha, wartawan kok males nulis, wartawan macam apaaa..

Justru karena tiap hari berjibaku dengan kata-kata, diksi, menentukan efisiensi kalimat, belum lagi mikirin durasi dan kesesuaian naskah sama gambar, efek dramatis audio visual, udah keburu mumet duluan mau nulis pengalaman in the end of the day. Rasanya udah pengen melempar diri ke kasur aja terus merem-setelah masak nasi, nyiapin lauk pauk, endeswey endebrey– setiap sampe di rumah. Bororaah mau buka laptop terus nulis blog. Haha, itu mah sayanya aja yang males. 

Tapiiii, setelah melihat semangat ODOP yang dimiliki teman-teman, semangat menulis jadi bangkit lagi. Mungkin masih dalam pencarian untuk menjadi sesuatu yang inspiratif, banyaknya mah capruk aja.

Terima kasih sudah menghabiskan waktu membaca come-back-post saya yang tidak penting dan ditulis saat lagi ngemil bala-bala ini. Semoga saya bisa istiqamah lagi menulis blog.

Bismillah.

ap_blog_jchewitt-quote

 

 

Posted in dedicate this for..., njul cerita-cerita.., sebenarnya..

..was and then..

"Masa lalu, oh, oh.. Hanya bayangan..
Melukis seribu tanya yang tak terjawab."
~ Zen - Hanya Bayangan

Masa lalu. The past. Kalau kata Concise Oxford English Dictionary (11th Edition),

past : 1) gone by time and no longer existing ; 2) a past period or the events in it, a person’s or thing’s history or earlier life.

Sesuatu yang sudah lewat.

Saya, kamu, semua orang pasti punya masa lalu. Lucunya, meskipun semua orang punya, dan itu sesuatu yang sudah lewat, masa lalu itu tidak pernah bisa diulang, atau diubah. Yang sudah lewat, ya biarkan lewat.

Tapi kadang, untuk beberapa kasus tertentu, masa lalu justru bisa mempengaruhi masa depan. Urusan capres-capresan misalnya, bagi seorang Prabowo, dugaan keterlibatannya dalam tragedi Trisakti Mei ’98, bisa menjadi senjata ampuh buat lawan politiknya di Pilpres 2014—lah, why so serioush? Bukan, saya bukan mau cerita urusan Prabowo sebenarnya.

Apa yang terjadi malam ini—hang on, we’re going to that part—benar-benar membuat saya sadar akan sesuatu. Oke. Skip dulu ya, itu bisa belakangan.

Kurang dari setahun terakhir, saya pernah mendengar dari seorang kakak, kisah penggalan masa lalu seseorang kepada seorang gadis. Saya tidak tahu, dan tidak paham, seberapa besar dan seberapa dalam perasaan seseorang itu, kepada sang gadis. Yang saya tahu,  saking seringnya si gadis menghiasi hari-hari seseorang itu, namanya terngiang dan terabadikan.

Hampir tiga tahun tak pernah bertemu—atau setidaknya, itu yang saya tahu, kalau lebih, atau kurang, ngga ngerti lagi—, seseorang dan si gadis dari masa lalunya itu, malam ini, bertemu lagi dalam sebuah kebetulan, dalam ruang tunggu bioskop di sebuah mal besar di pusat kota Jakarta—yang eu, eu, ya ini,  yang membuat saya sadar akan dua hal itu tadi. 

Well. Gadis dari masa lalu itupun menyalami saya—dan sukses mencetak penilaian kalau kami punya perbandingan 10-0, dimana saya 0-nya, dia 10-nya dan membuat saya sadar kalau saya ini.. such a good pretender.  Never in my life, I’ve ever felt how much pain in useless jealousy be covered up by powerlessness of laughter.  Antara pengen ketawa, tapi bete sendiri, tapi sadar, kalo betenya itu ngga penting, dan ngga perlu, dan lagunya Zen itu jadi terngiang-ngiang di kepala, jadi cuma bisa ketawa-ketiwi ga jelas—pasti bingung yah bacanya, heu, sama, saya juga. 😛 

Buah naga warnanya merah, lebih manis buah anggur, 
Mau gimana ga bisa marah, yaudah yuk, mending tidur.. 😀
 
Posted in dari kacamata njul.., dedicate this for..., naon sih njul...

relativitas khusus itu.

Tanpa buah kata kau curi hatiku
Dia tunjukkan dengan tulus cintanya
Terasa berbeda saat bersamanya
Aku jatuh cinta....
~ Dia - Maliq & D'Essentials

 Teori relativitas Einstein¹, ternyata tidak hanya bisa diterapkan pada dimensi waktu, ruang, maupun, jarak.

Ada semacam relativitas yang seharusnya bisa diukur, bukan atas perbedaan waktu, atau cara pandang terhadap ruang, tetapi jarak antara orang pertama dan kedua, dimana ruang, waktu, jarak, menjadi suatu besaran yang juga relatif.

Mungkin Einstein juga lupa merumuskan ini dalam teori relativitas khususnya. Padahal bentuk relativitas khusus ini, bisa berubah menjadi energi. Relativitas ini, juga sangat dekat dengan interaksi antar atom. Entah apa gaya-gaya yang bisa mempengaruhi cara antar-atom ini bereaksi satu dengan yang lainnya, tapi relativitas ini tidak selalu bisa terjadi antara 2 orang yang berbeda.

Relativitas yang bisa menjelma menjadi energi ini, namanya CINTA. 🙂

Di dekat orang yang dicintai, waktu terasa lebih singkat. Jarak terasa lebih dekat. Tapi, ngga selalu gitu juga sih. Dalam beberapa kasus, jarak riil dengan orang yang dicintai memang dekat, tapi terasa lebih jauh. Waktu juga bahkan bisa terasa lebih lama. Ada yang betah, ada yang ingin segera pindah. Relativitas ini…. benar-benar relatif.

Saya selalu bilang,

“Chemistry itu bukan sesuatu yang bisa dibeli di warung. “

Proved.

Dulu mungkin saya cuma omdo. Tapi saya yakin, setiap orang akan bertemu waktunya sendiri untuk membuktikannya. Itupun, juga sesuatu yang relatif. Mungkin saya sudah, mungkin kamu belum.

dan kalau kamu, baca caprukan saya ini sampai habis, dan memikirkan seseorang, mungkin kamu sedang merasakan relativitas khusus yang saya maksud. Tentunya, ini adalah capruk. Relatif. Heu. 😛

—————————————- NOTES :

1) E = m C², dimana E = Energi, m = massa, dan C = besar kecepatan cahaya

Posted in dedicate this for..., njul cerita-cerita..

you killed a cow.

“Once you kill a cow, you gotta make a burger.”

— Lady Gaga ~ Telephone

Kalo kata orang Sunda :

“Kagok edan.”

Nanggung. Keadaan yang menggantung dan tidak banyak orang menyukai keadaan demikian. Bisa terjadi multidimensi, dalam hal buat janji, deal-deal bisnis, dan sangat mungkin dalam hal cintaoke, yang terakhir ini saya aja ngarang.

Kadang orang kalau sudah berada dalam keadaan nanggung gitu, suka unbelievable jalan pikirannya. Kalo kita kira dia mau bikin A, ngga taunya dia muncul dengan B. Awalnya kita pikir orang seperti A akan melakukan B, ternyata dia (dengan teu kabeungeutan-nyah) melakukan C.

Kata teman saya, untuk urusan percintaan, ketika orang sudah merasa terpojok dalam posisi ke-nanggung-annya, cinta menjadi one-way-ticket-journeydimana perempuan dan laki-laki yang asalnya berteman, lalu salah satunya punya keinginan lebih dari sekedar berteman, disitulah potensi kehancuran hubungan pertemanan (bahkan silaturahmi) itu mulai munculmakanya jadi one-way-ticket juga.

Terus apa hubungannya sama ngebunuh sapi?

Untuk bisa buat burger dari daging sapi, butuh pengetahuan dan skill yang cukup, bukan?

Ketika keinginan tidak sesuai dengan kenyataan, orang butuh kedewasaan yang lebih untuk menyikapi kegagalanhaha, capruk aeng. Cuma, kadangkala usia tidak berbanding lurus dengan kedewasaanbukan bermaksud nyepet sih, tapi ya kalo ngerasa mah, heu, wayahna weh. 😛

Oke. Buat yang sudah membunuh sapi, tapi sayangnya ngga begitu pintar buat daging burger, hey, dapet salam dari one-way-ticket tuh…

Posted in dari kacamata njul.., dedicate this for..., njul cerita-cerita..

good bye, Whitney.. a lesson you taught me..

Seperti biasa, begitu melek, hal pertama yang saya lakukan setelah baca doa baru bangun tidur, adalah ngecek jam, (dan kalo belum subuh), ngecek TL Twitter.

Something deeply shocking, not only for me, but for mostly for everyone, is CNN’s timeline saying :

“Singer Whitney Houston has died at the age of 48. CNN has the latest on air now and at http://CNN.com.”

Saya kira saya salah liat. WHITNEY HOUSTON gituuuuu.. Mungkin nyawa saya yang belum ngumpul.

Belum puas, saya nyalain TV. Masih jam 8 pagi.

Breaking News MetroTV : WHITNEY HOUSTON MENINGGAL DUNIA

Oke. Berarti ngga ada yang salah sama mata dan telinga saya.This is really happeningAfter Michael Jackson, now herShe was definitely in my list of dream concerts. No one will ever sing like her, and everyone will miss her golden voice.

Sebab kematiannya masih misteri, tapi Breaking News nya MetroTV ngaitin isu bahwa Whitney didiagnosa menderita emphysema. (Hal yang sama juga saya baca disini.)

Penasaran, apa itu emphysema? I consulted my Martini.

Emphysema (em-fi-ZÉ-ma) is a chronic, progressive condition characterized by shortness of breath and inability to tolerate physical exertion. The underlying problem is the destruction of alveolar surfaces and inadequate surface area for oxygen and carbon dioxide exchange. Emphysema has been linked to the inhalation of air that contains fine particulate matter of toxic vapors, such as those in cigarettes smoke, genetic factors, and also aging. An estimated 66% of adult males and 25% of adult females have detectable areas of emphysema in their lungs (Martini, 7th edition, 2006).

Well, yes, people grow old, and die. Memang, umur siapa yang tahu. Kata teman saya (yang perokok berat), orang yang nggak merokok pun bisa meninggal. Bener. Nggak ada yang salah dengan itu. Orang dagang baso di pinggir jalan aja bisa tiba-tiba diseruduk bis dengan rem blong kokjadi nyambung ke kecelakaan bis Karunia Bakti, Jumat malemnya di Cisarua yang makan 15 korban jiwa deh .

Cuma, kalaupun benar, Whitney Houston meninggal karena gaya hidupnya yang party-goers dan  nggak bisa lepas dari rokok, then she should really taught me (and everyone) something.  Men, dia meninggalnya masih umur 48 gitu! 😦  

It’s pretty hard to say, but I can’t help it. IT IS such a waste, for someone as gifted, and talented as she is, to die of  an addiction to cigarettes smokes (and drugs). Frankly speaking, itulah kenapa, saya ngga mau nanti punya suami perokok meskipun ngga tau ya, nanti dapet rejekinya kaya gimana—.

Bukan apa-apa, saya cuma ngga mau ditinggal mati muda. Itu aja. 😉

So long, Whitney.. You are such a legend, and you’ll surely be missed..

I don’t really need to look very much further
I don’t want to have to go where you don’t follow
I won’t hold it back again, this passion inside
I Can’t run from myself
There’s nowhere to hide
Your love I’ll remember, forever

Don’t make me close one more door
I don’t wanna hurt anymore
Stay in my arms if you dare
Or must I imagine you there
Don’t walk away from me…
I have nothing, nothing, nothing…

If I don’t have you…

Whitney Houston – I Have Nothing (OST Bodyguard)

—one of my favorite.