Posted in life hacks, njul cerita-cerita.., ODOPfor99days2017

Ketika Kami Jadi Korban Perampokan

Waspadalah.. waspadalah.. waspadalah..

Tengah malam itu, kata-kata Bang Napi mendadak terngiang di kepala. Rasa terkejut, sedih, hampa, kosong, bingung, dan marah, campur jadi satu. Kejahatan memang gak pandang bulu, dan gak pakai permisi (ya iya kalo malingnya datang pakai permisi, assalamualaikum, spada… situ mau nyolong apa arisan?).. Sumpah, seumur hidup saya nggak pernah (dan jangan sampai pernah sekali-kali lagi, naudzubillah) ngebayangin bakalan jadi korban perampokan.

19 Januari 2017. Malam itu, jam tangan masih menunjukkan pukul 00.15 saat saya turun dari boncengan si Mas, untuk buka gembok rumah. Sekali, dua kali, tiga kali, gembok yang biasanya bukanya lancar, tumben-tumbennya jadi macet. Beranjaklah saya ke ruas pagar yang satunya, mencoba alternatif jalan masuk dari yang biasanya.

Mimpi buruk dari malam yang (seharusnya berakhir) menyenangkan, sepulang kami nonton La La Land di XXI Gandaria City, dimulai.

Gembok di ruas pagar yang satunya lagi LENYAP. Lembaran fiber yang menempel di pagar, sudah rusak disobek paksa.. Mobil memang masih terparkir di tempatnya, tapi PINTU SAMPING RUMAH UDAH NGABLAK KEBUKA LEBAR. Kusen pintu udah rusak dibobol linggis. Itu momen pertama jantung mau copot. Kalo dikasih music score kayak di film kalik ibarat masuk scene horor pas tokoh utamanya masuk kamar mandi yang ada cerminnya. Hantunya udah siap-siap mau keluar.

IMG_20170119_001048.jpg
Pintu kamar kami yang dibobol maling

Masih dengan helm di kepala, saya langsung lari masuk ke ruang tengah, nyalain lampu.

Pintu kamar utama yang biasanya terkunci rapat, TERNYATA UDAH KEBUKA LEBAR JUGA… Isi kamar kami udah amburadul diacak-acak. Baju-baju dari lemari udah diobrak-abrik, sampe segala macem isi cosmetic case, lipstik, eyeshadow, bedak, dan teman-temannya di atas meja dandan, udah pindah ke lantai. Di saat jantung rasanya udah hampir berenti, otak masih susah payah mencerna.

“Apa iya rumah gue baru aja kemalingan? Apa iya gue jadi korban perampokan?”

Sementara si Mas udah sadar kalau kita jadi korban perampokan, dan langsung bergegas lapor ke satpam dan ke Polsek Serua yang kantornya di depan kompleks, saya langsung ngecek keberadaan barang berharga yang bisa terlihat tanpa menyentuh apa-apa. Alhamdulillah, kunci motor sama kunci mobil masih ada di tempatnya. Emas batangan dari mas kawin nikahan yang disembunyikan di tempat rahasia, masih ada. Dua televisi di ruangan yang berlainan, juga masih ada di tempatnya. Blender, DVD, setrika, mesin cuci, kulkas, juga masih ada. Terus apa yang hilang?

Gak bisa mikir, saya pun duduk di ruang tengah, banyak-banyak istighfar, sambil telpon orang tua di Bandung, menceritakan kabar duka ini. Takut juga sih, kalau malingnya tiba-tiba balik lagi, sementara saya di rumah sendirian dalam rumah yang vulnerable karena udah dibobol maling. I felt soooooo horrible I couldn’t describe.

Gak lama, si Mas kembali, bawa polisi, satpam, Pak RT, dan banyak orang lain yang entah siapa, di tengah dinginnya malam yang untungnya gak pakai hujan deras itu. Dengan hati-hati banget, supaya ga ngerusak TKP, saya periksa apa sebenarnya barang yang dicolong sama si maling nurus tunjung sialan yang sempet-sempetnya minum air dari dalam kulkas itu-which is si gue taunya karena botol penuh air dingin yang ada di dalam kulkas udah pindah tempat di depan teras, dan berkurang isinya.

Satu laptop HP putih jebot perjuangan yang saya pakai untuk ngerjain skripsi (beserta chargernya), Blackberry Bold II putih yang dulu saya pakai buat ngetik berita, sama Smartfren Andromax Z punya si Mas yang semuanya kami simpan di dalam lemari, raib. Celengan iseng saya sama si Mas yang isinya ga sampe Rp200.000 itu juga ternyata udah pindah tempat dan kosong. Parfum Paris Hilton saya, dan parfum si Mas dari seserahan dulu yang masih dalam kotak, penuh dan biasanya teronggok manis di meja rias karena dihemat-hemat makenya, rupanya digondol juga. Kotak isi bros sama cincin-cincin kondangan (yang alhamdulillahnya imitasi), juga hilang. Tapi, buat saya, yang paling berharga dari laptop bersejarah yang hilang itu adalah kenangan yang tersimpan dari foto-foto lawas, data skripsi, sama koleksi serial favorit sepanjang masa, “How I Met Your Mother” lengkap dari season 1 sampe tamat season 9 yang ya udalah yaa, mau gimana lagi, ikhlasin aja.

Urusan sama polisi dan penyidik baru kelar jam 3 pagi. Mungkin saya yang terlalu high expectation ya, kirain tim penyidik dari Polres Ciputat yang dateng bakal bawa segambreng peralatan pencuplik sidik jari lengkap sama gloves, kuas karbon, dan kantong barbuk. Ternyataaaaaa… buat bawa kaleng celengan sebagai barbuk aja mereka MINTA (minta booo, ga bawa sendiri) keresek bekas dari si gue. Haha. I was like…. mmmm, OKAY. Entah harapan saya yang ketinggian yak, dianggep polisi Indonesia bisa secanggih polisi luar negeri, gara-gara kebanyakan nonton CSI atau NCIS.

Baru kali itu, saya merasakan, gimana rasanya jadi korban yang ditanya-tanya penyidik. Biasanya kan cuma motong petikan wawancara korban aja kalo ada kasus perampokan yang mau ditayangin dalam program berita. Now, I can fully feel the sorrow and relate to them.

Sehari setelah kejadian pun, perasaan shock dan traumanya masih belum ilang. Saya dan si Mas masih males ngapa-ngapain atau beranjak dari rumah, yang sementara kuncinya cuma bisa diperbaiki darurat. Sedih sebenarnya. Karena seharusnya akhir pekan ini, jadi akhir pekan pertama Kynan ikut jadi warga Tangsel kaya ayah bundanya, alias boyongan for good. Tapi, manusia memang cuma boleh punya rencana, eksekusinya mah gimana Allah aja. Mungkin memang menurut Allah belum waktunya Kynan dibawa pindahan. Then we have no other choice than to postpone it for another month or two, at least sampai kira-kira kondisi keamanan rumah udah mulai kondusif. Untung juga sih kejadiannya pas ga ada orang di rumah. Serem juga kan kalo amprokan sama malingnya. Duh, lebih ga kebayang horornya..

What You Should Do When Your Home Is Being Robbed

In the end of this blabbering curhat post about kerampokan, saya cuma pengen berbagi tips-tips pencegahan, dan kalo-kalo (tapi amit-amit jangan sampe) rumah anda jadi korban perampokan.

Tips berikut mungkin berguna kalau posisinya seperti saya, mendapati rumah sudah dirampok.

  • Don’t touch anything!

Kalo biasa nonton serial CSI atau NCIS mah udah tau kali ya. Biar TKP nya ga rusak dan polisi masih bisa ambil sidik jari pelaku. FYI, mereka cuma mau proses barang bukti yang “belum tercemar”.

  • Segera lapor pihak berwajib

Satpam/Hansip, Pak RT, lebih bagus lagi kalau ada kantor polisi dekat rumah.

  • Foto TKP dan kerusakan yang terjadi

Sebelum TKP diacak-acak orang segambreng yang dateng (dan untuk mencegah juga kalau ada orang lain yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, berniat jahat masuk dan naruh atau ngambil sesuatu dari rumah yang kerampokan) lebih baik kita punya foto-foto TKP untuk bukti awal pelaporan.

  • Identifikasi kehilangan bersama Polisi

Supaya TKP tetap terjaga, sebisanya jangan dulu diobrak-abrik sendiri sebelum polisi datang. Identifikasi kehilangan bisa dilakukan hati-hati tanpa menyentuh permukaan licin yang bisa jadi disentuh pelaku, seperti cermin, gagang pintu, dll.

  • Pray & Stay Sane!

Ga ada yang lebih mujarab untuk menenangkan diri selain berdoa, dan saling menguatkan dengan pasangan. I know it’s horrible, but we still have to move on. Banyak-banyak istigfar, dan berdoa.

Ada banyak cara juga untuk mencegah niat jahat orang lain untuk merampok rumah kita. Cara-cara preventif ini, mudah-mudahan bisa membantu kita menghindari bahaya perampokan.

  • Tingkatkan keamanan rumah

Kalau pintu dan jendela rumahmu belum punya teralis besi, pasang! Yang penting kita udah ikhtiar, meskipun orang jahat sekarang tekniknya makin canggih dan aneh-aneh.

  • Pasang lampu dengan fitting sensor otomatis

Pelajaran berharga dari kejadian kemarin, adalah ini. Kata polisinya, perampok biasanya melihat rumah kosong atau ngga dari lampu. Kalau lampunya siang-siang nyala, itu jadi tanda jangan-jangan rumahnya kosong.

  • Waspada kalau ada batu yang dilempar ke dalam rumah

Kata polisi, itu juga jadi salah satu modus perampok untuk melihat ada orang atau tidak di dalam rumah. Dia akan coba dengan melempar batu ke jendela, sekali, dua kali, untuk ngeliat ada atau ngganya reaksi orang dari dalam rumah.

  • Bawa serta kunci kendaraan kemana pun meskipun kendaraan disimpan di rumah
  • Simpan kunci mobil dekat jangkauan saat tidur

Kalau-kalau kita menyadari ada pergerakan mencurigakan di luar rumah, nyalain alarm mobil supaya tetangga pada bangun. Alarm mobil bisa jadi semacam panic button.

  • Pasang CCTV

Di masa kriminalitas merajalela kayak sekarang, kayanya emang udah jadi suatu keharusan deh pasang CCTV ini. Penting-ga penting sih sebenarnya. Apalagi kalau punya anak kecil di rumah. Lebih bagus lagi kalau CCTVnya bisa dipantau online dari mana aja.

  • Berdoa dan kunci kamar rapat-rapat sebelum tidur

Kita ga pernah tau apa yang terjadi, tapi lebih baik kita tidur dengan kondisi kunci kamar terkunci.

  • Simpan nomor kontak kantor polisi terdekat

In case ada emergency ketamuan rampok, atau orang mencurigakan, kita bisa langsung telpon ke polisi, supaya polisinya segera dateng. Daftar nomor telepon kantor polisi dan nomor penting lainnya di DKI Jakarta dan Jabodetabek bisa dilihat di sini.

Di setiap musibah, Allah memang selalu memberikan kita hikmah untuk direnungkan dan disyukuri. Ibarat shock therapy, alhamdulillah, Allah masih menyayangi keluarga kami. Nominal kehilangan dan kerugian masih sebatas kerugian materi, insya Allah masih bisa dicari lagi. Lewat kejadian ini, saya jadi inget lagi kata-kata Teh Icha, teteh mentor agama saya dulu jaman masih SMA.

“Berprasangka baiklah sama cobaan dari Allah. Tanpa kita sadari, cobaan itu sebenarnya tanda sayang Allah buat kita, supaya kita tetap berada di jalan yang benar.”

Aamiin. Semoga. Waspadalah, waspadalah, waspadalah..

Stay safe, everyone!

Advertisements
Posted in catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita.., ODOPfor99days2017

Cara (Jurnalis) Mengenal Hoax, FYI.

“Innalillahi wa’inna illahi roji’un, telah berpulang ke rahmatullah satu lagi Putra terbaik Bangsa Indonesia. Turut berduka cita yang paling dalam atas wafat-nya Bp. BJ HABIBIE  di Jerman karena sakit semoga Beliau husnul khotimah di ampuni semua dosa-nya di berikan tempat terbaik di sisi Nya. Aamiin.”

Mata masih 5 watt sambil nunggu kereta pagi, mendadak melek liat pesan Whatsapp ini di salah satu grup. INNALILLAHI. Saya langsung gelagapan buka portal online. Entah udah berapa kali, Presiden ketiga kita itu digosipkan meninggal. Apakah kali ini benar-benar kejadian?

Tak ada satupun berita yang saya temukan. Saya panik. Di grup-grup jurnalis pun, teman-teman banyak yang saling bertanya. Kalau benar, itu artinya Breaking News ada di depan mata. Ini berita besar. Tak boleh ada kata terlambat untuk TV berita mana pun. Kecepatan dan akurasi itu nomor satu. Saya pun mencoba langsung mengkonfirmasi dengan mengirimkan pesan singkat ke nomor Pak Rubi, Sekretaris Pribadi pak Habibie.

Tak ada jawaban. Sesekali saya coba telpon, juga ga diangkat.

Tak perlu waktu lama, tiba-tiba beredar pesan yang mengkonfirmasi kabar duka berulang itu di grup-grup jurnalis. Hehe, barangkali Pak Rubi repot menjawab satu-satu pertanyaan wartawan yang masih pagi buta mendadak membanjir kayak air bah.

Bapak/Ibu Yg Baik Budi & Yg kami hormati.
Mohon disimak baik2 berita Republika Edisi Rabu 4 Jan 2017 pd hal 1 paling atas ” Catatan 24 tahun Republika : Menyimak Berita Bercampur Hoax.”
Bersambung ke hal 2 :

Pojok kiri atas ” Mantan Presiden RI BJ. Habibie Meninggal.”
Berita ini sepenuhnya tdk sesuai fakta dan dimuat sebagai bagian dari Kampanye Republika MELAWAN HOAX.

Pada kesempatan kali ini Republika ingin berbagi dgn pembaca untuk merasakan pengalaman mengikuti berita yg bercampur HOAX.

Dalam era banjir Hoax seperti ini prinsip2 kerja jurnalistik dlm menyebarkan berita harus terus ditegakkan.
Sehingga dgn beredarnya berita di Medsos hari ini Rabu 4.1.2017, dan banyaknya klarifikasi berita bhw Bp B.J. Habibie meninggal dunia di Jerman.
Maka saya Rubijanto, Sespri Bp. BJH, mengkonfirmasikan bhw BERITA TSB TDK  BENAR ADANYA / BERITA HOAX.
Atas perhatian Bapak/Ibu kami haturkan terima kasih.

Wass, Rubijanto

M/WA : 08111 611 689

Jkt. 4.1.2017.

Usut punya usut, ternyata kehebohan nasional pagi ini dipersembahkan oleh sebuah artikel di Koran Republika, tanggal 4 Januari 2017.

whatsapp-image-2017-01-04-at-14-10-36
Artikel Berita Hoax di Koran Republika 4 Januari 2017

Haha, sumpah cara mereka membuat kampanye anti-hoax sungguh out of the box. Salut! 😁

Padahal ya, kalau diperhatikan baik-baik, dibaca dengan jelas, teliti, dan seksama, ada banget loh, tulisan BERITA HOAX di pojok kanan artikel itu. Yet, still, sampe sore pun saya masih aja nerima pesan Whatsapp berisi ucapan belasungkawa berpulangnya Pak Habibie (ya Allah, semoga beliau berumur panjang dan sehat selalu.. Kesian ini udah ketiga apa keempat kalinya ya, digosipin meninggal mulu..)

Ini adalah salah satu bukti, bahwa orang Indonesia jaman sekarang ini kebanyakan (ga semua loh yaa, saya masih optimis kok) tidak cermat membaca dan malas verifikasi.

Mungkin di era digital dan jurnalisme warga yang canggih sekarang ini, bisa jadi yang paling pertama yang menyebar berita tu berasa keren dan eksis gimana gitu kali ya. Jadi kalo dapet informasi atau link berita berisi sesuatu yang bombastis, yang kadangkala yang heboh cuma headlinenya doang, ga diklik, dibaca dulu, dicermati dulu sumbernya dari mana, ga pake gugling dulu liat kanan kiri, langsung klik tombol ‘share‘, ‘repath‘, ‘retweet‘, ‘regram‘, ‘broadcast‘ dan kawan-kawannya. Makin banyak yang ikutan nge-‘share‘ konten yang kita teruskan, atau kita posting, berasa makin bangga. Padahal, seringnya yang nge-‘share’ ga tau validitas sumber informasinya.

Asli sumpah ini bahaya banget. Sadar atau tidak, informasi sekarang jadi mudah dibuat, disebarluaskan dan dipercayai oleh orang banyak. Sering saya temukan headline-headline berita berjudul bombastis, tapi pas ditelusuri, ternyata itu berasal dari situs pribadi berbayar, yang ga punya informasi dewan redaksi, kontak ataupun alamat yang jelas. Artikel-artikelnya pun banyak yang anonim.  Entah siapa yang nulis. Atau, yang paling sering saya temui, headline sama isi berita ngga nyambung dan ga ada kutipan wawancara di dalam badan beritanya. Ibarat makan durian kopong, tajem luarnya tapi ga ada isinya.

Ya Allah, aku berlindung padaMu dari informasi-informasi hoax yang terkutuk.

Tips mengenali berita hoax

Kuncinya cuma satu : IQRO. Bacalah. Mengenal berita hoax itu gampang kok sebenarnya. Perhatikan deh ciri-ciri berikut :

  1. Menggunakan judul yang “alay” dan bombastis
Hasil gambar untuk berita hoax lucu
Contoh berita hoax (Sumber : sicumi.com)

Contoh  lainnya : “Terungkap! blablabla..”, “Islam Agama Teroris: Jauhkan Anak Anda dari Masjid”, “AWAS, Ada Gerakan Kristenisasi di Balik Sunatan Masal”, dll.

Isi berita hoax itu biasanya too good to be true atau too bad to be true. Memang isi beritanya, ada kemungkinan benar, tapi isinya terlalu sempurna, atau terlalu mengagetkan.

Waspadalah, kalo menemukan judul berita yang agak-agak alay, banyak pake tanda seru, dan bernada provokatif, kita harus curiga kalau itu berita hoax. Kenapa? Seorang jurnalis yang baik, biasanya tidak pernah menggunakan judul yang menyalahi aturan EYD, dan dalam etika jurnalistik, tidak boleh menggunakan judul yang provokatif. Jangan lupa dibaca juga isi keseluruhan artikelnya. Jangan-jangan di dalamnya tidak didukung kutipan asli dari narasumber yang berkaitan, persis kaya si durian kopong itu tadi.

2. Mengutip pendapat ilmuwan fiktif

Nah ini, sering banget nih, terutama untuk hoax yang berkaitan dengan sains dan kesehatan. Kadang saya suka sebel kalo nerima broadcast aneh-aneh yang ujungnya ada kutipan kaya gini.

Profesor Carl Michael dari University of Witcounsin Amerika mengatakan bahwa kandungan yang ada pada kulit duren yang dipanaskan dengan matahari selama 3 hari bisa membantu menurunkan berat badan.

Langsung deh cek ke Google Scholar (scholar.google.com) , cari nama ilmuwannya, dan universitasnya. Udah mah namanya ga bener, universitasnya juga ga ada. Apalagi jurnal aslinya. 

3. Sumber berita dari blog yang tidak familiar dan bukan media resmi

Link-link berita dari sumber yang aneh-aneh juga sering menyebar di media sosial. Kadang dari blog, atau website, bahkan dari akun Facebook atau Twitter yang namanya nggak jelas, foto-fotonya anonoh dan lain-lain. Langsung tutup browser deh kalo ketemu yang kaya gini, bahayanya mereka juga bisa nyebar virus. Lebih baik baca informasi yang bersumber dari media nasional yang resmi atau website yang punya kredibilitas dan berbadan hukum. Meskipun setiap media juga punya kebijakan redaksi sendiri-sendiri (bahasa jurnalistiknya : angle berita) terhadap satu peristiwa yang sama, setidaknya beritanya bisa dipertanggungjawabkan di depan publik, dan tertera siapa jurnalis peliputnya.

4. Berita bernada menyudutkan hanya dari satu pihak

Seorang jurnalis yang kredibel, seharusnya mematuhi kode etik jurnalistik dengan menjaga asas cover both side dalam membuat berita. Haram hukumnya bagi seorang jurnalis yang baik langsung menyebar berita, khususnya jika menyerang atau mengkritik pihak tertentu, tanpa sebuah kajian atau riset yang mendalam (yang disertai sumbernya), atau tanggapan dari pihak lawan yang berkaitan.

5. Lebih banyak kalimat opini daripada fakta

Contoh : Lead (kalimat awalan) berita ini saya kutip dari sebuah blog yang penulisnya anonim. Link sengaja tidak dicantumkan supaya ngga jadi kontroversi.

JAKARTA – Ratusan ribu hingga satu juta massa umat Islam mendatangi Istana ehhh malah Presidennya pergi.

Jurnalis yang baik mah mana mungkinlah pake kata ‘ehhh’ di dalam kalimat berita. Hati-hati, banyak juga berita asli yang lebih banyak ‘bumbu’ daripada faktanya. Kita harus curiga kalau membaca konten berita yang tendensius seperti itu.

Langkah Mencari Kebenaran Informasi

Sebelum membagikan informasi apapun, ada baiknya (bukan ada baiknya lagi sih, udah seharusnya) kita cek dulu kebenaran informasi itu. Cara-cara berikut biasanya saya lakukan kalau penasaran untuk mengecek suatu kabar yang harus saya liput.

  1. Please, Google it!

Sebuah informasi yang valid dan sesuai dengan kebenaran dan fakta, pasti akan tercatat dalam laman-laman berita media besar yang kredibel. Biasanya lagi, akan ada lebih dari satu media yang memberitakannya. Meskipun setiap media memang punya sudut pandang atau kecenderungan (angle) berita menurut kebijakan redaksi masing-masing, tapi kita bisa memperkaya diri dengan informasi dari beberapa media, sekaligus meng-cross check berita tersebut. Misalnya, kita denger nih, katanya pejabat A korupsi. Google pasti akan ngasih banyaaaaak sekali angle berita yang akan memperkaya pemahaman kita tentang kasus itu (kalau emang bener si A korupsi). Asal mau baca dan nyari aja. Kalo baru denger katanya-katanya udh langsung di-share padahal infonya salah, nah loh, bahaya kan… bisa kena UU ITE nanti.

Untuk mencaritahu berita yang memuat gambar, Google juga menyediakan fitur Google Image sebagai petunjuk darimana pertama kali gambar tersebut berasal.  (Cara lengkapnya, silakan lihat di sini).

2. Konfirmasi!

Di jaman canggih sekarang ini, mudah kok kalau mau konfirmasi apapun. Hampir semua orang bisa dijangkau lewat sosial media. Ga perlu tahu nomor ponsel pribadinya, bisa tanya lewat Twitter atau Facebook, atau Instagram. Bisa sms atau telpon sendiri lebih bagus lagi. Masalah dijawab atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting kita sudah berusaha. (Heu, biar tau rasanya jadi wartawan yang sering ga diwaro sama narasumber judes yang lagi bermasalah.. Mang enak. :-D)

3. Periksa sumber!

Jurnalis yang baik, biasanya mencantumkan sumber tulisannya, atau mencantumkan namanya, sebagai penulis berita tersebut. Gunanya, supaya bisa di-traceback sekaligus melihat kredibilitas si penulis berita itu. Kecuali yaa, kecuali kalau tulisan itu cuma opini pribadi. Ingat, OPINI BUKAN FAKTA lho. Tapi opini yang berulang-ulang disorot dan terus-terusan didengungkan, lama-lama jadi bisa dianggap sebagai fakta, padahal cuma opini. Jangan sampai juga kita jadi bagian dari orang yang ‘tertipu’, dan ikut menyebarkan ‘tipuan’ itu.

Nah, kalau kita ketemu artikel yang seringnya sok-sok ilmiah, lengkap dengan istilah-istilah aneh,  ada baiknya kita cek juga jurnal ilmiah/akademis yang terkait. Bisa pakai Google Scholar dan Google Books. Cermati nama ilmuwan yang dikutip dalam artikel. Ada dan nyata beneran ga tuh, orang dan risetnya. Jangan sampe udah kepalang makan kulit duren kering kerontang karena mau kurus, ternyata informasinya cuma hoax.

Mengapa kita tidak boleh menyebar berita hoax

 

 

Pasal 27 ayat 3 UU ITE No. 19/2016 hasil revisi yang baru berlaku 28 November 2016 kemarin, menyebut melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Di pasal 35 UU ITE yang baru itu, bahkan disebutkan hukuman untuk mereka yang menyebar (ga cuma yang membuat lho ya) informasi palsu atau hoax bisa dijerat 12 tahun penjara.

Syerem kan yak. Basically, ini juga yang membuat kami, para jurnalis sangat berhati-hati dalam membuat dan menyebarkan berita. Selain memang kerja kami dipagari oleh Kode Etik Jurnalistik, kami juga punya tanggung jawab moral agar pemirsa bisa tercerahkan dan ga jadi mislead.

Satu lagi alasan kenapa kita ga boleh (dan harus berusaha mencari tahu) agar tidak ikut menjadi penyebar hoax & fitnah adalah bukan cuma hukuman di dunia, adalah dosa di akhirat, sama dengan makan bangkai saudara sendiri. Naudzubillah.

 

Posted in motivasi, njul cerita-cerita.., ODOPfor99days2017

Resolusi, oh resolusi….

066078200_1451654125-happy-new-year-2016-resolution-ideas-meme-6

“Udah tahun baru nih, lo kapan kawin?”

“Anaknya udah 2 tahun ya Bu, kapan dong nambah adeknya?”

“Udah tahun 2017 nih, lo kapan kurusnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu, biasanya selalu bertebaran di momen-momen tahun baru, termasuk yang terakhir, yang paling menohok buat saya hahaha. Tahun baru, selalu identik dengan resolusi.
Ya, resolusi. Apa sih resolusi itu?

Kalo kata KBBI sih,

resolusi/re·so·lu·si/ résolusi/ n putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan tentang suatu hal.

Bottom line : Kebulatan (tekad).

“Tahun ini, gue harus punya resolusi niii! 2017 ini 2017!”

“Resolusi mah, udah aja pake resolusi tahun sebelumnya yang ga kesampean!”

Di sela kepusingan ngerjain rundown berita siang ini, Mbak Woro, produser senior saya tiba-tiba ngacapruk soal resolusi 2017, sambil pesen beliin gado-gado ke OB kantor. Tahun ini harus berubah pola makan, jadi makan sehat, katanya. Secara, abis pusing ngerjain rundown, kita emang kalo makan sukanya kadang mentok apa aja yang ada di kantin, kan.. Ketoprak lagi, ketoprak lagi, gudeg lagi, gudeg lagi.. Itu sih saya aja kali ya.. Haha.

Anyways, saya jadi kepikiran juga, ini udah hari kedua di tahun 2017, tapi ga kaya tahun-tahun sebelumnya, saya kok ga begitu antusias mikirin resolusi tahun baru. Ini apa sayanya yang males, atau sekarang jadi cepet pasrah yak… -__-”
Padahal dulu pas jaman SMA, kayanya tiap tahun baru udah rajin nulis resolusi di notes atau diary dengan warna-warni lengkap biar semangat.. Bahkan dulu rajin bikin target 5 tahunan (yang sekarang entah kemana ya notesnya.. Malu juga sih kalo ketemu, isinya lengkap ada daftar kecengan juga, haha, kegilaan masa muda)..
Tapi kayanya udah ketuaan kali ya, kalo sekarang bikin-bikin kaya gituan, mau kepala tiga masak ya masih pake tempel-tempel, stabilo dan spidol warna-warni. 😀

Terlepas dari segala kontroversi merayakan tahun baru, sebenarnya resolusi (yang ditulis dan diabadikan) itu punya makna penting sih. Dia bisa jadi target life goals kita, apa yang mau dicapai dan apa yang gagal dicapai  dan bisa diteruskan di tahun berikutnya.

Jadi, di postingan perdana #ODOPfor99days2017 yang ditulis curi-curi kelar on air Kompas Siang 2 Januari 2017 ini, saya akan membulatkan tekad, membuat resolusi.

1) Memboyong Kynan ke Jakarta
Gak kerasa udah 2 tahun lebih 2 bulan, dia tinggal bersama nenek-kakeknya. Udah saatnya saya dan si Mas berhenti jadi LDP (Long Distance Parents) dan bonding sama Kynan. Selama ini ga pernah ada masalah untuk bonding sih, dia juga ngga sampe lupa sama orangtuanya, tapi pengen cepet-cepet diboyong biar dia bisa lebih cepet punya adek juga… Hehe.

2) Belajar (dan menghapal) Al Quran
Dengan kehadiran Kynan yang makin besar dan makin kritis, semoga Ayah Bunda nya tahun ini bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk kembali memperdalam ilmu agama untuk fondasinya kelak. Bismillah.

3) Makan sehat
Selama 2016, kebiasaan ini paling lama bertahan cuma seminggu. Now it’s time for a change (kalo istiqomah, hahaha… Ayo dong Njul, harus!)

4) Kurus
It’s been on the list for like……….. almost a decade. HAHAHAHAHA.
Suuuusaaaaaaaah banget menaklukkan jarum timbangan, biar bisa turun paling gak 10 kilo aja… Abis melahirkan, kayanya susaaaah banget turun lagi. Tapi gogoda teh ya, banyak banget pas udah niat mau kurus tu.. Pengen nangis kalo liat timbangan, tapi ga tahan kalo liat martabak keju ovomaltine. Duh!

5) Olahraga Sekali Seminggu
Urusan olahraga, saya selalu inget salah satu hadits yang isinya Allah selalu suka amalan baik yang sedikit, tetapi istiqamah. Ga mau ambisius juga punya target olahraga tiap hari tapi ujungnya goleran cuma di kasur aja, haha, penyakit.

6) Writing Resolution!
Ini jadi salah satu alasan kenapa saya pengen gabung ke komunitas ODOP ini. (Makasih Monik, udah diajakin :-*) .. There’s a lot of things going on in my head, tapi ga punya waktu buat nulis. Bismillah, mudah-mudahan bisa jadi jalan buat refreshing juga biar ga cuma nulis naskah berita aja yang makin hari makin rudet dan ada-ada aja… #baelahcurcoldikit

7) Nabung Haji
Beruntunglah orang-orang yang sudah dapat kesempatan untuk berhaji. Saya jadi makin semangat untuk nabung haji setelah Monik, sahabat saya sejak kecil, di usia seumuran saya, udah bisa berhaji, meski berangkat dari Belanda karena lagi sekolah disana. Saya sih ga muluk-muluk amat pengen berangkat haji dari negara lain.. Yang penting udah niat ngantongin nomor porsi, nunggu waiting listnya semoga Allah SWT masih berbaik hati untuk ngasih saya umur… 🙂

Baru tujuh. Tapi bikin resolusi tahun baru itu kan bukan balapan juga yak, pabanyak-banyak. Pastinya masih akan ada target-target dan impian jangka pendek lain yang pengen dicapai di tahun ini. Semoga inget untuk update, dan diberi Allah kekuatan dan kesempatan untuk mewujudkannya.

BISMILLAH! 😀

Posted in catatan seorang jurnalis, dari kacamata njul.., njul cerita-cerita..

Resign : Opening A New Chapter.

image

Cintai pekerjaanmu, bukan perusahaanmu.

Hampir 6 tahun lalu, saat saya pertama kali mendengar kalimat ini dari wakil pemimpin redaksi di hari pertama saya bekerja, 10 Agustus 2010. Saat itu saya nggak terlalu paham apa artinya. Sebagai anak baru yang nggak punya latar belakang pendidikan apapun mengenai jurnalistik kecuali pengalaman jurnalistik ala-ala, saya cuma senyum ngangguk-ngangguk aja, karena belum bisa merasakan, ‘nikmatnya’ profesi ini, apalagi mencintainya.

Seiring waktu, saya semakin tahu, mengapa senior-senior saya banyak yang bertahan menjadi wartawan, meskipun sempat menjajal profesi lain. Banyak diantara mereka yang berpindah perusahaan, dan akhirnya kembali lagi ke habitatnya : media. Lama-lama memang ada semacam kepuasan tersendiri, ketika kita ikut terlibat menjadi salah satu ujung tombak utama dalam menyajikan fakta hingga bisa berdampak dan berpengaruh untuk masyarakat luas—beuraaat maang, berasa baca buku PPKn ga sih, haha.

Mengawali daftar pengalaman kerja dengan menjadi reporter di RCTI, membuka mata saya terhadap banyak hal. Sebagai sebuah institusi media TV swasta pertama di Indonesia, saya merasakan kebanggaan itu. Bagi saya, —dan mungkin juga bagi para suhu dan senior yang mengawali karirnya disini— RCTI bukan hanya sekedar tempat kerja, tapi juga keluarga. Disanalah saya pertama kali belajar wawancara narasumber, menulis naskah berita, melakukan live report, jadi VJ (Video Jockey—eh, Video Journalist ketang..  Yang one-man-show itu loh, ngambil gambar sendiri, on cam sendiri, nulis naskah sendiri, ngedit gambar sendiri), sampai belajar bagaimana memproduksi sebuah berita yang menarik dan ditonton jutaan pemirsa. Bukan proses yang mudah.

Tapi saya bersyukur, Allah masih memberi saya kesempatan untuk bertemu orang-orang hebat, wartawan-wartawan senior yang dengan caranya sendiri, sabar mendidik anak-anak bau kencur seperti saya. Mereka yang mau bersusah payah melatih gimana cara berbicara di depan kamera, gimana teknik bertanya ke narasumber supaya bisa menghasilkan jawaban yang bagus dan nge-lead, gimana menghadapi situasi baku tembak di dalam pengadilan, dan mengedepankan etika jurnalistik yang bebas dari sogokan atau bayaran berkedok hadiah.
Saya berhutang pada mereka. Mereka yang dibalik suara lantang dan nada kerasnya menaruh kepercayaan kepada saya yang nggak bisa apa-apa, untuk bisa berdiri live report di depan kamera. Saya berhutang kepada mereka, yang mau mengambil resiko itu, agar saya bisa semakin terasah, push myself to the limit, dengan mempertaruhkan layar. Saya berhutang pada mereka, yang setiap pagi selalu dengan galak bertanya, “SUDAH BERAPA KORAN YANG KAMU BACA HARI INI?” dengan harapan agar saya tidak menjadi wartawan kopong yang jadi bulan-bulanan narasumber (atau wartawan lainnya).
Saya berhutang pada mereka, yang mau mengambil resiko memberikan saya tanggung jawab yang lebih besar, menjadi seorang produser, meskipun saya sendiri ragu apakah kemampuan saya sudah cukup untuk mengemban amanah itu.

Saya berhutang pada mereka semua.

Sampai pada suatu titik dimana para senior-senior saya itu satu per satu pergi meninggalkan kantor ini.

image
Cube mic kebanggaan milik bangsa
image
Surely will be missing these moments.

Awal April 2016 kemarin, setelah melalui kontemplasi yang cukup lama—halah, lebayatun—saya pun akhirnya memberanikan diri memutuskan untuk mengambil langkah yang sama. Mengundurkan diri.

Saya menulis surat pengunduran diri dengan perasaan sedih dan nggak tega. Tapi kemudian saya teringat kalimat itu. Kalimat yang dulu saya tak pahami itu. Semburat maknanya perlahan semakin jelas. Ternyata dalam setiap entitas perusahaan, setiap orang punya ‘titik didih’nya masing-masing. Bagi saya, apakah kita ditinggalkan, atau meninggalkan, itu adalah pilihan hidup yang harus dihormati. Tak ada yang berhak mencemooh atau meragukan ke perusahaan mana kaki kita akan melangkah, jadi ibu rumah tangga, atau pergi sekolah lagi. Rejeki itu Allah yang mengatur, percayalah ngga akan ketuker.

At the end of the day, saya cuma ingin berbagi tips pada siapapun yang sedang galau untuk memulai lembaran karir yang baru dimana pun berada :

1) Bertanyalah pada diri sendiri
Apakah saya lebih sering stres menjalani hari saat bekerja? Apakah bangun pagi makin terasa berat untuk berangkat kerja? Apakah saya merasa kemampuan saya tidak cukup dihargai perusahaan? Apakah jam-jam kerja saya semakin penuh dengan pergunjingan kebijakan perusahaan yang semakin merugikan pegawai? Apakah situasi di kantor semakin tidak kondusif untuk bekerja dan memaksimalkan kemampuan? Apakah saya tidak happy berada di kantor? Dan seterusnya.
Kalau sebagian besar jawabnya, “IYA”, maka ini saatnya untuk mulai mempertimbangkan tempat kerja baru.

2) Bertanyalah pada keluarga terdekat
Entah pada suami, istri, orang tua, atau saudara, yang kira-kira bisa memberikan pertimbangan rasional. Kegalauan terkadang membuat penilaian kita bias, bahkan cenderung emosional dalam mengambil keputusan, and that’s no good.

3) Shalat Istikharah
Harusnya ini ditaruh di urutan pertama ya, karena Allah SWT lah yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk makhlukNya. Tapi ini saya taruh di urutan ketiga, kalo udah mentok curhat nanya-nanya tapi masih galau juga. Kepada siapapun kita mengadu, kalau masih merasa ragu, yakin deh bahwa Allah pasti akan menunjukkan jalanNya. Ketetapan hati adalah salah satu caraNya menunjukkan apa yang terbaik untuk kita.

4) Kalkulasi kembali kebutuhan bulanan
Ada banyak alasan orang ketika memutuskan untuk berpindah tempat kerja. Salah satunya adalah alasan finansial. Jika memang dirasa gaji bulanan tak lagi bisa memberi keleluasaan finansial, itu adalah salah satu indikasi untuk either minta kenaikan gaji, atau pindah tempat kerja. Sebelum memutuskan untuk pindah, pastikan tawaran gaji dan benefit yang diajukan tempat kerja yang baru lebih baik. Perhitungkan inflasi per tahun, dan bandingkan dengan laju kenaikan gaji di tempat yang lama. If you get a much better offer (e.g minimum 100% raise), TAKE IT!

Kalau pada tips keempat, keputusan yang dibuat semakin bulat, maka
5) Ayo buat surat resign yang baik
Menurut banyak artikel etika kerja, surat resign yang profesional tidak perlu terlalu panjang. Alasan pengunduran diri pun tidak perlu terlalu gamblang terang-terangan diceritakan. Tidak perlu terlalu berbunga-bunga. Kalau merasa harus berterimakasih dan meminta maaf pada atasan, sampaikan saja secara langsung.

6) Datang baik-baik, pergi baik-baik
Apapun alasan pengunduran diri, jangan pernah lupa, bahwa perusahaan yang kita tinggalkan sudah berkontribusi banyak dalam ‘membentuk’ dan ‘mengasah’ kemampuan kerja kita. Mari tinggalkan kesan profesionalitas yang baik tanpa mencelanya di hadapan atasan yang baru.

Apapun dan kemanapun langkah yang kita ambil, semoga penuh dengan keberkahan dan ridhoNya. Jangan lupa untuk selalu menjalin silaturahmi dengan teman-teman, karena silaturahmi memperlancar rezeki. 🙂

NB : yang butuh contoh surat resign, silakan tinggalkan alamat email—geer banget sih Njul, siga nu aya wae nu butuh, haha.

Posted in catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita..

(jurnalis) menikah dengan seorang jurnalis..

Sejak kecil, tidak pernah sekalipun terlintas di benak saya untuk menjadi seorang jurnalis. Paling, cuma kagum sama Desi Anwar kalau lagi nonton Seputar Indonesia pada jaman itu. Ih keren yaaa.. Tapi ya udah, gitu doang. Yah, pas jaman SD mah, layaknya anak-anak SD pada masanya, ya selalu ganti-ganti jawabannya ketika ditanya, “Kalau besar mau jadi apa?”. Hari ini jawabnya mau jadi profesor, besoknya jadi dokter, lusanya jadi insinyur, minggu depannya jadi presiden (persis kayak lagunya Susan & Ria Enes), ganti-ganti deh pokoknya. Galau menentukan arah hidup, hahaha.

Ketika menginjak bangku SMP, saya sok-sokan lah ikut ekskul majalah sekolah, yang namanya Info-5 (yang seringnya dibaca siswa hanya bagian Pe*Tai-pesan berantai- dan isinya kebanyakan salam manis buat kecengan atau sekedar numpang eksis doang) karena bisa bareng-bareng sama sobat-sobat dari jaman SD. Dari situ, saya mulai ngerasa, ih seru juga yaa, bisa buat artikel ngumpulin materi, wawancara temen yang berprestasi, terus ditulis. Jarang bangetlah ambil materi dari internet. Waktu itu internet udah ada sih tapi ga kaya sekarang. Dulu aksesnya cuma dari warnet. Wong henpon aja paling cuma anak-anak berada yang punya, itu pun belom berteknologi smartphone. Paling cuma dipake main Snake. wkwkwk.

Masuk SMA, satu-satunya kegiatan saya yang masih berbau jurnalistik ala-ala, hanyalah karena saya kebagian ngerjain buletin DKM SMA, namanya Tifosi. Nggak banyak pengalaman jurnalistik yang bisa ditarik dari situ, karena yang saya inget, kerjanya cuma ngetik dikit, ketawa-ketawanya yang banyak. Superbly fun friendship and amazing teamwork. Saya jadi suka senyum-senyum sendiri inget masa-masa jahiliyah itu. Katanya anak DKM, tapi kalo lagi rapat ujungnya curhat – eaa. Haha, masa-masa galau menentukan hidup lagi kan. Cuma sedihnya, salah satu dari kami tidak berumur panjang. Meli, pergi menghadap Allah, bahkan sebelum kami lulus. Hiks. 😥

Saat kuliah, saya bahkan nggak ikut dan nggak berminat kegiatan apapun yang berkaitan dengan jurnalistik. Sama sekali. Jadi yaa ketika saya lulus tahun 2010, wisuda, dan 2 minggu kemudian langsung jadi reporter di RCTI, that’s what we called DESTINY.

Dua tahun jadi jurnalis, saya lalui dengan belajar dari nol besar. Awal-awal karir (ciyee macem betul ajee, karir) saya sering dimarahin karena nulis naskah berita ga becus, 5W1H nya ga lengkap, ceritanya nggak runtut, atau terlalu panjang. Semua saya telan dan saya jadikan pelajaran berharga. Lalu sampailah saya pada masa dimana saya ditugaskan untuk jadi wartawan politik, yang meliput di DPR. Awalnya, saya nggak kepikiran untuk punya pacar sesama jurnalis. Meskipun ngeceng mah ada lah yaa, haha. Wartawan juga banyak lho yang lucu-lucu, mayan bikin mata seger jadi semangat liputan.

Ada 3 profesi yang harus kamu pertimbangkan untuk dijadikan calon suami. Pertama, polisi, kedua, tentara, ketiga, wartawan. Karena tiga-tiganya sama-sama sering dinas keluar kota, punya potensi besar punya bini di banyak kota.
Bang Ferry Insan, cameraman, 2011

Kalimat itu selalu nancep di kepala. Eh, pucuk di cinta, ulam tiba. Tau-tau salah satu dari sekian banyak wartawan DPR itu tiba-tiba ada yang nekat, ngajak saya nonton. 😂

image
Wartawan yang nekat ngajak saya nonton (foto : Andri Nurdriansyah, 2013)

Waktu berjalan begitu cepat, tiba-tiba 4 bulan kemudian, dia lebih nekat lagi. Ngajak saya nikah! Kaget sih, tapi saya pikir, ya udahlah, mumpung ada yang mau daripada ngga laku-laku, padahal umur udah mau seperempat abad. Daripada baper kan ya, sementara undangan-undangan nikahan temen udah pada ngantri aja ampir tiap minggu. Bismillah aja deh. 😂

image
Sah! (foto : pribadi, 19 Oktober 2013)

Ternyata, menikah dengan sesama jurnalis itu alhamdulillah, punya banyak sekali privilege (disamping liabilities) bahkan sejak dari saat kita merencanakan perkawinan.

1) Foto prewed difotoin wartawan foto
Yang motoin fotografer Parlemen, Mas Andri Nurdriansyah. Harga bersahabat, hasil hebat. 😁
Orang mah sibuk nyediain waktu dan dandan khusus buat prewed, ini DISAMBI liputan, masih pake seragam. Makasih banyak, Mas Andri 🙂

image
Salah satu foto prewed yang dijadikan undangan foto (foto : Andri Nurdriansyah, 2013)

2) Teman-teman wartawan merangkap Pagar ayu, pagar bagus, MC, band kawinan
Yak, pernikahan kami banyak sekali berutang budi sama temen-temen sesama jurnalis. Dengan bantuan mereka, nikahan kami jadi mirip-mirip slogan koran Pikiran Rakyat. Dari wartawan, oleh wartawan, dan untuk wartawan.
Mulai dari MC, Andyani Purnama, alias Ade, temen sekosan saya, (dulunya) reporter MNCTV, mau menyumbangkan keahliannya bercuap-cuap dan bikin kawinan kami nggak boring. 😁
Band kawinan, artisnya Mbak Ken dan Teh Ratna, sesama wartawan Istana, beserta personil band temen-temennya yang wartawan semua. Fotografer candid pas nikahan juga dibantu Mas Agus, cameraman yang juga suka fotografi.
Belum lagi belasan wartawan temen-temen di DPR, dan Istana, yang mau saya repotin jadi pager ayu dan pager bagus merangkap wedding organizer dan LO tamu VIP.
Meskipun mereka bukan wedding organizer profesional, tapi alhamdulillah nikahan kami lancar karena bantuan mereka. Saya nggak bisa bayangin, kalau nggak ada mereka yang membantu mengenali, mengatur dan menemani banyaknya tamu VIP yang hadir. Makasih banyak buat Mas Agus, Mbak Indri, Cak Slem, Mas Tegar, Mas Iqbal, Bayu Tan, Risty, Fyra, Desa, Mbak Nukie, dan semuanya. Semoga Allah yang membalas kebaikan kalian. 🙂

3) Berbagi info A1 tentang berita terkini
Berbagi info di kalangan wartawan mungkin adalah hal biasa. Tapi karena kami punya ‘jaringan’ yang berbeda, tak jarang kami pun bisa bertukar ‘cerita’. Sering malah ‘ngegosip’nya sebelum bobok, melengkapi potongan-potongan puzzle suatu kasus yang lagi hot versi si A, si B, si C, dan seterusnya. Our kind of pillow talk. Enaknya, jadi selalu punya referensi baru untuk mengembangkan angle (sudut pandang) liputan. Seperti kata seorang jurnalis politik senior saya dulu.

“Sumber informasi untuk beritamu bisa dari mana saja. Narasumber, saksi mata, polisi, jaksa, pengacara, dll. Tapi jangan lupa, informan yang paling dekat. Sesama wartawan.”

Gimana nggak kurang dekat. Wartawannya selalu bobok satu kasur. Wkwkwk.

4) Jadi orang pertama bertanya kontak narasumber
Ketika saya butuh wawancara narasumber tertentu untuk melengkapi liputan, tapi nggak tahu nomor henponnya, orang pertama yang saya tanya, ya si Mas.

5) Liputan = Honeymoon gratis!
Ini bener-bener kejadian tanpa rekayasa. Rejeki emang ngga kemana. Kongres PAN di Bali, Maret 2015, selama 3 hari 2 malam kami bisa satu kamar hotel, meskipun pulang dan pergi ke Bali secara terpisah. Saya bareng sama cameraman, si Mas sama rombongannya.

6) Ditinggal liputan keluar kota mendadak (atau sebaliknya)
Resiko menikah dengan seorang jurnalis adalah harus siap ditinggal dinas mendadak liputan keluar kota. Itu berlaku buat saya, dan si Mas tentunya. Gak jarang saya harus siap kalau misalnya tiba-tiba si Mas bilang, “Bun, Ayah mau ke Jepang Rabu besok..” Kemudian saya pun iri. Zzzz.
Begitupun sebaliknya, kalau saya yang ditugaskan keluar kota.

7) Dokumentasi keluarga lengkap standar broadcast
Enaknya punya pasangan jurnalis adalah paling tidak mereka punya kemampuan dasar fotografi dalam mengabadikan setiap momen. Terlebih untuk merekam momen-momen istimewa perkembangan Kynan, atau sekedar merekam video tingkah polahnya. Minim foto gagal, dan videonya lengkap dan enak dilihat. Heu.

8) Punya banyak informan yang ‘jagain’ suami (atau sebaliknya)
Dunia media itu sangat sempit. Kita sering berteman dengan banyak jurnalis yang sama karena pernah satu pos liputan atau pernah ketemu di lapangan. Jadi, kemanapun dan sampai jam berapapun si Mas pergi liputan, pasti akan ada ‘mata-mata’ yang siap ‘melaporkan’ tingkah polahnya pada saya, atau sebaliknya. Wkwkwk 😁

Itu mungkin baru sebagian suka-duka menjadi pasangan jurnalis. Yang pasti, punya pasangan jurnalis itu tidak seperti mereka yang punya pasangan kerja kantoran. Kami harus bisa saling memahami tuntutan profesi, yang tak jarang harus rela liputan sampai tengah malam, menuntaskan rundown program berita malam sampai dini hari, atau bahkan baru berangkat kerja dan memulai hari saat yang lain sudah terlelap untuk membuat rundown program berita pagi. Begitulah.

Salah satu produser senior saya bahkan pernah sampai dikira tetangganya kerja di tempat hiburan malam, karena bertahun-tahun punya siklus nokturnal, membidani program berita yang tayang jam 5 pagi. Nasib.

Semua kami lakukan demi menyajikan informasi teraktual untuk Anda. 😁

Posted in dedicate this for..., njul cerita-cerita.., obrolan-obrolin..

..and he popped out the question.

Tepat pertengahan bulan September. Sabtu siang yang terik dan cerah di luar sana.

Sambil berjalan, pandangan seorang pemuda berkacamata tertuju pada mobil Audi keluaran terbaru, dalam sebuah showroom di lantai dasar Pacific Place, Jakarta. Tidak di pinggir, ia justru memilih untuk berjalan di tengah, dengan leher yang ikut kemana jauh matanya memandang. Paham hobi otomotif si pemuda, perempuan yang berjalan di sebelahnya, tak sabar.

X : “Kalo pengen liat ya deketin aja Mas, diliat. Kan katanya ustadz siapa itu, yang suka ceramah soal sedekah, kan katanya kalo kepengen sesuatu, berdiri di depannya, terus berdoa, minta sama Allah.”

Tiba-tiba pemuda berkacamata itu terkekeh. Berhenti sejenak, dan langsung berdiri di hadapan si perempuan.

Y : “Kalo gitu, sekarang Mas minta deh.”

Bingung, tapi bisa mencium arah pembicaraan ini, si perempuan lalu bertanya.

X : “Hehe, minta apa?”

Memasang wajah polos dan senyum seribu makna, masih di depan mobil Audi terbaru, si pemuda lalu menjawab.

Y : “Minta kawin.”
X : *tertawa* “Mintanya sama Allah hey, bukan sama (nama si perempuan)”
“Terus, gw harus bilang ‘WOW’ gitu?”
Y : “Lho, ini kok malah diajak bercanda terus to?”

——————————————————————————————-

dan perempuan itu pun, hanya bisa cengengesan, sambil tenggelam dalam kebingungan, bagaimana menyampaikan sebuah persetujuan, dalam bahasa yang sederhana. 🙂

Posted in dedicate this for..., njul cerita-cerita.., sebenarnya..

..was and then..

"Masa lalu, oh, oh.. Hanya bayangan..
Melukis seribu tanya yang tak terjawab."
~ Zen - Hanya Bayangan

Masa lalu. The past. Kalau kata Concise Oxford English Dictionary (11th Edition),

past : 1) gone by time and no longer existing ; 2) a past period or the events in it, a person’s or thing’s history or earlier life.

Sesuatu yang sudah lewat.

Saya, kamu, semua orang pasti punya masa lalu. Lucunya, meskipun semua orang punya, dan itu sesuatu yang sudah lewat, masa lalu itu tidak pernah bisa diulang, atau diubah. Yang sudah lewat, ya biarkan lewat.

Tapi kadang, untuk beberapa kasus tertentu, masa lalu justru bisa mempengaruhi masa depan. Urusan capres-capresan misalnya, bagi seorang Prabowo, dugaan keterlibatannya dalam tragedi Trisakti Mei ’98, bisa menjadi senjata ampuh buat lawan politiknya di Pilpres 2014—lah, why so serioush? Bukan, saya bukan mau cerita urusan Prabowo sebenarnya.

Apa yang terjadi malam ini—hang on, we’re going to that part—benar-benar membuat saya sadar akan sesuatu. Oke. Skip dulu ya, itu bisa belakangan.

Kurang dari setahun terakhir, saya pernah mendengar dari seorang kakak, kisah penggalan masa lalu seseorang kepada seorang gadis. Saya tidak tahu, dan tidak paham, seberapa besar dan seberapa dalam perasaan seseorang itu, kepada sang gadis. Yang saya tahu,  saking seringnya si gadis menghiasi hari-hari seseorang itu, namanya terngiang dan terabadikan.

Hampir tiga tahun tak pernah bertemu—atau setidaknya, itu yang saya tahu, kalau lebih, atau kurang, ngga ngerti lagi—, seseorang dan si gadis dari masa lalunya itu, malam ini, bertemu lagi dalam sebuah kebetulan, dalam ruang tunggu bioskop di sebuah mal besar di pusat kota Jakarta—yang eu, eu, ya ini,  yang membuat saya sadar akan dua hal itu tadi. 

Well. Gadis dari masa lalu itupun menyalami saya—dan sukses mencetak penilaian kalau kami punya perbandingan 10-0, dimana saya 0-nya, dia 10-nya dan membuat saya sadar kalau saya ini.. such a good pretender.  Never in my life, I’ve ever felt how much pain in useless jealousy be covered up by powerlessness of laughter.  Antara pengen ketawa, tapi bete sendiri, tapi sadar, kalo betenya itu ngga penting, dan ngga perlu, dan lagunya Zen itu jadi terngiang-ngiang di kepala, jadi cuma bisa ketawa-ketiwi ga jelas—pasti bingung yah bacanya, heu, sama, saya juga. 😛 

Buah naga warnanya merah, lebih manis buah anggur, 
Mau gimana ga bisa marah, yaudah yuk, mending tidur.. 😀