Posted in catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita.., ODOPfor99days2017

Cara (Jurnalis) Mengenal Hoax, FYI.

“Innalillahi wa’inna illahi roji’un, telah berpulang ke rahmatullah satu lagi Putra terbaik Bangsa Indonesia. Turut berduka cita yang paling dalam atas wafat-nya Bp. BJ HABIBIE  di Jerman karena sakit semoga Beliau husnul khotimah di ampuni semua dosa-nya di berikan tempat terbaik di sisi Nya. Aamiin.”

Mata masih 5 watt sambil nunggu kereta pagi, mendadak melek liat pesan Whatsapp ini di salah satu grup. INNALILLAHI. Saya langsung gelagapan buka portal online. Entah udah berapa kali, Presiden ketiga kita itu digosipkan meninggal. Apakah kali ini benar-benar kejadian?

Tak ada satupun berita yang saya temukan. Saya panik. Di grup-grup jurnalis pun, teman-teman banyak yang saling bertanya. Kalau benar, itu artinya Breaking News ada di depan mata. Ini berita besar. Tak boleh ada kata terlambat untuk TV berita mana pun. Kecepatan dan akurasi itu nomor satu. Saya pun mencoba langsung mengkonfirmasi dengan mengirimkan pesan singkat ke nomor Pak Rubi, Sekretaris Pribadi pak Habibie.

Tak ada jawaban. Sesekali saya coba telpon, juga ga diangkat.

Tak perlu waktu lama, tiba-tiba beredar pesan yang mengkonfirmasi kabar duka berulang itu di grup-grup jurnalis. Hehe, barangkali Pak Rubi repot menjawab satu-satu pertanyaan wartawan yang masih pagi buta mendadak membanjir kayak air bah.

Bapak/Ibu Yg Baik Budi & Yg kami hormati.
Mohon disimak baik2 berita Republika Edisi Rabu 4 Jan 2017 pd hal 1 paling atas ” Catatan 24 tahun Republika : Menyimak Berita Bercampur Hoax.”
Bersambung ke hal 2 :

Pojok kiri atas ” Mantan Presiden RI BJ. Habibie Meninggal.”
Berita ini sepenuhnya tdk sesuai fakta dan dimuat sebagai bagian dari Kampanye Republika MELAWAN HOAX.

Pada kesempatan kali ini Republika ingin berbagi dgn pembaca untuk merasakan pengalaman mengikuti berita yg bercampur HOAX.

Dalam era banjir Hoax seperti ini prinsip2 kerja jurnalistik dlm menyebarkan berita harus terus ditegakkan.
Sehingga dgn beredarnya berita di Medsos hari ini Rabu 4.1.2017, dan banyaknya klarifikasi berita bhw Bp B.J. Habibie meninggal dunia di Jerman.
Maka saya Rubijanto, Sespri Bp. BJH, mengkonfirmasikan bhw BERITA TSB TDK  BENAR ADANYA / BERITA HOAX.
Atas perhatian Bapak/Ibu kami haturkan terima kasih.

Wass, Rubijanto

M/WA : 08111 611 689

Jkt. 4.1.2017.

Usut punya usut, ternyata kehebohan nasional pagi ini dipersembahkan oleh sebuah artikel di Koran Republika, tanggal 4 Januari 2017.

whatsapp-image-2017-01-04-at-14-10-36
Artikel Berita Hoax di Koran Republika 4 Januari 2017

Haha, sumpah cara mereka membuat kampanye anti-hoax sungguh out of the box. Salut! 😁

Padahal ya, kalau diperhatikan baik-baik, dibaca dengan jelas, teliti, dan seksama, ada banget loh, tulisan BERITA HOAX di pojok kanan artikel itu. Yet, still, sampe sore pun saya masih aja nerima pesan Whatsapp berisi ucapan belasungkawa berpulangnya Pak Habibie (ya Allah, semoga beliau berumur panjang dan sehat selalu.. Kesian ini udah ketiga apa keempat kalinya ya, digosipin meninggal mulu..)

Ini adalah salah satu bukti, bahwa orang Indonesia jaman sekarang ini kebanyakan (ga semua loh yaa, saya masih optimis kok) tidak cermat membaca dan malas verifikasi.

Mungkin di era digital dan jurnalisme warga yang canggih sekarang ini, bisa jadi yang paling pertama yang menyebar berita tu berasa keren dan eksis gimana gitu kali ya. Jadi kalo dapet informasi atau link berita berisi sesuatu yang bombastis, yang kadangkala yang heboh cuma headlinenya doang, ga diklik, dibaca dulu, dicermati dulu sumbernya dari mana, ga pake gugling dulu liat kanan kiri, langsung klik tombol ‘share‘, ‘repath‘, ‘retweet‘, ‘regram‘, ‘broadcast‘ dan kawan-kawannya. Makin banyak yang ikutan nge-‘share‘ konten yang kita teruskan, atau kita posting, berasa makin bangga. Padahal, seringnya yang nge-‘share’ ga tau validitas sumber informasinya.

Asli sumpah ini bahaya banget. Sadar atau tidak, informasi sekarang jadi mudah dibuat, disebarluaskan dan dipercayai oleh orang banyak. Sering saya temukan headline-headline berita berjudul bombastis, tapi pas ditelusuri, ternyata itu berasal dari situs pribadi berbayar, yang ga punya informasi dewan redaksi, kontak ataupun alamat yang jelas. Artikel-artikelnya pun banyak yang anonim.  Entah siapa yang nulis. Atau, yang paling sering saya temui, headline sama isi berita ngga nyambung dan ga ada kutipan wawancara di dalam badan beritanya. Ibarat makan durian kopong, tajem luarnya tapi ga ada isinya.

Ya Allah, aku berlindung padaMu dari informasi-informasi hoax yang terkutuk.

Tips mengenali berita hoax

Kuncinya cuma satu : IQRO. Bacalah. Mengenal berita hoax itu gampang kok sebenarnya. Perhatikan deh ciri-ciri berikut :

  1. Menggunakan judul yang “alay” dan bombastis
Hasil gambar untuk berita hoax lucu
Contoh berita hoax (Sumber : sicumi.com)

Contoh  lainnya : “Terungkap! blablabla..”, “Islam Agama Teroris: Jauhkan Anak Anda dari Masjid”, “AWAS, Ada Gerakan Kristenisasi di Balik Sunatan Masal”, dll.

Isi berita hoax itu biasanya too good to be true atau too bad to be true. Memang isi beritanya, ada kemungkinan benar, tapi isinya terlalu sempurna, atau terlalu mengagetkan.

Waspadalah, kalo menemukan judul berita yang agak-agak alay, banyak pake tanda seru, dan bernada provokatif, kita harus curiga kalau itu berita hoax. Kenapa? Seorang jurnalis yang baik, biasanya tidak pernah menggunakan judul yang menyalahi aturan EYD, dan dalam etika jurnalistik, tidak boleh menggunakan judul yang provokatif. Jangan lupa dibaca juga isi keseluruhan artikelnya. Jangan-jangan di dalamnya tidak didukung kutipan asli dari narasumber yang berkaitan, persis kaya si durian kopong itu tadi.

2. Mengutip pendapat ilmuwan fiktif

Nah ini, sering banget nih, terutama untuk hoax yang berkaitan dengan sains dan kesehatan. Kadang saya suka sebel kalo nerima broadcast aneh-aneh yang ujungnya ada kutipan kaya gini.

Profesor Carl Michael dari University of Witcounsin Amerika mengatakan bahwa kandungan yang ada pada kulit duren yang dipanaskan dengan matahari selama 3 hari bisa membantu menurunkan berat badan.

Langsung deh cek ke Google Scholar (scholar.google.com) , cari nama ilmuwannya, dan universitasnya. Udah mah namanya ga bener, universitasnya juga ga ada. Apalagi jurnal aslinya. 

3. Sumber berita dari blog yang tidak familiar dan bukan media resmi

Link-link berita dari sumber yang aneh-aneh juga sering menyebar di media sosial. Kadang dari blog, atau website, bahkan dari akun Facebook atau Twitter yang namanya nggak jelas, foto-fotonya anonoh dan lain-lain. Langsung tutup browser deh kalo ketemu yang kaya gini, bahayanya mereka juga bisa nyebar virus. Lebih baik baca informasi yang bersumber dari media nasional yang resmi atau website yang punya kredibilitas dan berbadan hukum. Meskipun setiap media juga punya kebijakan redaksi sendiri-sendiri (bahasa jurnalistiknya : angle berita) terhadap satu peristiwa yang sama, setidaknya beritanya bisa dipertanggungjawabkan di depan publik, dan tertera siapa jurnalis peliputnya.

4. Berita bernada menyudutkan hanya dari satu pihak

Seorang jurnalis yang kredibel, seharusnya mematuhi kode etik jurnalistik dengan menjaga asas cover both side dalam membuat berita. Haram hukumnya bagi seorang jurnalis yang baik langsung menyebar berita, khususnya jika menyerang atau mengkritik pihak tertentu, tanpa sebuah kajian atau riset yang mendalam (yang disertai sumbernya), atau tanggapan dari pihak lawan yang berkaitan.

5. Lebih banyak kalimat opini daripada fakta

Contoh : Lead (kalimat awalan) berita ini saya kutip dari sebuah blog yang penulisnya anonim. Link sengaja tidak dicantumkan supaya ngga jadi kontroversi.

JAKARTA – Ratusan ribu hingga satu juta massa umat Islam mendatangi Istana ehhh malah Presidennya pergi.

Jurnalis yang baik mah mana mungkinlah pake kata ‘ehhh’ di dalam kalimat berita. Hati-hati, banyak juga berita asli yang lebih banyak ‘bumbu’ daripada faktanya. Kita harus curiga kalau membaca konten berita yang tendensius seperti itu.

Langkah Mencari Kebenaran Informasi

Sebelum membagikan informasi apapun, ada baiknya (bukan ada baiknya lagi sih, udah seharusnya) kita cek dulu kebenaran informasi itu. Cara-cara berikut biasanya saya lakukan kalau penasaran untuk mengecek suatu kabar yang harus saya liput.

  1. Please, Google it!

Sebuah informasi yang valid dan sesuai dengan kebenaran dan fakta, pasti akan tercatat dalam laman-laman berita media besar yang kredibel. Biasanya lagi, akan ada lebih dari satu media yang memberitakannya. Meskipun setiap media memang punya sudut pandang atau kecenderungan (angle) berita menurut kebijakan redaksi masing-masing, tapi kita bisa memperkaya diri dengan informasi dari beberapa media, sekaligus meng-cross check berita tersebut. Misalnya, kita denger nih, katanya pejabat A korupsi. Google pasti akan ngasih banyaaaaak sekali angle berita yang akan memperkaya pemahaman kita tentang kasus itu (kalau emang bener si A korupsi). Asal mau baca dan nyari aja. Kalo baru denger katanya-katanya udh langsung di-share padahal infonya salah, nah loh, bahaya kan… bisa kena UU ITE nanti.

Untuk mencaritahu berita yang memuat gambar, Google juga menyediakan fitur Google Image sebagai petunjuk darimana pertama kali gambar tersebut berasal.  (Cara lengkapnya, silakan lihat di sini).

2. Konfirmasi!

Di jaman canggih sekarang ini, mudah kok kalau mau konfirmasi apapun. Hampir semua orang bisa dijangkau lewat sosial media. Ga perlu tahu nomor ponsel pribadinya, bisa tanya lewat Twitter atau Facebook, atau Instagram. Bisa sms atau telpon sendiri lebih bagus lagi. Masalah dijawab atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting kita sudah berusaha. (Heu, biar tau rasanya jadi wartawan yang sering ga diwaro sama narasumber judes yang lagi bermasalah.. Mang enak. :-D)

3. Periksa sumber!

Jurnalis yang baik, biasanya mencantumkan sumber tulisannya, atau mencantumkan namanya, sebagai penulis berita tersebut. Gunanya, supaya bisa di-traceback sekaligus melihat kredibilitas si penulis berita itu. Kecuali yaa, kecuali kalau tulisan itu cuma opini pribadi. Ingat, OPINI BUKAN FAKTA lho. Tapi opini yang berulang-ulang disorot dan terus-terusan didengungkan, lama-lama jadi bisa dianggap sebagai fakta, padahal cuma opini. Jangan sampai juga kita jadi bagian dari orang yang ‘tertipu’, dan ikut menyebarkan ‘tipuan’ itu.

Nah, kalau kita ketemu artikel yang seringnya sok-sok ilmiah, lengkap dengan istilah-istilah aneh,  ada baiknya kita cek juga jurnal ilmiah/akademis yang terkait. Bisa pakai Google Scholar dan Google Books. Cermati nama ilmuwan yang dikutip dalam artikel. Ada dan nyata beneran ga tuh, orang dan risetnya. Jangan sampe udah kepalang makan kulit duren kering kerontang karena mau kurus, ternyata informasinya cuma hoax.

Mengapa kita tidak boleh menyebar berita hoax

 

 

Pasal 27 ayat 3 UU ITE No. 19/2016 hasil revisi yang baru berlaku 28 November 2016 kemarin, menyebut melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Di pasal 35 UU ITE yang baru itu, bahkan disebutkan hukuman untuk mereka yang menyebar (ga cuma yang membuat lho ya) informasi palsu atau hoax bisa dijerat 12 tahun penjara.

Syerem kan yak. Basically, ini juga yang membuat kami, para jurnalis sangat berhati-hati dalam membuat dan menyebarkan berita. Selain memang kerja kami dipagari oleh Kode Etik Jurnalistik, kami juga punya tanggung jawab moral agar pemirsa bisa tercerahkan dan ga jadi mislead.

Satu lagi alasan kenapa kita ga boleh (dan harus berusaha mencari tahu) agar tidak ikut menjadi penyebar hoax & fitnah adalah bukan cuma hukuman di dunia, adalah dosa di akhirat, sama dengan makan bangkai saudara sendiri. Naudzubillah.

 

Advertisements
Posted in catatan seorang jurnalis, dari kacamata njul.., njul cerita-cerita..

Resign : Opening A New Chapter.

image

Cintai pekerjaanmu, bukan perusahaanmu.

Hampir 6 tahun lalu, saat saya pertama kali mendengar kalimat ini dari wakil pemimpin redaksi di hari pertama saya bekerja, 10 Agustus 2010. Saat itu saya nggak terlalu paham apa artinya. Sebagai anak baru yang nggak punya latar belakang pendidikan apapun mengenai jurnalistik kecuali pengalaman jurnalistik ala-ala, saya cuma senyum ngangguk-ngangguk aja, karena belum bisa merasakan, ‘nikmatnya’ profesi ini, apalagi mencintainya.

Seiring waktu, saya semakin tahu, mengapa senior-senior saya banyak yang bertahan menjadi wartawan, meskipun sempat menjajal profesi lain. Banyak diantara mereka yang berpindah perusahaan, dan akhirnya kembali lagi ke habitatnya : media. Lama-lama memang ada semacam kepuasan tersendiri, ketika kita ikut terlibat menjadi salah satu ujung tombak utama dalam menyajikan fakta hingga bisa berdampak dan berpengaruh untuk masyarakat luas—beuraaat maang, berasa baca buku PPKn ga sih, haha.

Mengawali daftar pengalaman kerja dengan menjadi reporter di RCTI, membuka mata saya terhadap banyak hal. Sebagai sebuah institusi media TV swasta pertama di Indonesia, saya merasakan kebanggaan itu. Bagi saya, —dan mungkin juga bagi para suhu dan senior yang mengawali karirnya disini— RCTI bukan hanya sekedar tempat kerja, tapi juga keluarga. Disanalah saya pertama kali belajar wawancara narasumber, menulis naskah berita, melakukan live report, jadi VJ (Video Jockey—eh, Video Journalist ketang..  Yang one-man-show itu loh, ngambil gambar sendiri, on cam sendiri, nulis naskah sendiri, ngedit gambar sendiri), sampai belajar bagaimana memproduksi sebuah berita yang menarik dan ditonton jutaan pemirsa. Bukan proses yang mudah.

Tapi saya bersyukur, Allah masih memberi saya kesempatan untuk bertemu orang-orang hebat, wartawan-wartawan senior yang dengan caranya sendiri, sabar mendidik anak-anak bau kencur seperti saya. Mereka yang mau bersusah payah melatih gimana cara berbicara di depan kamera, gimana teknik bertanya ke narasumber supaya bisa menghasilkan jawaban yang bagus dan nge-lead, gimana menghadapi situasi baku tembak di dalam pengadilan, dan mengedepankan etika jurnalistik yang bebas dari sogokan atau bayaran berkedok hadiah.
Saya berhutang pada mereka. Mereka yang dibalik suara lantang dan nada kerasnya menaruh kepercayaan kepada saya yang nggak bisa apa-apa, untuk bisa berdiri live report di depan kamera. Saya berhutang kepada mereka, yang mau mengambil resiko itu, agar saya bisa semakin terasah, push myself to the limit, dengan mempertaruhkan layar. Saya berhutang pada mereka, yang setiap pagi selalu dengan galak bertanya, “SUDAH BERAPA KORAN YANG KAMU BACA HARI INI?” dengan harapan agar saya tidak menjadi wartawan kopong yang jadi bulan-bulanan narasumber (atau wartawan lainnya).
Saya berhutang pada mereka, yang mau mengambil resiko memberikan saya tanggung jawab yang lebih besar, menjadi seorang produser, meskipun saya sendiri ragu apakah kemampuan saya sudah cukup untuk mengemban amanah itu.

Saya berhutang pada mereka semua.

Sampai pada suatu titik dimana para senior-senior saya itu satu per satu pergi meninggalkan kantor ini.

image
Cube mic kebanggaan milik bangsa
image
Surely will be missing these moments.

Awal April 2016 kemarin, setelah melalui kontemplasi yang cukup lama—halah, lebayatun—saya pun akhirnya memberanikan diri memutuskan untuk mengambil langkah yang sama. Mengundurkan diri.

Saya menulis surat pengunduran diri dengan perasaan sedih dan nggak tega. Tapi kemudian saya teringat kalimat itu. Kalimat yang dulu saya tak pahami itu. Semburat maknanya perlahan semakin jelas. Ternyata dalam setiap entitas perusahaan, setiap orang punya ‘titik didih’nya masing-masing. Bagi saya, apakah kita ditinggalkan, atau meninggalkan, itu adalah pilihan hidup yang harus dihormati. Tak ada yang berhak mencemooh atau meragukan ke perusahaan mana kaki kita akan melangkah, jadi ibu rumah tangga, atau pergi sekolah lagi. Rejeki itu Allah yang mengatur, percayalah ngga akan ketuker.

At the end of the day, saya cuma ingin berbagi tips pada siapapun yang sedang galau untuk memulai lembaran karir yang baru dimana pun berada :

1) Bertanyalah pada diri sendiri
Apakah saya lebih sering stres menjalani hari saat bekerja? Apakah bangun pagi makin terasa berat untuk berangkat kerja? Apakah saya merasa kemampuan saya tidak cukup dihargai perusahaan? Apakah jam-jam kerja saya semakin penuh dengan pergunjingan kebijakan perusahaan yang semakin merugikan pegawai? Apakah situasi di kantor semakin tidak kondusif untuk bekerja dan memaksimalkan kemampuan? Apakah saya tidak happy berada di kantor? Dan seterusnya.
Kalau sebagian besar jawabnya, “IYA”, maka ini saatnya untuk mulai mempertimbangkan tempat kerja baru.

2) Bertanyalah pada keluarga terdekat
Entah pada suami, istri, orang tua, atau saudara, yang kira-kira bisa memberikan pertimbangan rasional. Kegalauan terkadang membuat penilaian kita bias, bahkan cenderung emosional dalam mengambil keputusan, and that’s no good.

3) Shalat Istikharah
Harusnya ini ditaruh di urutan pertama ya, karena Allah SWT lah yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk makhlukNya. Tapi ini saya taruh di urutan ketiga, kalo udah mentok curhat nanya-nanya tapi masih galau juga. Kepada siapapun kita mengadu, kalau masih merasa ragu, yakin deh bahwa Allah pasti akan menunjukkan jalanNya. Ketetapan hati adalah salah satu caraNya menunjukkan apa yang terbaik untuk kita.

4) Kalkulasi kembali kebutuhan bulanan
Ada banyak alasan orang ketika memutuskan untuk berpindah tempat kerja. Salah satunya adalah alasan finansial. Jika memang dirasa gaji bulanan tak lagi bisa memberi keleluasaan finansial, itu adalah salah satu indikasi untuk either minta kenaikan gaji, atau pindah tempat kerja. Sebelum memutuskan untuk pindah, pastikan tawaran gaji dan benefit yang diajukan tempat kerja yang baru lebih baik. Perhitungkan inflasi per tahun, dan bandingkan dengan laju kenaikan gaji di tempat yang lama. If you get a much better offer (e.g minimum 100% raise), TAKE IT!

Kalau pada tips keempat, keputusan yang dibuat semakin bulat, maka
5) Ayo buat surat resign yang baik
Menurut banyak artikel etika kerja, surat resign yang profesional tidak perlu terlalu panjang. Alasan pengunduran diri pun tidak perlu terlalu gamblang terang-terangan diceritakan. Tidak perlu terlalu berbunga-bunga. Kalau merasa harus berterimakasih dan meminta maaf pada atasan, sampaikan saja secara langsung.

6) Datang baik-baik, pergi baik-baik
Apapun alasan pengunduran diri, jangan pernah lupa, bahwa perusahaan yang kita tinggalkan sudah berkontribusi banyak dalam ‘membentuk’ dan ‘mengasah’ kemampuan kerja kita. Mari tinggalkan kesan profesionalitas yang baik tanpa mencelanya di hadapan atasan yang baru.

Apapun dan kemanapun langkah yang kita ambil, semoga penuh dengan keberkahan dan ridhoNya. Jangan lupa untuk selalu menjalin silaturahmi dengan teman-teman, karena silaturahmi memperlancar rezeki. 🙂

NB : yang butuh contoh surat resign, silakan tinggalkan alamat email—geer banget sih Njul, siga nu aya wae nu butuh, haha.

Posted in catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita..

(jurnalis) menikah dengan seorang jurnalis..

Sejak kecil, tidak pernah sekalipun terlintas di benak saya untuk menjadi seorang jurnalis. Paling, cuma kagum sama Desi Anwar kalau lagi nonton Seputar Indonesia pada jaman itu. Ih keren yaaa.. Tapi ya udah, gitu doang. Yah, pas jaman SD mah, layaknya anak-anak SD pada masanya, ya selalu ganti-ganti jawabannya ketika ditanya, “Kalau besar mau jadi apa?”. Hari ini jawabnya mau jadi profesor, besoknya jadi dokter, lusanya jadi insinyur, minggu depannya jadi presiden (persis kayak lagunya Susan & Ria Enes), ganti-ganti deh pokoknya. Galau menentukan arah hidup, hahaha.

Ketika menginjak bangku SMP, saya sok-sokan lah ikut ekskul majalah sekolah, yang namanya Info-5 (yang seringnya dibaca siswa hanya bagian Pe*Tai-pesan berantai- dan isinya kebanyakan salam manis buat kecengan atau sekedar numpang eksis doang) karena bisa bareng-bareng sama sobat-sobat dari jaman SD. Dari situ, saya mulai ngerasa, ih seru juga yaa, bisa buat artikel ngumpulin materi, wawancara temen yang berprestasi, terus ditulis. Jarang bangetlah ambil materi dari internet. Waktu itu internet udah ada sih tapi ga kaya sekarang. Dulu aksesnya cuma dari warnet. Wong henpon aja paling cuma anak-anak berada yang punya, itu pun belom berteknologi smartphone. Paling cuma dipake main Snake. wkwkwk.

Masuk SMA, satu-satunya kegiatan saya yang masih berbau jurnalistik ala-ala, hanyalah karena saya kebagian ngerjain buletin DKM SMA, namanya Tifosi. Nggak banyak pengalaman jurnalistik yang bisa ditarik dari situ, karena yang saya inget, kerjanya cuma ngetik dikit, ketawa-ketawanya yang banyak. Superbly fun friendship and amazing teamwork. Saya jadi suka senyum-senyum sendiri inget masa-masa jahiliyah itu. Katanya anak DKM, tapi kalo lagi rapat ujungnya curhat – eaa. Haha, masa-masa galau menentukan hidup lagi kan. Cuma sedihnya, salah satu dari kami tidak berumur panjang. Meli, pergi menghadap Allah, bahkan sebelum kami lulus. Hiks. 😥

Saat kuliah, saya bahkan nggak ikut dan nggak berminat kegiatan apapun yang berkaitan dengan jurnalistik. Sama sekali. Jadi yaa ketika saya lulus tahun 2010, wisuda, dan 2 minggu kemudian langsung jadi reporter di RCTI, that’s what we called DESTINY.

Dua tahun jadi jurnalis, saya lalui dengan belajar dari nol besar. Awal-awal karir (ciyee macem betul ajee, karir) saya sering dimarahin karena nulis naskah berita ga becus, 5W1H nya ga lengkap, ceritanya nggak runtut, atau terlalu panjang. Semua saya telan dan saya jadikan pelajaran berharga. Lalu sampailah saya pada masa dimana saya ditugaskan untuk jadi wartawan politik, yang meliput di DPR. Awalnya, saya nggak kepikiran untuk punya pacar sesama jurnalis. Meskipun ngeceng mah ada lah yaa, haha. Wartawan juga banyak lho yang lucu-lucu, mayan bikin mata seger jadi semangat liputan.

Ada 3 profesi yang harus kamu pertimbangkan untuk dijadikan calon suami. Pertama, polisi, kedua, tentara, ketiga, wartawan. Karena tiga-tiganya sama-sama sering dinas keluar kota, punya potensi besar punya bini di banyak kota.
Bang Ferry Insan, cameraman, 2011

Kalimat itu selalu nancep di kepala. Eh, pucuk di cinta, ulam tiba. Tau-tau salah satu dari sekian banyak wartawan DPR itu tiba-tiba ada yang nekat, ngajak saya nonton. 😂

image
Wartawan yang nekat ngajak saya nonton (foto : Andri Nurdriansyah, 2013)

Waktu berjalan begitu cepat, tiba-tiba 4 bulan kemudian, dia lebih nekat lagi. Ngajak saya nikah! Kaget sih, tapi saya pikir, ya udahlah, mumpung ada yang mau daripada ngga laku-laku, padahal umur udah mau seperempat abad. Daripada baper kan ya, sementara undangan-undangan nikahan temen udah pada ngantri aja ampir tiap minggu. Bismillah aja deh. 😂

image
Sah! (foto : pribadi, 19 Oktober 2013)

Ternyata, menikah dengan sesama jurnalis itu alhamdulillah, punya banyak sekali privilege (disamping liabilities) bahkan sejak dari saat kita merencanakan perkawinan.

1) Foto prewed difotoin wartawan foto
Yang motoin fotografer Parlemen, Mas Andri Nurdriansyah. Harga bersahabat, hasil hebat. 😁
Orang mah sibuk nyediain waktu dan dandan khusus buat prewed, ini DISAMBI liputan, masih pake seragam. Makasih banyak, Mas Andri 🙂

image
Salah satu foto prewed yang dijadikan undangan foto (foto : Andri Nurdriansyah, 2013)

2) Teman-teman wartawan merangkap Pagar ayu, pagar bagus, MC, band kawinan
Yak, pernikahan kami banyak sekali berutang budi sama temen-temen sesama jurnalis. Dengan bantuan mereka, nikahan kami jadi mirip-mirip slogan koran Pikiran Rakyat. Dari wartawan, oleh wartawan, dan untuk wartawan.
Mulai dari MC, Andyani Purnama, alias Ade, temen sekosan saya, (dulunya) reporter MNCTV, mau menyumbangkan keahliannya bercuap-cuap dan bikin kawinan kami nggak boring. 😁
Band kawinan, artisnya Mbak Ken dan Teh Ratna, sesama wartawan Istana, beserta personil band temen-temennya yang wartawan semua. Fotografer candid pas nikahan juga dibantu Mas Agus, cameraman yang juga suka fotografi.
Belum lagi belasan wartawan temen-temen di DPR, dan Istana, yang mau saya repotin jadi pager ayu dan pager bagus merangkap wedding organizer dan LO tamu VIP.
Meskipun mereka bukan wedding organizer profesional, tapi alhamdulillah nikahan kami lancar karena bantuan mereka. Saya nggak bisa bayangin, kalau nggak ada mereka yang membantu mengenali, mengatur dan menemani banyaknya tamu VIP yang hadir. Makasih banyak buat Mas Agus, Mbak Indri, Cak Slem, Mas Tegar, Mas Iqbal, Bayu Tan, Risty, Fyra, Desa, Mbak Nukie, dan semuanya. Semoga Allah yang membalas kebaikan kalian. 🙂

3) Berbagi info A1 tentang berita terkini
Berbagi info di kalangan wartawan mungkin adalah hal biasa. Tapi karena kami punya ‘jaringan’ yang berbeda, tak jarang kami pun bisa bertukar ‘cerita’. Sering malah ‘ngegosip’nya sebelum bobok, melengkapi potongan-potongan puzzle suatu kasus yang lagi hot versi si A, si B, si C, dan seterusnya. Our kind of pillow talk. Enaknya, jadi selalu punya referensi baru untuk mengembangkan angle (sudut pandang) liputan. Seperti kata seorang jurnalis politik senior saya dulu.

“Sumber informasi untuk beritamu bisa dari mana saja. Narasumber, saksi mata, polisi, jaksa, pengacara, dll. Tapi jangan lupa, informan yang paling dekat. Sesama wartawan.”

Gimana nggak kurang dekat. Wartawannya selalu bobok satu kasur. Wkwkwk.

4) Jadi orang pertama bertanya kontak narasumber
Ketika saya butuh wawancara narasumber tertentu untuk melengkapi liputan, tapi nggak tahu nomor henponnya, orang pertama yang saya tanya, ya si Mas.

5) Liputan = Honeymoon gratis!
Ini bener-bener kejadian tanpa rekayasa. Rejeki emang ngga kemana. Kongres PAN di Bali, Maret 2015, selama 3 hari 2 malam kami bisa satu kamar hotel, meskipun pulang dan pergi ke Bali secara terpisah. Saya bareng sama cameraman, si Mas sama rombongannya.

6) Ditinggal liputan keluar kota mendadak (atau sebaliknya)
Resiko menikah dengan seorang jurnalis adalah harus siap ditinggal dinas mendadak liputan keluar kota. Itu berlaku buat saya, dan si Mas tentunya. Gak jarang saya harus siap kalau misalnya tiba-tiba si Mas bilang, “Bun, Ayah mau ke Jepang Rabu besok..” Kemudian saya pun iri. Zzzz.
Begitupun sebaliknya, kalau saya yang ditugaskan keluar kota.

7) Dokumentasi keluarga lengkap standar broadcast
Enaknya punya pasangan jurnalis adalah paling tidak mereka punya kemampuan dasar fotografi dalam mengabadikan setiap momen. Terlebih untuk merekam momen-momen istimewa perkembangan Kynan, atau sekedar merekam video tingkah polahnya. Minim foto gagal, dan videonya lengkap dan enak dilihat. Heu.

8) Punya banyak informan yang ‘jagain’ suami (atau sebaliknya)
Dunia media itu sangat sempit. Kita sering berteman dengan banyak jurnalis yang sama karena pernah satu pos liputan atau pernah ketemu di lapangan. Jadi, kemanapun dan sampai jam berapapun si Mas pergi liputan, pasti akan ada ‘mata-mata’ yang siap ‘melaporkan’ tingkah polahnya pada saya, atau sebaliknya. Wkwkwk 😁

Itu mungkin baru sebagian suka-duka menjadi pasangan jurnalis. Yang pasti, punya pasangan jurnalis itu tidak seperti mereka yang punya pasangan kerja kantoran. Kami harus bisa saling memahami tuntutan profesi, yang tak jarang harus rela liputan sampai tengah malam, menuntaskan rundown program berita malam sampai dini hari, atau bahkan baru berangkat kerja dan memulai hari saat yang lain sudah terlelap untuk membuat rundown program berita pagi. Begitulah.

Salah satu produser senior saya bahkan pernah sampai dikira tetangganya kerja di tempat hiburan malam, karena bertahun-tahun punya siklus nokturnal, membidani program berita yang tayang jam 5 pagi. Nasib.

Semua kami lakukan demi menyajikan informasi teraktual untuk Anda. 😁

Posted in catatan seorang jurnalis, dari kacamata njul..

cerita bangsa dari semangkok Shabu-shabu kuah susu.

Banyak orang berpikir, menjadi wartawan itu enak.

Well, ngga sepenuhnya salah sih.. Harus saya syukuri, karena apa yang saya alami selama hampir 2 tahun ini, sudah banyak sekali menyumbang pelajaran hidup—jika dibandingkan dengan kehidupan seandainya saya tidak memilih jalan ini, dan tetap memegang mikropipet atau RNA Isolation Kit.

Setiap hari, ada aja pelajaran yang bisa dibawa pulang. Setiap orang yang saya temui, bisa jadi sumber inspirasi. Apapun kisah atau kasus yang saya dalami, ada hikmah yang bisa dibagi.

Gimana ngga? Setiap hari, selalu ada kejutan baru. Pagi ketemu tukang sampah, sorenya ketemu Menteri, itu sangat bisa, bahkan pernah saya alami. SEKONTRAS ITU.

Bukan berarti kehidupan sebagai peneliti itu membosankan loh. Jadi scientist itu menurut saya perjuangannya juga ngga kalah beratnya. Berbeda dengan ilmu sosial, tantangan ilmu sains itu,  lebih abstrak. —apa yang dicari dan apa yang harus dibuktikan, mirip kaya lagunya Utopia gitu deh.. “Antara Ada dan Tiada”.

Tanpa kesabaran dan mental yang ngga gampang menyerah, you’re nothing! —hanya mereka yang pernah merasakan, mengulang seluruh rangkaian eksperimen TA demi mendapatkan hasil sesuai hipotesis yang memenuhi kaidah statistik, yang paham betapa beratnya perjuangan itu.

Hanya saja… Ketika masuk dunia jurnalistik, buat saya dunia yang asalnya bisa dideterminasi menggunakan B/W Contrast, sekarang keliatannya jadi Greyscale semua. Batas antara benar dan salah, yang sejelas monokrom, hitam dan putih, sekarang tak lagi sejelas itu. Semuanya abu-abu. Inilah yang kadang membuat saya ingin kembali lagi ke bangku kuliah, dimana hidup ini terasa lebih simpel, sesimpel memikirkan “Hari ini gue ke kampus ngerjain apa ya di Lab?” dan mau download film atau serial apa dari 167.205.30.69 —maaf, konten internal Kampus Gajah Duduk, heu..

Menjadi jurnalis, menuntut saya untuk bersinggungan langsung dengan permasalahan nyata yang terjadi di negeri ini. Menyadari betapa carut-marutnya sistem negara ini, rasanya kepengen pindah aja keluar negeri. Suram.

Tapi, beberapa hari yang lalu, seseorang mengubah cara pandang saya, di suatu sesi makan Shabu-shabu kuah susu kedelai, dan es krim rasa kacang merah di restoran Jepang kelas premium hotel ternama ibukota. Seorang anggota dewan, pimpinan Komisi, menjabat rangkap sebagai Ketua Fraksi, yang dibesarkan dalam kampus yang sama. ITB. Beliau pun berbagi hasil kontemplasinya kepada kami…..

Bangsa ini sudah telanjur bermental kerdil.  Padahal negara ini berpotensi besar. Kita harus bersyukur, di mata dunia, ekonomi makro kita justru sedang menuju fase puncak sinusoidal. Dibandingkan bangsa Eropa, Italia dan Yunani misalnya, kondisi ekonomi kita saat ini jauh lebih baik. Disana, yang dulunya kelas menengah, sekarang melarat.

Karena apa?

Utang mereka besar. Rasio utang terhadap PDB mereka mencapai 150%, sementara rasio utang terhadap PDB Indonesia masih dalam kisaran 24,9 %. yang artinya, masih jauh lebih bagus, karena biarpun utang, tapi utangnya mendorong  pertumbuhan ekonomi. Ironisnya, dengan “rejeki”  ini kita justru semakin sulit berpikir besar. 

Dengan sepak terjang media berhaluan industri, masyarakatnya  telanjur dididik untuk menjadi generasi yang skeptis dan  pesimistis terhadap bangsanya sendiri. Stigma buruk terhadap pemerintahan, lembaga hukum, dan legislatif sudah kepalang melekat.

—hard to admit, tapi ini nyata, dan saya tidak sendiri.

Dengan demokrasi yang dibangun di atas kemiskinan, dan kebodohan, tanpa sokongan upaya pencerdasan dari media, masyarakatnya tumbuh menjadi masyarakat yang labil, dan mudah bergeser  tata nilainya, sebagai imbas dari pemberitaan yang selaluuuu buruk terhadap segala sesuatu.

Contoh : Kasus Korupsi Wisma Atlet. Itu cuma sejumput kecil dari kerugian negara yang dibesar-besarkan media. Bukan berarti salah mengangkat itu, tapi  masih banyak kasus lain yang  jauh lebih besar, justru tidak mendapat perhatian sama sekali.  Dibalik kasus Wisma Atlet, Century, Hambalang, dll, yang ruginya sampai trilyunan rupiah, masih banyak kasus lain yang merugikan negara, bahkan sampai RIBUAN TRILYUN, tapi tak ada yang membukanya sama sekali.    

Selain itu, meskipun dasar negara Indonesia adalah campuran dari fondasi keagamaan  dan nilai-nilai budaya lokal, tapi sayangnya fondasi hukumnya justru dibangun dari hasil adopsi bangsa penjajah.

Ini adalah bunyi cita-cita bangsa kita : 

“Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

Adil, artinya  seimbang, adil secara hukum. Makmur, tak lain dan tak bukan merujuk pada  kemakmuran ekonomi bangsa.

Tapi, bagaimana bisa, fondasi hukum NEGARA PENJAJAH, bisa mengutamakan keadilan untuk negara jajahannya? Dengan fondasi hukum demikian, pencurian sandal jepit, diganjar 5 tahun, tapi  kasus suap cek pelawat hanya diganjar 1,5 tahun. Dimana letak keadilannya? 

Memang, bangsa ini sudah kepalang nggak punya arah. Berjalan tanpa GBHN. Tak punya REPELITA. Dengan Presiden yang lembek  bak boneka, dan sangat antek Amerika. 

Tapi, pertanyaannya : BAGAIMANA BANGSA INI MAU BESAR, KALAU SEMUA ORANG HANYA BISA MENGKRITIK TANPA MAU MENJADI BAGIAN DARI PROSES SOLUTIFNYA?

Well

Mungkin pertanyaan ini dulu cuma jadi caprukan mereka-mereka calon-calon Presiden Keluarga Mahasiswa, atau calon-calon Ketua BEM dimana-mana.

Tapi percayalah, ibarat korban kecelakaan Xenia Maut-nya Afriyani Susanti di Tugu Tani, Minggu siang kelabu tanggal 22 Januari 2012 itu, negara ini sedang terkapar berdarah-darah, dan harus segera masuk ICU untuk ditangani. 

Dokter-dokter ahlinya itu KITA. Kalo bukan kita, SIAPA LAGI??

Posted in catatan seorang jurnalis, dari kacamata njul.., njul cerita-cerita..

CHALLENGE ACCEPTED — another story of my journo life #1

Hare geneeee, siapa coba sebagian besar generasi bekerja masa kini yang ngga melakukan runtutan berikut ini : bangun pagi, pergi ke kantor, sampai habis hari, pulang, dan tidur. Repetisi dari Senin sampai Jumat, 5 dari 7 hari dalam seminggu.

Mungkin saya harus bersyukur. Rutinitas yang saya jalani setiap hari, agak berbeda dari generasi bekerja pada umumnya.

Well, saya juga pergi ke kantor kok setiap pagi. Tapi hanya untuk baca koran, diskusi sebentar sama bos, dan ambil surat jalan.

Kalau anda-anda menghabiskan sisa hari di kantor, saya menghabiskan hari di jalan. Buat saya—dan mungkin sebagian besar teman-teman jurnalis lainnya, ya jalanan itulah kantornya. Bedanya, saya ngga punya komputer, meja, atau kubikel sendiri. “Fasilitas” bekerja saya, adalah mobil—beserta pilotnya, kameramen, dan gadget apapun yang bisa dipake internetan sambil berjalan.
Kalau anda-anda cuma bisa lihat pemandangan dari balik jendela gedung puluhan lantai, beruntungnya, mungkin apa yang bisa saya lihat dan temui, jauh lebih beragam dari itu. 😀

Saya pikir semua sepakat, kalau rutinitas itu berpotensi besar mengakibatkan kejenuhan.

Tapi bukan, bukan itu yang mau saya ceritakan.

“Kantor” baru saya..

Jadi gini. Kurang lebih beberapa bulan ke belakang ini, saya menjajal rasa rutinitas yang berbeda, yang kadang bikin saya kangen berkantor di jalan lagi seperti dulu.

Gimana ngga, kantor saya sekarang “pindah” ke Senayan.
Ya, pindah gedung wakil rakyat kita yang terhormat, yang bentuknya ada yang sebagian bilang mirip kura-kura, ada juga yang dengan kemampuan imajinatif lebih tinggi bilang mirip pantat Hulk, karena atap kembar hijaunya itu—cik coba, tilik sendiri, mirip apa cing? heu..

Bukan sebagai anggota DPR boo’, pastinya. Apalagi jadi staf ahlinya. Ngga, ngga, ngga merasa cukup cantik saya untuk jadi staf ahli atau asisten pribadi anggota dewan yang mostly berkaki jenjang, mulus, cantik-cantik tapi menurut saya agak meragukan isi otaknya itu. Bukan.

Kalo kata abang-abang mantan bos saya—yang sekarang sudah jadi produser—, istilah gayanya saya sekarang adalah : WARTAWAN UTAMA DPR.

Pertama kali saya tahu kalo saya yang ditunjuk menggantikan posisi orang yang sekarang jadi bos saya—abang-abang yang lainnya, karena abang mantan bos saya itu sudah jadi produser—yang notabene sangat cerdas, dan kemampuan penetrasi narasumbernya—menurut saya—paling numero uno se-redaksi RCTI itu, rasanya saya seperti kena petir di siang bolong.

I was like, “Duuuude, bisa apa gueeeee?”

Proudly admit, I’m absolutely a moron compared to him in politics..

Kenapa gue yang ahli genetik ini yang malah disuruh ngurusin politik?
Seumur-umur masuk RCTI, sudah bidang inilah yang paling saya takuti—dan jujur, hampir saya benci. Gimana ngga? Cing, gue adalah generasi yang tumbuh besar dengan infotainment, how can i ever have any adequate knowledge about politics?

Okelah.
Berbekal keyakinan pada surat Al-Baqarah ayat 286¹ ..

 fine,  CHALLENGE ACCEPTED.

Berpindah “kantor”, buat saya berubah pula tantangannya. Kalo di jalanan, bisa bertemu segala macam lapisan orang, eh, orang dari segala lapisan masyarakat maksudnya. Sekarang, jadi cuma bisa ketemu lapisan crémé dé la crémé nya doang. Menteri dan anggota DPR, segala macam bentuk, tingkah, dan variasi, jadi makanan sehari-hari.

Ada tuntutan besar yang selalu menghantui, ketika keberhasilan liputan setiap hari tidak lagi bertumpu pada gambar yang bagus, indah, dan berstandar National Geographic Channel. Kenapa? Di DPR itu, semua orang bisa ditanya. Semua orang mau masuk dalam media publikasi manapun—kecuali sedang bermasalah, kaya Angelina Sondakh, atau Anas Urbaningrum, lain lagi ceritanya.

Dalam berita politik, senjatanya adalah kutipan asli, alias kata-kata yang keluar dari congor mereka. Selain harus cerdas memilih dan memilah —baca : meramalkan jawaban orang berdasarkan posisinya dalam konstelasi politik, siapa orangnya siapa— congor mana yang dipilih sebagai corong informasi, pertanyaan yang bagus juga menjadi senjata yang nggak kalah penting lainnya. Seperti kata bos saya sekarang..

Pengetahuanmu, amunisimu.

Dulu mungkin saya nggak begitu paham bagaimana implementasinya di lapangan. Sekarang, without sufficient knowledge, you are nothing. Jangan harap bisa dapat quotation yang bagus. Dan, buat saya haram hukumnya pergi ke DPR ga pake nyisir headline semua koran dan online portal.

Ada satu hal yang bikin saya agak geli ya, ketika masuk ke dunia baru ini. Berkaitan dengan gender, dan cukup membantu ketika saya butuh bantuan atau informasi tertentu, but I’ll save it for my next post.

Intinya, apapun yang kita hadapi dalam hidup ini, selalu terselip pelajaran-Nya. Ibarat sekolah, mungkin ini adalah waktunya saya ujian, untuk naik ke kelas berikutnya, yang tantangannya lebih sulit lagi. Tapi, satu hal yang saya syukuri sekarang, adalah kepercayaan yang sudah diberikan untuk bisa menjalani ujian ini. Buat saya, selain jadi ajang pembuktian diri, ini bisa jadi cerita baru untuk adik-adik kelas saya sesama pemegang ijazah Gajah Duduk sejati lainnya. Men, jangan mau lah dijuluki Institut Teknologi Bank…  *heu*

——————————————–

Notes : ¹) “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” – QS Al Baqarah : 286

Posted in catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita..

today. in phrases.

Saya ingin sekali cerita banyak hal hari ini. Tapi ngantuk… :-p                                 Jadi, ceritanya dalam frasa kata aja ya.

Liputan jam 6 pagi. Monas. Setelan kondangan. Apel persiapan pengamanan KTT ASEAN ke-18. Paspampres. Ngopi. Neduh. Panglima TNI Agus Suhartono yang gagah.  —kalem, saya ga selera ko sama bapa-bapa, senang liat yang berkarisma aja— Kapolri Timur Pradopo. Belasan ribu pasukan gabungan TNI dan Polri upacara. Masih trauma liat Brimob. Tentara main layangan. Ketemu Mayor Paspampres yang sama-sama orang Bandung. Tripod patah.

Sunatan 2 orang cucu Pak Habibie. Full Gorontalo. Baju plus pemangku adat. Cara isi. Kue Perahu. Tahu Campur Surabaya. Buras. Sate Padang. Mie Bebek. Nasi Bali. Es krim goreng. Habibie baru denger Al-Zaitun diduga punya hubungan dengan NII KW 9. Perilaku orang, terbentuk dari budaya, agama, dan ilmu pengetahuannya. Saya bukan saya, jika ayah saya bukan ayah saya, dan ibu saya bukan ibu saya. Ayah Pak Habibie, generasi pertama Habibie dari Kabila, Gorontalo. Inspirasi semua orang, untuk kembali memaknai budaya sendiri.      —menohok diri sendiri, yang nggak tau apa-apa tentang Gorontalo, padahal termasuk turunan darah birunya, ceunah :-p —

KL Kopi Tiam. MacBook Pro baru. Roti chanee 5000 perak. Nasi kebuli enak. Nonton “Orphan”, dan bersambung ajalah. dan…………..

NGANTUK.

“..there you go, I’m so tired to keep connecting the dots for you. – Kate Coleman” ~ Orphan, 2010

Posted in catatan seorang jurnalis, dari dalam news room.., impian jiwa..

pernikahan abad ini (or at least, they said so..)..

Oke. Karena sudah lama tidak menulis, jelas terasanya gagap di atas keyboard pas ketemu sama halaman ‘new post’ lagi..  —beda banget kalo lagi menghadapi halaman social network yah, heu.. :p—

Jadi, mungkin supaya lebih mudah bercerita, saya akan akan membahas kejadian yang sedang jadi perhatian semua orang hari ini :

PERNIKAHAN PANGERAN WILLIAM & KATE MIDDLETON

Sejumlah media besar ternama melansirnya dengan judul headline  “Pernikahan Abad Ini” ..

Entah kenapa juga harus disebut pernikahan abad ini ya?                  Mungkin karena semua mata tertuju pada mereka.. Atau, mungkin.. karena pernikahan ini layaknya pernikahan impian yang ada di buku-buku dongeng Walt Disney, yang agak-agak berbau Cinderella sedikit —tapi ini  Cinderellanya multimilyuner aja gitu, zzz—

Anyway, apapun sebabnya, yang jelas pernikahan ini memang menyedot perhatian dunia. Mulai dari kabar pertunangan, persiapan pernikahan, sampai tetek-bengek seperti bentuk dan rancangan gaun pertunangan dan pernikahan mereka, jadi buah bibir di hampir seluruh negara. —Bahkan Katy Perry aja sampe ngucapin selamat dengan ngecat kukunya bertema Royal Wedding—

 Nggak mau ketinggalan, hari ini saya pun didaulat untuk wawancara seorang designer terkemuka tanah air —yang ternyata mantan reporter RCTI juga— dengan topik yang sama.. —cerita tentang apa yang saya lihat di dalam butiknya, itu mungkin bisa jadi satu halaman lain lagi 😀

Nonton prosesi pernikahannya, saya yakin nggak hanya saya dan orang-orang se-News Room yang menuhin space di depan layar BBC dan CNN bak nonton bareng Piala AFF. Pastinya banyak juga yang sampai lupa waktu saking terpesona sama setiap detail upacaranya —atau sekedar menunggu kemunculan close-up shot Prince Harry yang bengal-bengal seksi meski cuma sekian frame dari sepanjang siaran langsung, seperti saya :p

Setelah menunggu sekian lama di depan layar iMac raksasa, mantengin siaran langsung APTN dari Inggris sana, akhirnya, gambar ini saya dapatkan, dengan sebuah jepretan P1i saya yang setia, di detik yang sama dengan kejadiannya —ga tau lagi kalo ada delay nya yaa, heu—..

The Very First Royal 'Balcony Kiss' of Prince William & Kate Middleton

 Entahlah.. Rasanya puas sekali bisa mendapatkan foto ini.. 😀