Posted in life hacks, njul cerita-cerita.., ODOPfor99days2017

Ketika Kami Jadi Korban Perampokan

Waspadalah.. waspadalah.. waspadalah..

Tengah malam itu, kata-kata Bang Napi mendadak terngiang di kepala. Rasa terkejut, sedih, hampa, kosong, bingung, dan marah, campur jadi satu. Kejahatan memang gak pandang bulu, dan gak pakai permisi (ya iya kalo malingnya datang pakai permisi, assalamualaikum, spada… situ mau nyolong apa arisan?).. Sumpah, seumur hidup saya nggak pernah (dan jangan sampai pernah sekali-kali lagi, naudzubillah) ngebayangin bakalan jadi korban perampokan.

19 Januari 2017. Malam itu, jam tangan masih menunjukkan pukul 00.15 saat saya turun dari boncengan si Mas, untuk buka gembok rumah. Sekali, dua kali, tiga kali, gembok yang biasanya bukanya lancar, tumben-tumbennya jadi macet. Beranjaklah saya ke ruas pagar yang satunya, mencoba alternatif jalan masuk dari yang biasanya.

Mimpi buruk dari malam yang (seharusnya berakhir) menyenangkan, sepulang kami nonton La La Land di XXI Gandaria City, dimulai.

Gembok di ruas pagar yang satunya lagi LENYAP. Lembaran fiber yang menempel di pagar, sudah rusak disobek paksa.. Mobil memang masih terparkir di tempatnya, tapi PINTU SAMPING RUMAH UDAH NGABLAK KEBUKA LEBAR. Kusen pintu udah rusak dibobol linggis. Itu momen pertama jantung mau copot. Kalo dikasih music score kayak di film kalik ibarat masuk scene horor pas tokoh utamanya masuk kamar mandi yang ada cerminnya. Hantunya udah siap-siap mau keluar.

IMG_20170119_001048.jpg
Pintu kamar kami yang dibobol maling

Masih dengan helm di kepala, saya langsung lari masuk ke ruang tengah, nyalain lampu.

Pintu kamar utama yang biasanya terkunci rapat, TERNYATA UDAH KEBUKA LEBAR JUGA… Isi kamar kami udah amburadul diacak-acak. Baju-baju dari lemari udah diobrak-abrik, sampe segala macem isi cosmetic case, lipstik, eyeshadow, bedak, dan teman-temannya di atas meja dandan, udah pindah ke lantai. Di saat jantung rasanya udah hampir berenti, otak masih susah payah mencerna.

“Apa iya rumah gue baru aja kemalingan? Apa iya gue jadi korban perampokan?”

Sementara si Mas udah sadar kalau kita jadi korban perampokan, dan langsung bergegas lapor ke satpam dan ke Polsek Serua yang kantornya di depan kompleks, saya langsung ngecek keberadaan barang berharga yang bisa terlihat tanpa menyentuh apa-apa. Alhamdulillah, kunci motor sama kunci mobil masih ada di tempatnya. Emas batangan dari mas kawin nikahan yang disembunyikan di tempat rahasia, masih ada. Dua televisi di ruangan yang berlainan, juga masih ada di tempatnya. Blender, DVD, setrika, mesin cuci, kulkas, juga masih ada. Terus apa yang hilang?

Gak bisa mikir, saya pun duduk di ruang tengah, banyak-banyak istighfar, sambil telpon orang tua di Bandung, menceritakan kabar duka ini. Takut juga sih, kalau malingnya tiba-tiba balik lagi, sementara saya di rumah sendirian dalam rumah yang vulnerable karena udah dibobol maling. I felt soooooo horrible I couldn’t describe.

Gak lama, si Mas kembali, bawa polisi, satpam, Pak RT, dan banyak orang lain yang entah siapa, di tengah dinginnya malam yang untungnya gak pakai hujan deras itu. Dengan hati-hati banget, supaya ga ngerusak TKP, saya periksa apa sebenarnya barang yang dicolong sama si maling nurus tunjung sialan yang sempet-sempetnya minum air dari dalam kulkas itu-which is si gue taunya karena botol penuh air dingin yang ada di dalam kulkas udah pindah tempat di depan teras, dan berkurang isinya.

Satu laptop HP putih jebot perjuangan yang saya pakai untuk ngerjain skripsi (beserta chargernya), Blackberry Bold II putih yang dulu saya pakai buat ngetik berita, sama Smartfren Andromax Z punya si Mas yang semuanya kami simpan di dalam lemari, raib. Celengan iseng saya sama si Mas yang isinya ga sampe Rp200.000 itu juga ternyata udah pindah tempat dan kosong. Parfum Paris Hilton saya, dan parfum si Mas dari seserahan dulu yang masih dalam kotak, penuh dan biasanya teronggok manis di meja rias karena dihemat-hemat makenya, rupanya digondol juga. Kotak isi bros sama cincin-cincin kondangan (yang alhamdulillahnya imitasi), juga hilang. Tapi, buat saya, yang paling berharga dari laptop bersejarah yang hilang itu adalah kenangan yang tersimpan dari foto-foto lawas, data skripsi, sama koleksi serial favorit sepanjang masa, “How I Met Your Mother” lengkap dari season 1 sampe tamat season 9 yang ya udalah yaa, mau gimana lagi, ikhlasin aja.

Urusan sama polisi dan penyidik baru kelar jam 3 pagi. Mungkin saya yang terlalu high expectation ya, kirain tim penyidik dari Polres Ciputat yang dateng bakal bawa segambreng peralatan pencuplik sidik jari lengkap sama gloves, kuas karbon, dan kantong barbuk. Ternyataaaaaa… buat bawa kaleng celengan sebagai barbuk aja mereka MINTA (minta booo, ga bawa sendiri) keresek bekas dari si gue. Haha. I was like…. mmmm, OKAY. Entah harapan saya yang ketinggian yak, dianggep polisi Indonesia bisa secanggih polisi luar negeri, gara-gara kebanyakan nonton CSI atau NCIS.

Baru kali itu, saya merasakan, gimana rasanya jadi korban yang ditanya-tanya penyidik. Biasanya kan cuma motong petikan wawancara korban aja kalo ada kasus perampokan yang mau ditayangin dalam program berita. Now, I can fully feel the sorrow and relate to them.

Sehari setelah kejadian pun, perasaan shock dan traumanya masih belum ilang. Saya dan si Mas masih males ngapa-ngapain atau beranjak dari rumah, yang sementara kuncinya cuma bisa diperbaiki darurat. Sedih sebenarnya. Karena seharusnya akhir pekan ini, jadi akhir pekan pertama Kynan ikut jadi warga Tangsel kaya ayah bundanya, alias boyongan for good. Tapi, manusia memang cuma boleh punya rencana, eksekusinya mah gimana Allah aja. Mungkin memang menurut Allah belum waktunya Kynan dibawa pindahan. Then we have no other choice than to postpone it for another month or two, at least sampai kira-kira kondisi keamanan rumah udah mulai kondusif. Untung juga sih kejadiannya pas ga ada orang di rumah. Serem juga kan kalo amprokan sama malingnya. Duh, lebih ga kebayang horornya..

What You Should Do When Your Home Is Being Robbed

In the end of this blabbering curhat post about kerampokan, saya cuma pengen berbagi tips-tips pencegahan, dan kalo-kalo (tapi amit-amit jangan sampe) rumah anda jadi korban perampokan.

Tips berikut mungkin berguna kalau posisinya seperti saya, mendapati rumah sudah dirampok.

  • Don’t touch anything!

Kalo biasa nonton serial CSI atau NCIS mah udah tau kali ya. Biar TKP nya ga rusak dan polisi masih bisa ambil sidik jari pelaku. FYI, mereka cuma mau proses barang bukti yang “belum tercemar”.

  • Segera lapor pihak berwajib

Satpam/Hansip, Pak RT, lebih bagus lagi kalau ada kantor polisi dekat rumah.

  • Foto TKP dan kerusakan yang terjadi

Sebelum TKP diacak-acak orang segambreng yang dateng (dan untuk mencegah juga kalau ada orang lain yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, berniat jahat masuk dan naruh atau ngambil sesuatu dari rumah yang kerampokan) lebih baik kita punya foto-foto TKP untuk bukti awal pelaporan.

  • Identifikasi kehilangan bersama Polisi

Supaya TKP tetap terjaga, sebisanya jangan dulu diobrak-abrik sendiri sebelum polisi datang. Identifikasi kehilangan bisa dilakukan hati-hati tanpa menyentuh permukaan licin yang bisa jadi disentuh pelaku, seperti cermin, gagang pintu, dll.

  • Pray & Stay Sane!

Ga ada yang lebih mujarab untuk menenangkan diri selain berdoa, dan saling menguatkan dengan pasangan. I know it’s horrible, but we still have to move on. Banyak-banyak istigfar, dan berdoa.

Ada banyak cara juga untuk mencegah niat jahat orang lain untuk merampok rumah kita. Cara-cara preventif ini, mudah-mudahan bisa membantu kita menghindari bahaya perampokan.

  • Tingkatkan keamanan rumah

Kalau pintu dan jendela rumahmu belum punya teralis besi, pasang! Yang penting kita udah ikhtiar, meskipun orang jahat sekarang tekniknya makin canggih dan aneh-aneh.

  • Pasang lampu dengan fitting sensor otomatis

Pelajaran berharga dari kejadian kemarin, adalah ini. Kata polisinya, perampok biasanya melihat rumah kosong atau ngga dari lampu. Kalau lampunya siang-siang nyala, itu jadi tanda jangan-jangan rumahnya kosong.

  • Waspada kalau ada batu yang dilempar ke dalam rumah

Kata polisi, itu juga jadi salah satu modus perampok untuk melihat ada orang atau tidak di dalam rumah. Dia akan coba dengan melempar batu ke jendela, sekali, dua kali, untuk ngeliat ada atau ngganya reaksi orang dari dalam rumah.

  • Bawa serta kunci kendaraan kemana pun meskipun kendaraan disimpan di rumah
  • Simpan kunci mobil dekat jangkauan saat tidur

Kalau-kalau kita menyadari ada pergerakan mencurigakan di luar rumah, nyalain alarm mobil supaya tetangga pada bangun. Alarm mobil bisa jadi semacam panic button.

  • Pasang CCTV

Di masa kriminalitas merajalela kayak sekarang, kayanya emang udah jadi suatu keharusan deh pasang CCTV ini. Penting-ga penting sih sebenarnya. Apalagi kalau punya anak kecil di rumah. Lebih bagus lagi kalau CCTVnya bisa dipantau online dari mana aja.

  • Berdoa dan kunci kamar rapat-rapat sebelum tidur

Kita ga pernah tau apa yang terjadi, tapi lebih baik kita tidur dengan kondisi kunci kamar terkunci.

  • Simpan nomor kontak kantor polisi terdekat

In case ada emergency ketamuan rampok, atau orang mencurigakan, kita bisa langsung telpon ke polisi, supaya polisinya segera dateng. Daftar nomor telepon kantor polisi dan nomor penting lainnya di DKI Jakarta dan Jabodetabek bisa dilihat di sini.

Di setiap musibah, Allah memang selalu memberikan kita hikmah untuk direnungkan dan disyukuri. Ibarat shock therapy, alhamdulillah, Allah masih menyayangi keluarga kami. Nominal kehilangan dan kerugian masih sebatas kerugian materi, insya Allah masih bisa dicari lagi. Lewat kejadian ini, saya jadi inget lagi kata-kata Teh Icha, teteh mentor agama saya dulu jaman masih SMA.

“Berprasangka baiklah sama cobaan dari Allah. Tanpa kita sadari, cobaan itu sebenarnya tanda sayang Allah buat kita, supaya kita tetap berada di jalan yang benar.”

Aamiin. Semoga. Waspadalah, waspadalah, waspadalah..

Stay safe, everyone!

Advertisements

Author:

a proud wife. a happy mom. a journalist. an eager learner. mahmud abas : mamah muda anak baru satu. pujaan hati Tri Mujoko Bayuaji. former genetician. intellectually scientist, emotionally journalist. BI ITB'06. a runner and (still) a Sennheiser-junkie. any inquiry? don't hesitate to contact me at nuzulyasafitri@gmail.com.

One thought on “Ketika Kami Jadi Korban Perampokan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s