Posted in catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita.., ODOPfor99days2017

Cara (Jurnalis) Mengenal Hoax, FYI.

“Innalillahi wa’inna illahi roji’un, telah berpulang ke rahmatullah satu lagi Putra terbaik Bangsa Indonesia. Turut berduka cita yang paling dalam atas wafat-nya Bp. BJ HABIBIE  di Jerman karena sakit semoga Beliau husnul khotimah di ampuni semua dosa-nya di berikan tempat terbaik di sisi Nya. Aamiin.”

Mata masih 5 watt sambil nunggu kereta pagi, mendadak melek liat pesan Whatsapp ini di salah satu grup. INNALILLAHI. Saya langsung gelagapan buka portal online. Entah udah berapa kali, Presiden ketiga kita itu digosipkan meninggal. Apakah kali ini benar-benar kejadian?

Tak ada satupun berita yang saya temukan. Saya panik. Di grup-grup jurnalis pun, teman-teman banyak yang saling bertanya. Kalau benar, itu artinya Breaking News ada di depan mata. Ini berita besar. Tak boleh ada kata terlambat untuk TV berita mana pun. Kecepatan dan akurasi itu nomor satu. Saya pun mencoba langsung mengkonfirmasi dengan mengirimkan pesan singkat ke nomor Pak Rubi, Sekretaris Pribadi pak Habibie.

Tak ada jawaban. Sesekali saya coba telpon, juga ga diangkat.

Tak perlu waktu lama, tiba-tiba beredar pesan yang mengkonfirmasi kabar duka berulang itu di grup-grup jurnalis. Hehe, barangkali Pak Rubi repot menjawab satu-satu pertanyaan wartawan yang masih pagi buta mendadak membanjir kayak air bah.

Bapak/Ibu Yg Baik Budi & Yg kami hormati.
Mohon disimak baik2 berita Republika Edisi Rabu 4 Jan 2017 pd hal 1 paling atas ” Catatan 24 tahun Republika : Menyimak Berita Bercampur Hoax.”
Bersambung ke hal 2 :

Pojok kiri atas ” Mantan Presiden RI BJ. Habibie Meninggal.”
Berita ini sepenuhnya tdk sesuai fakta dan dimuat sebagai bagian dari Kampanye Republika MELAWAN HOAX.

Pada kesempatan kali ini Republika ingin berbagi dgn pembaca untuk merasakan pengalaman mengikuti berita yg bercampur HOAX.

Dalam era banjir Hoax seperti ini prinsip2 kerja jurnalistik dlm menyebarkan berita harus terus ditegakkan.
Sehingga dgn beredarnya berita di Medsos hari ini Rabu 4.1.2017, dan banyaknya klarifikasi berita bhw Bp B.J. Habibie meninggal dunia di Jerman.
Maka saya Rubijanto, Sespri Bp. BJH, mengkonfirmasikan bhw BERITA TSB TDK  BENAR ADANYA / BERITA HOAX.
Atas perhatian Bapak/Ibu kami haturkan terima kasih.

Wass, Rubijanto

M/WA : 08111 611 689

Jkt. 4.1.2017.

Usut punya usut, ternyata kehebohan nasional pagi ini dipersembahkan oleh sebuah artikel di Koran Republika, tanggal 4 Januari 2017.

whatsapp-image-2017-01-04-at-14-10-36
Artikel Berita Hoax di Koran Republika 4 Januari 2017

Haha, sumpah cara mereka membuat kampanye anti-hoax sungguh out of the box. Salut! 😁

Padahal ya, kalau diperhatikan baik-baik, dibaca dengan jelas, teliti, dan seksama, ada banget loh, tulisan BERITA HOAX di pojok kanan artikel itu. Yet, still, sampe sore pun saya masih aja nerima pesan Whatsapp berisi ucapan belasungkawa berpulangnya Pak Habibie (ya Allah, semoga beliau berumur panjang dan sehat selalu.. Kesian ini udah ketiga apa keempat kalinya ya, digosipin meninggal mulu..)

Ini adalah salah satu bukti, bahwa orang Indonesia jaman sekarang ini kebanyakan (ga semua loh yaa, saya masih optimis kok) tidak cermat membaca dan malas verifikasi.

Mungkin di era digital dan jurnalisme warga yang canggih sekarang ini, bisa jadi yang paling pertama yang menyebar berita tu berasa keren dan eksis gimana gitu kali ya. Jadi kalo dapet informasi atau link berita berisi sesuatu yang bombastis, yang kadangkala yang heboh cuma headlinenya doang, ga diklik, dibaca dulu, dicermati dulu sumbernya dari mana, ga pake gugling dulu liat kanan kiri, langsung klik tombol ‘share‘, ‘repath‘, ‘retweet‘, ‘regram‘, ‘broadcast‘ dan kawan-kawannya. Makin banyak yang ikutan nge-‘share‘ konten yang kita teruskan, atau kita posting, berasa makin bangga. Padahal, seringnya yang nge-‘share’ ga tau validitas sumber informasinya.

Asli sumpah ini bahaya banget. Sadar atau tidak, informasi sekarang jadi mudah dibuat, disebarluaskan dan dipercayai oleh orang banyak. Sering saya temukan headline-headline berita berjudul bombastis, tapi pas ditelusuri, ternyata itu berasal dari situs pribadi berbayar, yang ga punya informasi dewan redaksi, kontak ataupun alamat yang jelas. Artikel-artikelnya pun banyak yang anonim.  Entah siapa yang nulis. Atau, yang paling sering saya temui, headline sama isi berita ngga nyambung dan ga ada kutipan wawancara di dalam badan beritanya. Ibarat makan durian kopong, tajem luarnya tapi ga ada isinya.

Ya Allah, aku berlindung padaMu dari informasi-informasi hoax yang terkutuk.

Tips mengenali berita hoax

Kuncinya cuma satu : IQRO. Bacalah. Mengenal berita hoax itu gampang kok sebenarnya. Perhatikan deh ciri-ciri berikut :

  1. Menggunakan judul yang “alay” dan bombastis
Hasil gambar untuk berita hoax lucu
Contoh berita hoax (Sumber : sicumi.com)

Contoh  lainnya : “Terungkap! blablabla..”, “Islam Agama Teroris: Jauhkan Anak Anda dari Masjid”, “AWAS, Ada Gerakan Kristenisasi di Balik Sunatan Masal”, dll.

Isi berita hoax itu biasanya too good to be true atau too bad to be true. Memang isi beritanya, ada kemungkinan benar, tapi isinya terlalu sempurna, atau terlalu mengagetkan.

Waspadalah, kalo menemukan judul berita yang agak-agak alay, banyak pake tanda seru, dan bernada provokatif, kita harus curiga kalau itu berita hoax. Kenapa? Seorang jurnalis yang baik, biasanya tidak pernah menggunakan judul yang menyalahi aturan EYD, dan dalam etika jurnalistik, tidak boleh menggunakan judul yang provokatif. Jangan lupa dibaca juga isi keseluruhan artikelnya. Jangan-jangan di dalamnya tidak didukung kutipan asli dari narasumber yang berkaitan, persis kaya si durian kopong itu tadi.

2. Mengutip pendapat ilmuwan fiktif

Nah ini, sering banget nih, terutama untuk hoax yang berkaitan dengan sains dan kesehatan. Kadang saya suka sebel kalo nerima broadcast aneh-aneh yang ujungnya ada kutipan kaya gini.

Profesor Carl Michael dari University of Witcounsin Amerika mengatakan bahwa kandungan yang ada pada kulit duren yang dipanaskan dengan matahari selama 3 hari bisa membantu menurunkan berat badan.

Langsung deh cek ke Google Scholar (scholar.google.com) , cari nama ilmuwannya, dan universitasnya. Udah mah namanya ga bener, universitasnya juga ga ada. Apalagi jurnal aslinya. 

3. Sumber berita dari blog yang tidak familiar dan bukan media resmi

Link-link berita dari sumber yang aneh-aneh juga sering menyebar di media sosial. Kadang dari blog, atau website, bahkan dari akun Facebook atau Twitter yang namanya nggak jelas, foto-fotonya anonoh dan lain-lain. Langsung tutup browser deh kalo ketemu yang kaya gini, bahayanya mereka juga bisa nyebar virus. Lebih baik baca informasi yang bersumber dari media nasional yang resmi atau website yang punya kredibilitas dan berbadan hukum. Meskipun setiap media juga punya kebijakan redaksi sendiri-sendiri (bahasa jurnalistiknya : angle berita) terhadap satu peristiwa yang sama, setidaknya beritanya bisa dipertanggungjawabkan di depan publik, dan tertera siapa jurnalis peliputnya.

4. Berita bernada menyudutkan hanya dari satu pihak

Seorang jurnalis yang kredibel, seharusnya mematuhi kode etik jurnalistik dengan menjaga asas cover both side dalam membuat berita. Haram hukumnya bagi seorang jurnalis yang baik langsung menyebar berita, khususnya jika menyerang atau mengkritik pihak tertentu, tanpa sebuah kajian atau riset yang mendalam (yang disertai sumbernya), atau tanggapan dari pihak lawan yang berkaitan.

5. Lebih banyak kalimat opini daripada fakta

Contoh : Lead (kalimat awalan) berita ini saya kutip dari sebuah blog yang penulisnya anonim. Link sengaja tidak dicantumkan supaya ngga jadi kontroversi.

JAKARTA – Ratusan ribu hingga satu juta massa umat Islam mendatangi Istana ehhh malah Presidennya pergi.

Jurnalis yang baik mah mana mungkinlah pake kata ‘ehhh’ di dalam kalimat berita. Hati-hati, banyak juga berita asli yang lebih banyak ‘bumbu’ daripada faktanya. Kita harus curiga kalau membaca konten berita yang tendensius seperti itu.

Langkah Mencari Kebenaran Informasi

Sebelum membagikan informasi apapun, ada baiknya (bukan ada baiknya lagi sih, udah seharusnya) kita cek dulu kebenaran informasi itu. Cara-cara berikut biasanya saya lakukan kalau penasaran untuk mengecek suatu kabar yang harus saya liput.

  1. Please, Google it!

Sebuah informasi yang valid dan sesuai dengan kebenaran dan fakta, pasti akan tercatat dalam laman-laman berita media besar yang kredibel. Biasanya lagi, akan ada lebih dari satu media yang memberitakannya. Meskipun setiap media memang punya sudut pandang atau kecenderungan (angle) berita menurut kebijakan redaksi masing-masing, tapi kita bisa memperkaya diri dengan informasi dari beberapa media, sekaligus meng-cross check berita tersebut. Misalnya, kita denger nih, katanya pejabat A korupsi. Google pasti akan ngasih banyaaaaak sekali angle berita yang akan memperkaya pemahaman kita tentang kasus itu (kalau emang bener si A korupsi). Asal mau baca dan nyari aja. Kalo baru denger katanya-katanya udh langsung di-share padahal infonya salah, nah loh, bahaya kan… bisa kena UU ITE nanti.

Untuk mencaritahu berita yang memuat gambar, Google juga menyediakan fitur Google Image sebagai petunjuk darimana pertama kali gambar tersebut berasal.  (Cara lengkapnya, silakan lihat di sini).

2. Konfirmasi!

Di jaman canggih sekarang ini, mudah kok kalau mau konfirmasi apapun. Hampir semua orang bisa dijangkau lewat sosial media. Ga perlu tahu nomor ponsel pribadinya, bisa tanya lewat Twitter atau Facebook, atau Instagram. Bisa sms atau telpon sendiri lebih bagus lagi. Masalah dijawab atau tidak, itu urusan belakangan, yang penting kita sudah berusaha. (Heu, biar tau rasanya jadi wartawan yang sering ga diwaro sama narasumber judes yang lagi bermasalah.. Mang enak. :-D)

3. Periksa sumber!

Jurnalis yang baik, biasanya mencantumkan sumber tulisannya, atau mencantumkan namanya, sebagai penulis berita tersebut. Gunanya, supaya bisa di-traceback sekaligus melihat kredibilitas si penulis berita itu. Kecuali yaa, kecuali kalau tulisan itu cuma opini pribadi. Ingat, OPINI BUKAN FAKTA lho. Tapi opini yang berulang-ulang disorot dan terus-terusan didengungkan, lama-lama jadi bisa dianggap sebagai fakta, padahal cuma opini. Jangan sampai juga kita jadi bagian dari orang yang ‘tertipu’, dan ikut menyebarkan ‘tipuan’ itu.

Nah, kalau kita ketemu artikel yang seringnya sok-sok ilmiah, lengkap dengan istilah-istilah aneh,  ada baiknya kita cek juga jurnal ilmiah/akademis yang terkait. Bisa pakai Google Scholar dan Google Books. Cermati nama ilmuwan yang dikutip dalam artikel. Ada dan nyata beneran ga tuh, orang dan risetnya. Jangan sampe udah kepalang makan kulit duren kering kerontang karena mau kurus, ternyata informasinya cuma hoax.

Mengapa kita tidak boleh menyebar berita hoax

 

 

Pasal 27 ayat 3 UU ITE No. 19/2016 hasil revisi yang baru berlaku 28 November 2016 kemarin, menyebut melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.

Di pasal 35 UU ITE yang baru itu, bahkan disebutkan hukuman untuk mereka yang menyebar (ga cuma yang membuat lho ya) informasi palsu atau hoax bisa dijerat 12 tahun penjara.

Syerem kan yak. Basically, ini juga yang membuat kami, para jurnalis sangat berhati-hati dalam membuat dan menyebarkan berita. Selain memang kerja kami dipagari oleh Kode Etik Jurnalistik, kami juga punya tanggung jawab moral agar pemirsa bisa tercerahkan dan ga jadi mislead.

Satu lagi alasan kenapa kita ga boleh (dan harus berusaha mencari tahu) agar tidak ikut menjadi penyebar hoax & fitnah adalah bukan cuma hukuman di dunia, adalah dosa di akhirat, sama dengan makan bangkai saudara sendiri. Naudzubillah.

 

Advertisements

Author:

a proud wife. a happy mom. a journalist. an eager learner. mahmud abas : mamah muda anak baru satu. pujaan hati Tri Mujoko Bayuaji. former genetician. intellectually scientist, emotionally journalist. BI ITB'06. a runner and (still) a Sennheiser-junkie. any inquiry? don't hesitate to contact me at nuzulyasafitri@gmail.com.

One thought on “Cara (Jurnalis) Mengenal Hoax, FYI.

  1. Tulisannya bagus banget :). Kalau soto mah, ini daging semua, hehehe.

    Thank you for writing this 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s