Posted in catatan seorang jurnalis, dari kacamata njul.., njul cerita-cerita..

CHALLENGE ACCEPTED — another story of my journo life #1

Hare geneeee, siapa coba sebagian besar generasi bekerja masa kini yang ngga melakukan runtutan berikut ini : bangun pagi, pergi ke kantor, sampai habis hari, pulang, dan tidur. Repetisi dari Senin sampai Jumat, 5 dari 7 hari dalam seminggu.

Mungkin saya harus bersyukur. Rutinitas yang saya jalani setiap hari, agak berbeda dari generasi bekerja pada umumnya.

Well, saya juga pergi ke kantor kok setiap pagi. Tapi hanya untuk baca koran, diskusi sebentar sama bos, dan ambil surat jalan.

Kalau anda-anda menghabiskan sisa hari di kantor, saya menghabiskan hari di jalan. Buat saya—dan mungkin sebagian besar teman-teman jurnalis lainnya, ya jalanan itulah kantornya. Bedanya, saya ngga punya komputer, meja, atau kubikel sendiri. “Fasilitas” bekerja saya, adalah mobil—beserta pilotnya, kameramen, dan gadget apapun yang bisa dipake internetan sambil berjalan.
Kalau anda-anda cuma bisa lihat pemandangan dari balik jendela gedung puluhan lantai, beruntungnya, mungkin apa yang bisa saya lihat dan temui, jauh lebih beragam dari itu. 😀

Saya pikir semua sepakat, kalau rutinitas itu berpotensi besar mengakibatkan kejenuhan.

Tapi bukan, bukan itu yang mau saya ceritakan.

“Kantor” baru saya..

Jadi gini. Kurang lebih beberapa bulan ke belakang ini, saya menjajal rasa rutinitas yang berbeda, yang kadang bikin saya kangen berkantor di jalan lagi seperti dulu.

Gimana ngga, kantor saya sekarang “pindah” ke Senayan.
Ya, pindah gedung wakil rakyat kita yang terhormat, yang bentuknya ada yang sebagian bilang mirip kura-kura, ada juga yang dengan kemampuan imajinatif lebih tinggi bilang mirip pantat Hulk, karena atap kembar hijaunya itu—cik coba, tilik sendiri, mirip apa cing? heu..

Bukan sebagai anggota DPR boo’, pastinya. Apalagi jadi staf ahlinya. Ngga, ngga, ngga merasa cukup cantik saya untuk jadi staf ahli atau asisten pribadi anggota dewan yang mostly berkaki jenjang, mulus, cantik-cantik tapi menurut saya agak meragukan isi otaknya itu. Bukan.

Kalo kata abang-abang mantan bos saya—yang sekarang sudah jadi produser—, istilah gayanya saya sekarang adalah : WARTAWAN UTAMA DPR.

Pertama kali saya tahu kalo saya yang ditunjuk menggantikan posisi orang yang sekarang jadi bos saya—abang-abang yang lainnya, karena abang mantan bos saya itu sudah jadi produser—yang notabene sangat cerdas, dan kemampuan penetrasi narasumbernya—menurut saya—paling numero uno se-redaksi RCTI itu, rasanya saya seperti kena petir di siang bolong.

I was like, “Duuuude, bisa apa gueeeee?”

Proudly admit, I’m absolutely a moron compared to him in politics..

Kenapa gue yang ahli genetik ini yang malah disuruh ngurusin politik?
Seumur-umur masuk RCTI, sudah bidang inilah yang paling saya takuti—dan jujur, hampir saya benci. Gimana ngga? Cing, gue adalah generasi yang tumbuh besar dengan infotainment, how can i ever have any adequate knowledge about politics?

Okelah.
Berbekal keyakinan pada surat Al-Baqarah ayat 286¹ ..

 fine,  CHALLENGE ACCEPTED.

Berpindah “kantor”, buat saya berubah pula tantangannya. Kalo di jalanan, bisa bertemu segala macam lapisan orang, eh, orang dari segala lapisan masyarakat maksudnya. Sekarang, jadi cuma bisa ketemu lapisan crémé dé la crémé nya doang. Menteri dan anggota DPR, segala macam bentuk, tingkah, dan variasi, jadi makanan sehari-hari.

Ada tuntutan besar yang selalu menghantui, ketika keberhasilan liputan setiap hari tidak lagi bertumpu pada gambar yang bagus, indah, dan berstandar National Geographic Channel. Kenapa? Di DPR itu, semua orang bisa ditanya. Semua orang mau masuk dalam media publikasi manapun—kecuali sedang bermasalah, kaya Angelina Sondakh, atau Anas Urbaningrum, lain lagi ceritanya.

Dalam berita politik, senjatanya adalah kutipan asli, alias kata-kata yang keluar dari congor mereka. Selain harus cerdas memilih dan memilah —baca : meramalkan jawaban orang berdasarkan posisinya dalam konstelasi politik, siapa orangnya siapa— congor mana yang dipilih sebagai corong informasi, pertanyaan yang bagus juga menjadi senjata yang nggak kalah penting lainnya. Seperti kata bos saya sekarang..

Pengetahuanmu, amunisimu.

Dulu mungkin saya nggak begitu paham bagaimana implementasinya di lapangan. Sekarang, without sufficient knowledge, you are nothing. Jangan harap bisa dapat quotation yang bagus. Dan, buat saya haram hukumnya pergi ke DPR ga pake nyisir headline semua koran dan online portal.

Ada satu hal yang bikin saya agak geli ya, ketika masuk ke dunia baru ini. Berkaitan dengan gender, dan cukup membantu ketika saya butuh bantuan atau informasi tertentu, but I’ll save it for my next post.

Intinya, apapun yang kita hadapi dalam hidup ini, selalu terselip pelajaran-Nya. Ibarat sekolah, mungkin ini adalah waktunya saya ujian, untuk naik ke kelas berikutnya, yang tantangannya lebih sulit lagi. Tapi, satu hal yang saya syukuri sekarang, adalah kepercayaan yang sudah diberikan untuk bisa menjalani ujian ini. Buat saya, selain jadi ajang pembuktian diri, ini bisa jadi cerita baru untuk adik-adik kelas saya sesama pemegang ijazah Gajah Duduk sejati lainnya. Men, jangan mau lah dijuluki Institut Teknologi Bank…  *heu*

——————————————–

Notes : ¹) “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” – QS Al Baqarah : 286

Advertisements

Author:

a proud wife. a happy mom. a journalist. an eager learner. mahmud abas : mamah muda anak baru satu. pujaan hati Tri Mujoko Bayuaji. former genetician. intellectually scientist, emotionally journalist. BI ITB'06. a runner and (still) a Sennheiser-junkie. any inquiry? don't hesitate to contact me at nuzulyasafitri@gmail.com.

6 thoughts on “CHALLENGE ACCEPTED — another story of my journo life #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s