Posted in aateulan.., catatan seorang jurnalis, njul cerita-cerita.., sebenarnya..

wanita masa kini (dari sudut pandangnya..)

Inspirasi..

Hmm, memang bisa datang dari mana saja.. Jalan yang ramai, titik-titik hujan yang menetes, putaran kipas angin, sampai obrolan ibu-ibu di gang depan koskosan —tapi ini mah ngga seekstrim itu ketang, tingkat tinggi pisan, heu— meskipun, cerita saya berikut ini, mungkin bukan secara harfiah berasal dari mana saja, melainkan dari seseorang yang saya temui hari ini…

Namanya Windu Triastuti —saya manggilnya Mbak Windu—, seorang wanita matang dan dewasa, yang sedang hamil anak kedua di usia 38 tahun, dalam sebuah perkawinan yang baru saja berlangsung di usianya yang ke-35..

Dalam usia kehamilannya yang sudah mencapai 7 bulan ini, beliau tetap menjalankan tanggungjawab profesinya, yang sama seperti saya, menjadi kuli tinta media elektronik ternama. Padahal, jurnalis sekaliber dirinya, di kantor saya mungkin harusnya sudah menjadi produser senior, tapi ia memilih untuk tetap berkarya bebas di lapangan..

oke, skip that part, bukan disitu bagian inspirasinya—

Mbak Windu pun bercerita tentang pemikirannya…

Wanita masa kini, memang sebagian besar punya kemampuan, mereka tekun dan punya ambisi yang besar untuk bekerja dan sukses di bidang yang mereka geluti. Belum lagi, sekarang sudah jamannya emansipasi, wadah berkarya untuk wanita, ada hampir dimana-mana.. —sepakat—

Untuk wanita-wanita seperti itu, di usia menjelang 30, uang dan kemapanan, mungkin sudah ada di tangan.. Rumah dan pembantu tersedia,  bisa menikmati kesendirian dan bersenang-senang tanpa harus merasa terancam akan status belum berkeluarga, karena banyak teman dan kolega mereka yang memiliki gaya hidup yang sama. —kekhawatiran saya ini, atut jadi gini nanti

Tapi wanita masa kini juga harus merenungi, bahwa seiring dengan kemapanan itu, waktu juga berjalan dan usia terus bertambah.. Belum lagi, seiring dengan tingkat kedewasaan, pemikiran, dan kemapanan yang terus naik, sadar atau tidak, standar untuk menentukan calon pendamping hidup yang tepat, juga otomatis akan meningkat, sehingga tanpa sadar, mungkin wanita masa kini akan cenderung lebih picky dan berhati-hati karena mereka pasti tidak mau salah pilih.. Pernikahan itu seumur hidup, dan pastinya tidak ada yang mau mengorbankan sisa hidupnya hanya untuk menderita bersama orang yang salah..

Wanita itu, seharusnya menikah diatas 25 tapi tidak diatas 30.. Yang celakanya adalah, untuk jurnalis wanita —seperti kami— tanpa sadar standar pilihan itu bisa jadi lebih naik lagi, karena bertemu orang-orang berpemikiran maju dan pandai sudah jadi makanan sehari-hari. Pastinya, sedikit banyak, ada harapan ingin memiliki pasangan hidup yang sepintar dan sedewasa para narasumber itu, tetapi ingin yang usianya sepantaran kita. Padahal mereka juga berproses pada usianya, dan agak mustahil menemukan yang pola pikirnya sematang itu, kecuali memang mencari yang jauh lebih tua.. —harus cari yang lebih tua jauh gitu ini teh Mbak?—

Urusan pilih memilih ini, —nah ini diaaa..— ada 2 hal yang penting :

1. Tampang bukanlah hal yang utama, yang penting, orangnya memang punya “bibit” jadi orang baik.

Untuk apa kita menyiksa diri mencari yang good-looking tapi harus sakit hati karena dia doyan selingkuh?  —oke Mbak, i’m with you..—

2. Cari yang memang ingin dan bisa berkomitmen dengan dirimu.

Dengan keinginan berkomitmen itu, maka seorang pria akan mulai berusaha untuk membangun masa depannya bersama kamu, dan menerimamu apa adanya, satu paket. Dia harus bisa menerima dirimu, keluargamu, pekerjaanmu, keadaanmu, semuanya.. Kalau hanya sebatas, “Sudah makan belum?” atau “Mau dijemput dimana, jam berapa?” sih, anak ABG juga bisa.. —oh, see how you can read me, Mbak..

Jika ada pria yang tiba-tiba datang dalam kehidupan kamu dan dia banyak mengaturmu —yang notabene jam kerjanya tidak teratur dan sering begadang, pergi kemana saja, dan dengan siapa saja—, dan dia tidak suka kamu begitu, bilang aja, “Hey, siapa kamu, dateng-dateng belum jadi siapa-siapa udah berani ngatur-ngatur hidup saya!“.. Dan sudahlah, yang begitu lebih baik ditinggalin aja daripada jadi masalah di kemudian hari….

Apa yang ada di pikiran Mbak Windu mungkin memang betul adanya..  Sepanjang jalan pulang dari Ma’arif Institute tadi siang, membuat saya jadi berpikir.. Apakah betul, standar saya sebegitu tingginya? Atau kah saya yang (belum) masuk hitungan standar siapapun?

Advertisements

Author:

a proud wife. a happy mom. a journalist. an eager learner. mahmud abas : mamah muda anak baru satu. pujaan hati Tri Mujoko Bayuaji. former genetician. intellectually scientist, emotionally journalist. BI ITB'06. a runner and (still) a Sennheiser-junkie. any inquiry? don't hesitate to contact me at nuzulyasafitri@gmail.com.

3 thoughts on “wanita masa kini (dari sudut pandangnya..)

    1. hadaaaahh, bahasamuu jooo..
      kamanaaa atuuh –> hatinya sulit ditengarai.. LOL
      well, simple kok sebenarnya, tinggal ditanya aja.. 🙂
      terlalu banyak dipikir, terlalu banyak logika, lama-lama jadi bingung sendiri, ngga maju-maju..
      kalo sebenarnya mudah, kenapa harus dipersulit?
      *ngomong aja mah gampang njuuull* 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s